
Bangunan kami di Dusun Dalangan, per tanggal 1 Mei kemarin tepat menandai empat kali putaran kalender tanggal usianya. Jika menengok kembali ke belakang, awalnya bangunan ini hanya beroperasi sebagai dapur panggang kopi untuk jenama Dongeng Kopi.
Ya, dulunya tempat ini cuma sebatas dapur panggang. Sebuah ruang kecil yang menampung karung-karung green beans, ruang merendang biji-biji kopi pilihan, serta tempat di mana aroma sangrai terus membumbung tinggi menemani hari-hari kami.
Pada masa awal itu, masih belum ada bangunan lantai atas yang kokoh. Belum ada Warung Sasaki, belum beroperasi menu Seblak Sasaki, belum ada dangau tempat warga melingkar, belum ada ayunan, bahkan tanpa payon (atap) peneduh untuk area parkir. Kami hanya memulai dari sebidang tanah berukuran $4 \times 4$ meter yang berada di pojokan bagian sisi Utara.

Ditumbuhkan Melalui Proses, Bukan Turun dari Langit
Dulu sekali, tanah yang kita pijak hari ini sebenarnya adalah area kandang bebek dan kolam gurami. Tempat ini tidak hadir secara tiba-tiba langsung menjadi megah seperti begini.
Semua hal kami rintis secara pelan-pelan. Ruang komunal ini ditumbuhkan dengan ketabahan, bukan diturunkan begitu saja dari langit.
Setiap dinding yang berdiri menyimpan jeda perjuangan, dan setiap sudutnya menakar perjalanan waktu. Hingga akhirnya, ia menjelma menjadi sebuah tempat sangrai kopi dan roastery yang kini kita gunakan bersama: utuh oleh proses panjang, bukan oleh sebuah kebetulan instan.
Ndilalah, pemilihan tanggal 1 Mei itu seperti sebuah kebetulan yang diam-diam sudah berencana. Tanggal tersebut merupakan hari pertama beroperasinya Sasana Krida Dongeng Kopi Roastery, sebuah nama resmi yang kami semat untuk tempat ini, atau biasa disingkat Sasaki Dokori.

Denyut May Day dan Ritme Pekerja di Jalan Cangkringan
Kawasan Dalangan sendiri tumbuh berdampingan erat dengan denyut nadi para pekerja. Pabrik-pabrik besar berjajar rapi di sepanjang Jalan Cangkringan, menjadi lanskap visual yang sangat akrab dengan ritme harian kaum buruh serta tuntutan waktu yang disiplin.
Maka dari itu, kalau lagu Internasionale kembali berkumandang dalam peringatan May Day kemarin, ingatan kami langsung melintas pada satu hal sederhana. Kami membatin, “Ah, Sasaki hari ini imbuh umur dan sekaligus bertumbuh, dari cuma sebidang ruang kecil di pojokan Utara.”
Kini, fungsi ruang tersebut telah meluas. Dari yang awalnya sebatas tempat sangrai kopi dan roastery internal, kini Sasaki Dokori telah bermutasi menjadi ruang budaya, tempat bertemunya para pekerja, mahasiswa, dan seniman untuk melepas penat.
Proses berbenah kami belum selesai dan tidak akan pernah selesai. Matur nuwun untuk seluruh warga dan pelanggan setia yang telah menjadi bagian dari bata-bata bangunan ini. Selamat bertumbuh bersama di Dalangan!