
Di Dongeng Kopi Dalangan, kita tidak hanya menyeduh biji kopi pilihan, tetapi juga menampung cerita. Salah satu penutur cerita paling setia di kedai kopi dengan ruang budaya kita ini adalah Mbah Redjo Sentono. Beliau adalah tetua Dusun Dalangan yang kerap mampir untuk ngopi, duduk santai, lalu mendongeng. Kalau beliau sudah mulai bicara, kami yang di balik meja seduh biasanya langsung pasang telinga, menyimak dengan saksama, lalu merawat ingatan itu untuk kami bagikan kembali kepadamu.
Pada momen agenda Galang Warga yang hangat kemarinan, Mbah Jo—sapaan akrab beliau—hadir dan membagikan sebuah lakon wayang yang luar biasa: kisah tentang Bima.
Mbah Jo membuka dongengnya sore itu dengan satu kalimat sederhana yang langsung ngena di dada: “Komitmen itu bukan sekadar kata benda, Le. Komitmen itu kata kerja. Dan acap kali, ia adalah kerja yang paling melelahkan.”
Keberanian untuk Tidak Berpaling dari Janji
Mbah Jo lalu membawa kita masuk ke dalam fragmen hidup Bima. Sebelum pengkhianatan dari musuh-musuhnya sempat menajamkan belati, ada sesuatu yang lebih dulu berdiri tegak di dalam dada ksatria itu: keberanian untuk tidak berpaling dari janji.
Demikianlah Bima. Ketika dia diperintah oleh gurunya, Resi Drona, untuk mencari Tirta Pawitra (air suci kehidupan), kakak dari Arjuna ini tidak bertanya “mengapa”, melainkan langsung bertanya “ke mana”. Bima tidak memerlukan peta yang rinci dan berbelit-belit; ia hanya butuh arah yang pasti.
Menariknya, ketika Drona menunjuk samudra yang luas dan ganas, Bima tetap berangkat. Apakah dia bodoh? Tidak. Bima bukan tidak tahu kalau gurunya itu berpihak pada Kurawa, atau bahwa dirinya sedang dikelabui untuk celaka. Bima tahu persis risiko itu. Namun bagi seorang Bima, memelihara keraguan di dalam dada justru merupakan bentuk pengkhianatan yang paling nyata. Bukan berkhianat kepada orang lain, melainkan berkhianat kepada komitmen dirinya sendiri.
Menaklukkan Naga Pikiran di Dasar Samudra
Cerita Mbah Jo semakin memikat saat Bima tiba di dasar samudra. Di sana, ksatria bertubuh raksasa ini harus bertarung hidup dan mati melawan naga Nabrunawa.
Menurut Mbah Jo, naga itu sebenarnya adalah simbol dari riuh pikiran kita sendiri: kecemasan akan masa depan dan penyesalan atas masa lalu yang kerap menghantui langkah kita. Ketika naga itu akhirnya tumbang, wening (keheningan) pun mengambil alih. Dalam keheningan total itulah, ego Bima yang besar dipaksa mengecil, hingga ia bisa menyelinap masuk ke lubang telinga Dewaruci.
Bayangkan adegan puitis ini: seorang ksatria bertubuh gagah perkasa masuk ke dalam raga kerdil yang justru memantulkan proyeksi dirinya sendiri. Di dalam sana, Bima tidak menemukan air suci fisik yang bisa ditimba ke dalam wadah. Ia justru menemukan keheningan yang hidup.
Bima akhirnya pulang ke bumi Mataram tanpa membawa apa-apa di tangannya. Namun, ia membawa sepasang mata yang baru—sebuah cara pandang hidup yang telah dilahirkan kembali.
Air Suci Kehidupan Itu Ada di Dalam Dirimu
Dari dongeng sore Mbah Jo di lingkaran Galang Warga kemarin, kita semua seperti ditampar dengan lembut. Kita diingatkan bahwa tujuan akhir atau target-target hidup sering kali hanyalah “umpan” dari semesta agar kaki kita bersedia melangkah.
Tirta Pawitra atau air suci yang kita cari-cari selama ini ternyata tidak pernah berada jauh di dasar samudra; ia selalu hadir di dalam diri kita sendiri. Ia ada pada detak dada yang tetap tenang, bahkan ketika badai kehidupan datang menerpa.
Pada akhirnya, seperti yang dibilang Mbah Jo sambil menyeruput kopinya yang mulai dingin: komitmen itu bukan soal pamer siapa yang paling cepat mencapai garis akhir. Komitmen adalah upaya yang tak selesai-selesai untuk menjaga kesadaran diri agar tidak hilang sepanjang perjalanan.
Matur nuwun Mbah Jo atas dongengnya, dan terima kasih warga yang sudah merapat kemarin. Sampai jumpa di lingkaran obrolan berikutnya! Tetap ngopi, ngobrol, dan merawat komitmen bersama di kedai tercinta kita.