Mengendapkan Kebijaksanaan Lewat Hikayat Rumi di Kedai Kopi Bernuansa Sastra

Apa gunanya mengendapkan pengetahuan? Resapi filosofi kopi tubruk dan hikayat Rumi bersama Alina di Dongeng Kopi, kedai kopi bernuansa sastra di Sleman.

“Ceritakan padaku, apa sebenarnya gunanya mengendapkan sesuatu?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Alina. Ia menyampaikannya sembari santai menyeruput kopi tubruk dari lereng Merapi yang masih mengepul. Dari bibir cangkir keramiknya, menguar pekat aroma gula terbakar yang bercampur dengan hawa sejuk sore hari.

Di Dongeng Kopi, sebuah kedai kopi bernuansa sastra yang memeluk pinggiran Kalasan ini, pertanyaan-pertanyaan filosofis semacam itu memang lazim disuguhkan di atas meja, menemani ragam camilan dan kepulan asap kopi.

Mendengar pemantik tersebut, si tukang cerita di kedai kami hanya tersenyum simpul. Ia membetulkan letak duduknya, lalu perlahan membuka sebuah hikayat lama yang bersumber dari khazanah para sufi. Sebuah kisah masyhur yang konon diwariskan dari kebijaksanaan agung Maulana Jalaluddin Rumi.

Gairah Penemuan dan Pertanyaan Sang Guru

Dikisahkan pada suatu masa, seorang murid datang tergopoh-gopoh menghadap gurunya. Wajah pemuda itu tampak menyala-nyala, dibakar oleh gairah penemuan yang meluap-luap.

“Guru,” katanya dengan napas terengah, “aku baru saja memperoleh sebuah pencerahan yang luar biasa. Aku ingin segera berlari dan menyampaikannya kepada semua orang di keramaian pasar.”

Rumi tidak lekas menjawab. Ia menatap mata murid itu cukup lama, seolah hendak menelusuri dan membaca apa-apa yang belum sempat terucapkan oleh lisan sang pemuda. Kemudian, dengan suara yang amat tenang dan datar, Rumi melontarkan sebuah pertanyaan balasan, “Apakah hari ini engkau sudah makan nasi?”

Sang murid mengangguk, sedikit kebingungan. “Sudah, Guru.”

“Lalu, apakah engkau memakannya langsung dari ladang, mengunyahnya dari bulir-bulir padi yang baru saja dipetik?” kejar Rumi.

Proses Laku: Menumbuk, Mencuci, Memasak

Murid itu kembali tersenyum, kali ini dengan raut yang makin bingung. “Tentu saja tidak, Guru. Padi-padi itu harus ditumbuk terlebih dahulu, digiling memisahkan sekamnya, dicuci hingga bersih, lalu dimasak dengan air di atas tungku yang menyala.”

“Nah,” ujar Rumi seraya mengulum senyum yang teduh. “Ketahuilah, begitulah pula sejatinya pengalaman dan kata-kata. Apa yang baru saja kau peroleh hari ini, wujudnya masih berupa bulir padi mentah. Ia belum matang dan belum siap untuk dihidangkan.”

Sang guru lantas memberikan petuah pamungkasnya, “Endapkanlah ia terlebih dahulu. Giling ia dalam perenungan yang sunyi, cuci dalam kejernihan batin, lalu masak dalam keheningan total. Setelah semuanya matang sempurna, barulah ia sah menjadi santapan yang sanggup mengenyangkan dahaga jiwa orang lain.”

Membiarkan Ampas Pengetahuan Turun ke Dasar

Mendengar petuah itu, sang murid pun tertunduk, lalu pulang. Ia memilih laku diam selama empat puluh hari penuh. Ketika akhirnya masa purna dan ia mulai berbicara, hanya ada satu kalimat pendek yang keluar dari bibirnya. Namun, kalimat tunggal yang telah diendapkan itu konon sanggup mengubah jalan hidup dua belas orang yang mendengarnya.

Lakon tentang mengendapkan itu sejatinya tak jauh berbeda dengan kopi tubruk yang ada di hadapan Alina. Ia baru bisa dinikmati dengan paripurna tatkala kita bersabar membiarkan ampasnya turun dan mengendap di dasar cangkir.

Singgah dan tandanglah ke kedai kopi bernuansa sastra kami di Dalangan. Mari pesan secangkir kopi tubruk, dan mari beri ruang bagi riuh pikiranmu untuk mengendap perlahan, merawat kewarasan di tengah zaman yang menuntut kita serba bergegas.