
Jangan lekas mencibir orang-orang yang begadang, jagongan sampai larut malam di kedai kopi, di pos ronda, di burjonan, atau di angkringan. Di mata kita, boleh jadi mereka tampak seperti pengangguran, duduk tak tentu arah, menghabiskan waktu dengan percakapan ngalor-ngidul yang seolah tak menghasilkan apa-apa.
Namun siapa tahu, pada saat yang sama mereka sedang bertarung melawan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kantuk: melawan sepi, melawan putus asa, hingga melawan bisikan setan yang tak pernah benar-benar tidur.
Oleh karena itu, budaya jagongan di kedai kopi sebenarnya menyimpan lapisan makna pertahanan diri yang mendalam. Tidak semua perlawanan lahir dengan berisik dan orasi-orasi panjang di jalanan. Ada perlawanan yang tumbuh diam-diam, dari secangkir kopi hangat [Tautkan ke halaman Menu Kopi] yang diseruput pelan-pelan, dari obrolan tak selesai di sudut kedai, hingga dari tawa kecil yang menahan seseorang agar tidak pulang kepada kesepian yang lebih gelap.
Jagongan Malam Sebagai Bentuk Perlawanan Diam-Diam
Siapa bilang duduk diam sambil menyeruput kopi cangkir demi cangkir bukan bagian dari perjuangan? Bahkan perlawanan yang paling lemah sekalipun, tetaplah sebuah perlawanan.
Menemani orang berbicara, meski kadang tak jelas ke mana ujungnya, dapat menjadi bentuk ibadah yang sederhana. Sebab sering kali manusia tidak membutuhkan nasihat panjang yang menggurui; ia hanya membutuhkan sepasang telinga yang mau mendengar terus-terusan.
Di Dongeng Kopi Dalangan [Tautkan ke halaman Lokasi/Kontak], ruang-ruang komunal sengaja dirawat untuk menjaga sirkulasi cerita-cerita malam seperti ini agar tetap hidup dan aman.
Mencegah Langkah Buruk Lewat Ruang Komunasi yang Sehat
Dalam jagongan yang tampak remeh itu, seseorang bisa tercegah dari langkah-langkah yang jauh lebih buruk. Misalnya dari mabuk, dari dunia gemerlap yang kehilangan arah, hingga dari maksiat yang kerap datang ketika malam menyongsong dan hati sedang terlalu kosong.
Begitulah cara setan bekerja: membisik perlahan, mengajak manusia mencari pelarian yang merusak dirinya sendiri.
Maka dari itu, nongkrong sampai dini hari dan bercakap ngalor-ngidul dengan kawan-kawan—terlebih jika bersama orang-orang alim—kadang justru menjadi cara paling sederhana untuk mengalahkan godaan tersebut. Langkah ini memang tidak heroik. Tidak tampak gagah pula. Namun, bukankah banyak hal besar dalam hidup justru diselamatkan oleh hal-hal kecil yang nyaris tak pernah dianggap?