
Sebuah perjumpaan itu sering datang tanpa dinyana-nyana. Satu peristiwa yang singgah sebentar, lalu pergi begitu saja dilipat waktu. Yang tersisa biasanya cuma rasa. Sementara rasa, kita tahu, mudah sekali menguap.
Oleh karena itu, mengabadikan momen di kedai kopi menjadi sesuatu yang esensial. Maka begitu seseorang mengangkat kamera dan meminta kita berhenti sejenak, sebenarnya itu semacam sedang melawan sesuatu yang lebih besar: melawan lupa.
Mendokumentasikan perjumpaan bukan perkara gaya atau kebiasaan. Entah itu lewat jepretan kamera, maupun lewat goresan pena di halaman Buku Daftar Hadir yang selalu sedia di meja seduh kami, itu adalah cara paling sederhana untuk mengatakan, “ini pernah terjadi.”
Baca: Buku Daftar Hadir Arsip Kecil dari Meja Dongeng Kopi
Kesepakatan Diam dalam Sebuah Foto
Dalam satu bingkai, waktu yang bergerak kita paksa diam. Kita simpan bukan hanya wajah, tetapi juga suasana yang mengitarinya. Soal tawa yang belum selesai, percakapan yang menggantung, atau senyap yang terasa akrab di sudut Dongeng Kopi Dalangan
Baca: Pindah Kelima, Kini Dongeng Kopi ada diantara Candi Candi
Kalau dilihat lebih dalam, ada semacam kesepakatan diam di sana. Kita setuju untuk mengingat bersama. Foto menjadi tanda bahwa momen ngopi ini tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari sesuatu yang lebih besar: relasi, kedekatan, mungkin juga kehilangan yang belum kita sadari. Semacam catatan kecil yang kelak bisa kita buka kembali saat jarak mulai terasa panjang.
Menemukan Jalan pada Ingatan Masa Depan
Menariknya, kita jarang tahu mana perjumpaan yang akan menjadi penting. Semua terasa biasa saat dijalani. Baru setelah waktu lewat, kita menyadari bahwa hal-hal sederhana di meja seduh itu ternyata menyimpan banyak makna.
Dan sering kali, di kemudian hari, satu gambar kecil mampu membuka kembali semuanya. Memori visual itu bisa jadi menyajikan kenangan yang jauh lebih sempurna daripada yang kita kira.
Jadi, ketika ada kawan yang meminta bergambar saat bertandang ke kedai, tak perlu banyak pertimbangan. Berhentilah sebentar. Biarkan momen itu disimpan. Siapa tahu, di masa depan, justru dari situlah kita menemukan jalan pada ingatan, pada cerita, dan pada sesuatu yang pernah membuat kita merasa sangat dekat.