
Di kampung-kampung Jawa, manusia nyaris tak pernah dibiarkan benar-benar hidup sendirian. Kehidupan senantiasa bergerak dalam lingkar yang kolektif; di mana laku kebersamaan jauh lebih dominan ketimbang laku sendiri-sendiri.
Bahkan, saat sepi perlahan datang merayapi malam, manusia Jawa tetap ditemani oleh bunyi-bunyian yang amat akrab. Terdengar ketukan kentongan ronda yang dipukul berulang, atau sayup-sayup suara orang-orang yang saling menyapa di beranda rumah. Semua bebunyian itu, sejatinya, menjelma menjadi sebuah panggilan halus bagi setiap jiwa untuk kembali berkumpul.
Sebagai sebuah kedai kopi bernuansa budaya Jawa, kami menyadari betul bahwa ritus kumpul ini adalah fondasi peradaban yang tak boleh luntur ditelan deru mesin zaman.
Lebih dari Sekadar Nasi Gurih dan Ingkung
Karena itulah, berkumpul tak pernah hanya bermakna perkara hadir secara fisik belaka. Tradisi kenduri, misalnya, bukanlah sekadar urusan membagikan nasi gurih, memotong ayam ingkung, lalu pulang dengan perut yang kenyang. Di balik ritus tersebut, ada sesuatu yang luhur dan terus dirawat bersama-sama: sebuah keyakinan purba bahwa hidup manusia terlalu rapuh jika hanya ditanggung sendirian.
Orang-orang akan datang dengan sukarela membawa apa pun yang mereka punya. Ada yang membawa segenggam beras, meminjamkan sepasang tangan untuk membantu hajatan, atau sekadar memberikan telinga yang bersedia mendengar rentetan sambatan (keluh kesah).
Sebab, sebagaimana petuah orang-orang tua, rezeki baru akan terasa sungguh berkah ketika ada liyan yang turut merasakannya. Sementara itu, kesedihan, bila hanya dipendam sendiri di dalam dada, perlahan dapat menjelma racun mematikan yang menggerogoti kewarasan jiwa.
Mufakat dan Kedalaman Makna Guyub
Prinsip kebersamaan ini juga termaktub teguh dalam fatsal rembug desa. Di balai pertemuan, orang boleh saja berbeda suara dan berdebat keras. Tetapi, mufakat harus tetap dicari bersama, semata-mata agar tak ada satu pun hati yang merasa diabaikan atau ditinggalkan dari rombongan.
Semua kerumitan relasi sosial itu akhirnya terhimpun dalam satu kata sakti yang teramat sukar dicari padanannya dalam bahasa lain: guyub.
Guyub itu melampaui definisi rukun atau sekadar akrab. Guyub adalah cara holistik orang Jawa memandang kehidupan. Sebuah pengakuan ontologis bahwa sejauh apa pun manusia berjalan mengembara, pada akhirnya ia tetap membutuhkan tempat untuk pulang di dalam diri sesamanya.
Menghidupkan Semesta Guyub di Dalangan
Filosofi luhur tentang guyub inilah yang kemudian kami serap dan kami hidupkan kembali di Dongeng Kopi Dalangan. Kami menata meja-meja komunal dengan tujuan agar kehangatan sambatan dan rembug itu tetap memiliki ruang bernapas.
Singgah dan tandanglah ke kedai kopi bernuansa budaya Jawa ini. Mari duduk melingkar, memesan secangkir kopi, dan temukan kembali desamu di tengah riuhnya percakapan sesama manusia.