Bukan Cuman Jadi Tempat Foto: Komitmen Kedai Kopi dan Toko Buku di Dalangan

Mengkhidmati seduhan dan literasi secara pilih kasih. Resapi filosofi doa ubat-ubet Mbah Dalhar dalam gerak kedai kopi dan toko buku Dongeng Kopi.

Kira-kira beginilah rupa sajian menu dari Dalangan untuk menyambut bulan Mei nanti. Langkah kecil ini merupakan satu bagian dari ikhtiar usaha kami untuk terus memberikan yang terbaik bagi warga @kerep.dolan yang gemar tandang ke Dongeng Kopi.

Kami memang sejatinya berjualan kopi di sudut ini. Meski demikian, menu yang bukan kopi tetap selalu kami hadirkan di papan menu seduh. Kehadirannya berfungsi sebagai selingan sekaligus pelengkap, sebagai tanda nyata bahwa selera manusia tidak pernah bersifat tunggal.

Namun, jika minuman kopi mendapatkan tempat yang jauh lebih khidmat di kedai ini, hal itu tentu ada alasannya. Hal itu semata-mata karena kami mendefinisikan diri sebagai sebuah kedai kopi sejati. Kami berkomitmen bukan menjadi kedai yang cuma jualan tempat foto-foto bagus, lalu setelah itu semuanya selesai begitu saja.

Sikap Pilih Kasih Terhadap Buku dan Komunitas

Begitu pula perlakuan kami terhadap buku. Jika buku-buku kami beri ruang khusus di sudut Sasana Krida, itu karena kami memang menyukainya. Bahkan, kami sengaja memilih bersikap “pilih kasih” dalam merawatnya.

Kami hanya meletakkan buku yang benar-benar kami suka dan menurut pandangan kami penting untuk dibaca. Kami sangat pilih-pilih dalam menyusun katalognya.

Oleh sebab itu, perpaduan antara kedai kopi dan toko buku alternatif di pinggiran Sleman ini dibentuk demi kenyamanan Anda. Dan, jika unggahan media sosial kami lebih sering berisi gambar serta kisah orang-orang, itu pun bukan tanpa alasan yang kuat.

Kami memperuntukkan ruang fisik maupun digital ini selebar-lebarnya bagi pergerakan komunitas. Tujuannya tidak lain agar setiap pertautan antarwarga yang terjadi di meja kedai bisa menjadi lebih bernas.

Merawat Semangat Ubat-Ubet dari Kaki Merapi

Namanya juga sebuah usaha di perdesaan, kadang langkah kami begitu terbatas. Sering kali segala sesuatunya tampak sangat sederhana dan apa adanya.

Tetapi, selama kita masih mau bergerak aktif atau ubet, serta selama semangat di dalam dada pantang surut, kami percaya akan satu hal. Kami percaya bahwa jalan keluar akan selalu terbuka lebar, meskipun jalannya terasa sempit dan berliku.

Semangat berdikari ini sejalan dengan sebuah petuah luhur. Sebagaimana doa dari Mbah Dalhar Watucongol yang diijazahi langsung dari Nabi Khidir; sebuah doa ringkas, namun maknanya sangat dalam, sederhana, dan sarat akan harapan:

Allahumma ubat-ubet, biso nyandang biso ngliwet. Allahumma ubat-ubet, mugo-mugo pinaringan slamet. Allahumma kitra-kitri, sugih bebek sugih meri. Allahumma kitra-kitri, sugih sapi sugih pari.

Melalui rapalan doa di atas, kami terus memutar roda kedai kopi dan toko buku ini dengan penuh ketabahan. Mari singgah ke Dalangan, mari kita saling bertukar cerita, merawat isi kepala, dan tetap gigih ubat-ubet bersama di bawah atap yang sama!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.