
Di satu sudut Dongeng Kopi, kedai kopi yang berada di pinggiran kabupaten sisi timur Sleman ini, Alina hampir selalu terlihat duduk sendirian setiap sore. Cangkir kopi di hadapannya jarang segera habis. Lebih sering kopi itu dibiarkan mendingin, sementara pikirannya sudah larut terbang ke dalam lembar demi lembar buku bacaan dari Pustaka Taman Baca Alimin.
Para warga @kerep.dolan akrab mengenalnya sebagai “Si Paling Tekun”. Alina belajar sendiri, menakar pengetahuan seperti seorang barista menakar gula: pas, terukur, dan tanpa banyak fafifu.
Dari kedisiplinan itulah Alina tumbuh menjadi orang yang pandai. Jawaban-jawaban atas berbagai urusan tersusun rapi di kepalanya, persis seperti jajaran toples biji kopi di atas meja seduh kami. Ia juga punya aturan personal yang sakral: selalu pulang sebelum Maghrib, tanpa kecuali.
Ketika Malam Mengubah Suasana Kedai
Dari siang menuju sore, Sasana Krida Dongeng Kopi di Kalasan ini memang menjadi ruang diskusi dan literasi yang tenang dan teduh. Namun, begitu malam turun, atmosfernya berubah total. Kursi-kursi mulai digeser, orang-orang datang, lalu duduk melingkar.
Di sinilah percakapan warga mulai mengalir. Kadang-kadang nadanya meninggi, renyah sekaligus tajam seperti angin malam yang sesekali menghentak pintu dan jendela kedai.
Dalam lingkaran itu, warga tidak selalu sepakat. Ada yang bersikukuh dengan argumennya, ada yang memilih mengalah, ada pula yang diam menimbang tanpa harus memutus kesepakatan saat itu juga.
Saya yang berada di balik meja seduh hanya terus menuangkan air panas ke atas filter kopi, sambil membatin: warga @kerep.dolan ini sebenarnya tidak cuma butuh minuman yang pas. Lebih dari itu, mereka butuh sebuah ruang aman untuk mengulas berbagai topik yang panas.
Titik Balik di Lingkaran Diskusi
Hingga pada satu malam, sebuah “kecelakaan kecil” terjadi. Alina pulang lewat Maghrib karena ia bablas. Tanpa sengaja, ia justru ikut duduk di tengah lingkaran diskusi agenda Galang Warga yang sedang berlangsung seru.
Awalnya, dengan modal kepandaian dan tumpukan teori yang sudah dia lahap sendirian dari buku, Alina berharap akan menemukan penguatan atau validasi di dalam diskusi tersebut. Namun, realita di lapangan justru berbicara lain.
Yang ia dapati di dalam lingkaran warga bukanlah pembenaran, melainkan rentetan pertanyaan baru yang tidak mau tunduk pada satu jawaban mutlak saja. Saat itulah, Alina mendapatkan sebuah tamparan kesadaran yang lembut.
Ia mulai mengerti bahwa pengetahuan yang dikumpulkan dan dikunyah sendirian di menara gading sering kali tidak selalu ramah atau cocok bagi realita hidup orang lain. Malahan, teori-teori baku itu kerap patah ketika berhadapan dengan kompleksitas sosiologis warga.
Belajar Mengendapkan Ampas Perbedaan
Sejak malam yang “bablas” itu, Alina mulai berubah. Ia belajar cara mendengar dengan utuh. Ia mulai menahan ego untuk tidak lekas-lekas menjadi paling benar di antara yang lain.
Alina memilih membiarkan perbedaan pandangan tinggal lebih lama di kepalanya, seperti ampas kopi tubruk yang dibiarkan mengendap dengan tenang di dasar cangkir sebelum diseruput. Dari proses pengendapan itulah ia akhirnya memahami sebuah rahasia besar: kebijaksanaan tidak pernah lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan kita untuk merawat perbedaan.
Maka tidak berlebihan jika tempat kita ini menyemat nama Sasana Krida; sebuah ruang latihan bagi pikiran dan sikap. Orang-orang datang ke Dongeng Kopi bukan untuk dipaksa menjadi sama, melainkan latihan untuk bisa tetap bersama.
Dan di sudut kedai malam itu, akibat pulang lewat Maghrib, perlahan Alina telah lahir kembali. Melalui ruang diskusi dan literasi ini, ia bermutasi: dari seorang yang sekadar pandai, menjadi manusia yang bijaksana.