
Sore itu, di serambi belakang kedai, suara seorang cendekiawan rakyat memecah kesunyian. Ia tidak sedang berceramah, melainkan tengah mendongeng di hadapan warga yang melingkar.
Lantunan Tembang Pucung pun meluncur pelan dari bibirnya:
“Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese dur angkara…”
Ia diam sejenak, memberikan ruang bagi rima-rima Jawa kuno itu untuk mengendap dalam benak siapa pun yang mendengar. Kami yang menyimak dari balik meja seduh merasa bait ini membawa pesan mendalam tentang filsafat kopi dan kehidupan.
“Ilmu itu, kawan-kawan,” lanjutnya perlahan, sementara matanya menyapu hingga sudut paling belakang, “bukan barang dagangan yang bisa dibeli lalu disimpan begitu saja di dalam almari. Ia adalah jalan setapak yang mesti diinjak dengan kakimu sendiri.”
Beliau menambahkan, “Ada tuntutan laku, ketekunan yang tak lekang oleh godaan, dan tekad yang sanggup menguatkan tulang punggungmu ketika badai nafsu mengguncang budi.”
Jarak Antara Orang Pandai dan Manusia Bijaksana
Di pojokan, seorang warga tampak tekun mencatat. Kepalanya tunduk, seperti sedang menambang makna dari tiap kata yang meluncur. Sang pemuda di depan hanya tersenyum tipis, persis seseorang yang tahu bahwa benih literasi telah jatuh di tanah yang pas.
“Kalian semua bisa saja mengurung diri di kamar, melahap ribuan buku sampai kepala sesak informasi. Segera kalian akan jadi pandai, itu hampir pasti. Tetapi ingatlah, menjadi pandai itu mudah; yang sulit adalah menjadi bijaksana.”
Pemuda dari kaki Merapi itu lantas mengedarkan pandangan ke sekeliling serambi. Semua orang yang duduk melingkar di Dongeng Kopi Dalangan sore itu berasal dari latar belakang yang berbeda. Ada student, pedagang, hingga pengelana jauh yang entah bagaimana ceritanya bisa terdampar sampai ke Dusun Dalangan.
Wajah mereka tampak asing jika dibandingkan dengan warga lokal yang biasa hadir. Namun, perbedaan latar belakang itulah yang membuat atmosfer ruang budaya kita menjadi semakin kaya.
Kebijaksanaaan yang Lahir dari Gesekan
“Kebijaksanaan tidak turun dari langit begitu saja, Kawan. Ia lahir dari sebuah gesekan. Ia tumbuh ketika kita bersabar menghadapi kawan yang bebal, atau saat merundukkan ego di hadapan pendapat yang berseberangan.”
Cendekiawan rakyat itu menekankan sebuah premis penting, “Kebijaksanaan adalah buah dari perbedaan yang dirawat dengan ketabahan. Ia bukan hasil dari keseragaman yang dipaksakan dengan ancaman.”
Petang pun menjelang, lalu malam perlahan datang. Makin lama, orang-orang yang duduk di lingkaran diskusi agenda Galang Warga kian larut meresapi obrolan. Di akhir wejangannya, menjulur satu kalimat pendek yang menggantung tebal seperti teka-teki.
“Berkumpul itu bukan berarti kita harus menjadi seragam bak barisan bata. Berkumpul adalah keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri, namun tetap mampu bernaung dengan damai di bawah atap kesepakatan yang dibangun bersama.”