
Sore di Dalangan selalu punya cara sendiri untuk merubuhkan kegelisahan. Ketika matahari mulai condong ke barat, membiarkan bias jingganya menyentuh permukaan cangkir kopi yang mengepul, Alina melempar sebuah tanya. Sebuah pertanyaan yang barangkali mewakili kegelisahan manusia modern hari ini: mereka yang terjebak dalam kultus kesibukan.
“Ceritakan padaku tentang orang-orang yang cuma memanen kesia-siaan karena ingin mengerjakan segala hal sekaligus,” kata Alina kepada juru cerita pada suatu sore yang lebam oleh angin tipis.
Maka, sembari membenarkan posisi duduknya, tukang dongeng itu pun membuka lembaran hikayat tua dari Tiongkok. Sebuah alegori klasik yang agaknya ditulis ratusan tahun lalu khusus untuk menjawab tanya Alina sore itu.
Lanskap Sunyi dan Langkah Zilu
Sore itu, di belahan bumi yang lain dalam catatan masa lalu, ladang terbentang lengang. Angin berembus lirih, menggoyang pucuk-pucuk ilalang yang mulai menguning oleh rengkuhan musim. Di antara hamparan tanah seluas lapang, Konfusius berjalan beriringan dengan muridnya yang paling bergejolak, Zilu. Mereka melangkah perlahan, membiarkan jalan setapak pedesaan menuntun arah kaki.
Namun, kedamaian itu pecah seketika. Dua ekor kelinci melompat keluar dari balik semak belukar yang rimbun. Yang seekor lari ke kanan, seekor lagi melesat ke kiri dengan kecepatan yang sama presisinya.
Zilu, sebagaimana anak muda yang mengira setiap peluang harus disikat dalam waktu bersamaan, tidak berpikir dua kali. Ia segera berlari mengejar. Hasratnya meledak untuk menguasai keduanya.
Mula-mula ia memburu kelinci yang berlari ke arah kanan. Namun, sebelum jaraknya cukup dekat untuk menerkam, hewan itu telah lenyap, melebur di balik rimbunnya rerumputan. Panik karena kehilangan buruan pertama, Zilu berbalik arah. Ia memacu langkah mengejar kelinci yang lain. Sayang, kelinci kedua sudah terlanjur jauh meninggalkan pandangan.
Debu di Kaki sang Pemburu
Beberapa saat kemudian, Zilu kembali ke hadapan gurunya. Napasnya memburu, dadanya kembang kempis ditampar rasa lelah. Dan yang paling menyakitkan: kedua tangannya hampa. Tidak ada daging untuk makan malam, yang ada hanya peluh yang bercucuran.
Sementara itu, Konfusius masih duduk tenang di atas pematang ladang. Pandangannya menyapu cakrawala yang luas. Sikapnya tenang, seakan-akan jawaban atas segala kekacauan dunia selalu berdiam di hadapan mereka yang cukup sabar untuk melihat.
“Guru, aku gagal menangkap keduanya,” bisik Zilu dengan nada suara yang runtuh.
Konfusius memandang muridnya, lalu tersenyum tipis. Sebuah senyum yang menyimpan empati sekaligus ketegasan.
“Karena engkau ingin memiliki keduanya,” ujar sang filsuf tenang.
Zilu seketika tertunduk lesu. Kata-kata gurunya menembus langsung ke dalam ulu hati.
“Seekor kelinci yang dikejar dengan segenap perhatian dan fokus yang utuh mungkin masih dapat diraih. Tetapi, dua kelinci yang dikejar sekaligus hanya akan meninggalkan debu di kakimu,” lanjut Konfusius sembari membersihkan sisa tanah di jubahnya.
“Lalu, bagaimana aku harus memilihnya, Guru?” tanya Zilu, mencari kompas di tengah kebingungannya.
“Pilihlah yang paling dekat dengan tujuanmu,” jawab Konfusius mantap. “Bukan yang paling memikat pandanganmu.”
Menolak Kultus Multitasking
Dongeng itu selesai dituturkan, menyisakan keheningan yang pekat di kedai Dongeng Kopi. Alina tertegun, menatap ampas kopi di dasarnya yang perlahan mengendap—seperti kesadaran yang baru saja turun ke kepalanya.
Di era digital ini, kita semua adalah Zilu. Kita mengagungkan multitasking seolah itu adalah jaminan kesuksesan. Kita mengambil semua proyek, mengejar semua tren, dan membuka semua tab di peramban hidup kita dalam waktu bersamaan. Kita takut tertinggal (FOMO), namun lupa bahwa energi manusia memiliki batasnya sendiri.
Pada akhirnya, hikayat tua ini mengingatkan kita kembali. Sering kali hidup tidak meminta kita untuk berlari lebih kencang atau menggenggam lebih banyak hal. Hidup hanya meminta kita untuk berhenti sejenak, menyesap kopi dengan tenang, lalu bertanya dengan jujur pada diri sendiri: sesungguhnya, apa yang sedang kita kejar?