
“Ceritakan padaku, kenapa netral justru artinya tidak punya keberpihakan?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Alina sore kemarin. Ia menyampaikannya sambil santai mengganyang kacang rebus. Saat itu, kami sedang duduk melingkar di antara warga dalam agenda Galang Warga yang baru saja lewat di Dongeng Kopi.
Mendengar pemantik yang cukup “berat” tapi seksi itu, si tukang cerita di kedai kami langsung membetulkan posisi duduknya. Sebagai wadah yang bergerak sebagai komunitas kopi dan literasi, kami selalu menyukai pemikiran yang menantang seperti ini.
Sebuah hikayat klasik dari tanah Arab pun meluncur, mengalir bersama aroma kopi yang mengepul dari meja seduh. Kisah ini membedah sebuah premis lama: apakah menjadi netral itu benar-benar sebuah kebijaksanaan, atau jangan-jangan cuma bentuk halus dari sikap oportunistik?
Ketika “Netral” Menjadi Kedok Kenyamanan
Alkisah, tersebutlah Imru’ al-Qais, seorang penyair besar Arab pra-Islam. Kerajaannya baru saja direnggut lewat tumpahan darah yang kejam. Dengan memikul kehilangan yang teramat sangat, ia berjalan tegap melintasi padang Najd. Di tangannya ada pedang yang berkilat, dan di bibirnya ada bait-bait syair yang bergetar penuh tekad.
Di sebuah persinggahan, langkah sang penyair dihentikan oleh seorang pedagang kaya. Wajah pedagang itu tampak teduh sekali dan suaranya tenang. Ia adalah tipe orang mapan yang hidupnya aman karena tidak pernah dipaksa untuk memilih pihak.
“Mengapa kau bersusah payah berperang dan membalas dendam?” tanya si pedagang dengan nada menggurui. “Lihat aku, aku berdagang dengan semua pihak, dan hidupku sejahtera. Netralitasku adalah kebijaksanaanku.”
Imru’ al-Qais menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap pedagang itu dengan tatapan yang dalam—tajam tanpa berniat melukai, dalam tanpa menenggelamkan.
“Kau menjual barang kepada pembunuh ayahku,” kata Imru’ al-Qais perlahan, “dan kau juga menjualnya kepada keluargaku yang kehilangan. Kau menyebut tindakan itu sebagai kebijaksanaan?”
Bayang-Bayang di Balik Sikap Diam
Sang penyair menarik napas sejenak, membiarkan angin padang pasir berdesir rendah. Ia lalu melontarkan kalimat yang kelak menjadi lebih tajam dari mata pedangnya sendiri.
“Aku menyebutnya lain,” lanjut Imru’ al-Qais. “Kau memang membantu kedua belah pihak. Tetapi ingat, pihak yang lebih kuat dan berkuasa akan selalu membeli lebih banyak darimu. Dengan uang yang kau terima, mereka mengasah pedang yang lebih tajam.”
Ia melanjutkan dengan tegas, “Ketika pedang itu kembali dihunus untuk menindas, mereka sebenarnya telah memilih pihak—lewat tanganmu.”
Seketika, sunyi yang panjang menyergap tempat persinggahan itu. Pedagang itu terdiam seribu bahasa. Mungkin, untuk pertama kalinya dalam hidup, ia menyadari sesuatu hal. Kesejahteraan “netral” miliknya ternyata menyisakan bayang-bayang kelam bagi orang lain.
“Netralitasmu itu bukanlah tempat berdiri,” pungkas Imru’ al-Qais. “Itu hanya cara halus untuk menghindar agar tidak berdiri di mana pun. Dan karena ketakutanmu itu, secara tidak langsung kau sedang berpihak pada siapa pun yang paling kuat.”
Tidak Punya Musuh Tidak Punya Kawan Sejati
Malam pun turun di padang pasir. Di bawah langit malam dan di antara bintang-bintang yang menggantung seperti ingatan, Imru’ al-Qais menorehkan syairnya. Sebuah gema abadi yang kelak digantung di dinding Kakbah sebagai Mu’allaqah:
“Barangsiapa tak memiliki musuh, ia pun tak memiliki kawan sejati! Sebab ia tak pernah sungguh berdiri, di mana pun, untuk apa pun.”
Obrolan sore di Galang Warga kemarin akhirnya menyadarkan kita yang hadir di Dongeng Kopi. Bahwa dalam hidup, ada kalanya mengambil sikap adalah sebuah keharusan yang mutlak. Menjadi netral sering kali hanyalah cara aman untuk menyelamatkan diri sendiri sambil membiarkan yang lemah digilas oleh yang kuat.