Menelusuri Kisah Plang Kayu dan Takdir Waktu

Plang kayu penanda kedai kami menyimpan takdir unik tentang tetangga dan waktu. Simak cerita di baliknya bersama Sasana Krida Dongeng Kopi, kedai kopi di Kalasan.

Plang kayu penanda warung kami itu, kiwari usianya sudah menginjak sebelas tahun. Ia dibikin secara saksama oleh tangan dingin Yusuf, seorang karpenter yang bermukim di Dusun Dhuri, Tirtomartani, Kalasan, Sleman.

Jika diamati dari dekat, serat kayunya perlahan mulai menua. Warnanya pun sedikit pudar lantaran bertahun-tahun dimakan hujan dan didera terik panas. Namun, justru di celah keusangan situlah letak sisi serunya. Seperti halnya tubuh manusia, semakin lama ia hidup menantang cuaca, semakin banyak pula cerita yang menempel pekat di tubuhnya.

Bagi kami yang mengelola kedai kopi di Kalasan ini, plang tersebut bukan sekadar papan nama, melainkan sebuah artefak ingatan.

Hadiah Tak Terduga dari Sang Perwira Telematika

Dulu, plang itu sejatinya bukanlah sebuah pesanan khusus. Ia datang sebagai sebuah hadiah kejutan. Waktu itu, kami sedang sibuk membuat seperangkat meja dan kursi di tempat Mas Yusuf yang memiliki jenama kerajinan kayu @ziidanwood.

Banyak orang yang datang ke bengkelnya acap kali mengira bahwa beliau adalah seorang tukang kayu sepenuhnya. Padahal kenyataannya, pekerjaan utama Mas Yusuf adalah seorang anggota kepolisian yang berdinas di bidang telematika.

Kayu, serbuk gergaji, dan ragam perkakas rupanya hanyalah jalan lain bagi beliau untuk merawat kesenangan batinnya. Dari tangannya yang terampil, telah lahir banyak kerajinan memukau. Mulai dari kaligrafi, hiasan gantung estetik, sampai kutipan-kutipan kayu puitis yang, kalau di Jogja, kerap beredar di toko-toko pernak-pernik besar seperti Jolie, Petra, dan Adelle.

Menautkan Takdir di Dusun Dalangan

Laju waktu kemudian membawa kami pada sebuah titik temu yang tak terduga. Lucunya, setelah kira-kira tujuh tahun berselang sejak plang itu dibuat, kami memutuskan untuk mendirikan Sasana Krida Dongeng Kopi Roastery di Dusun Dalangan.

Begitu ruang baru ini mulai berdiri dan beroperasi, kami baru menyadari sebuah kenyataan yang membuat kami tersenyum simpul. Ternyata, kami bertetangga satu kelurahan dengan Yusuf, sang karpenter pembuat plang pusaka tersebut.

Kebetulan yang Terlalu Rapi untuk Sebuah Cerita

Kadang kala, lakon hidup manusia memang berjalan seperti itu. Orang-orang sering kali dipertemukan lebih dulu oleh nasib lewat hal-hal kecil, sebelum akhirnya takdir mengizinkan mereka untuk saling mengenali sebagai tetangga dekat.

Dan rentetan kebetulan-kebetulan kecil semacam itu, sering kali terasa sangat rapi jika hanya disebut sekadar kebetulan belaka. Ia lebih menyerupai sebuah skenario semesta yang memang sengaja disiapkan agar cerita ini terus hidup.

Singgah dan tandanglah ke kedai kopi di Kalasan ini. Mari duduk di bawah naungan plang kayu yang mulai menua tersebut, dan biarkan kami menyeduhkan kopi terbaik sembari merawat cerita-cerita baik lainnya bersama Anda.