Sebelas Tahun #MakeYourOwnCoffee: Ritus Seduh dan Bayar Suka-Suka di Dongeng Kopi

Dari sekian rentetan agenda yang bersemi di selasar Dongeng Kopi, termaktublah satu ritus yang reguk usianya paling langgeng membebat waktu, yakni #MakeYourOwnCoffee. Sebuah daulat menyeduh kopi mandiri, meracik rasa suka-suka hati.

Jikalau dihitung dengan kalkulasi jerang waktu, tahun ini ikhtiar tersebut resmi menapaki usia sebelas warsa.

Ia lahir dari rahim zaman tatkala hasrat manusia untuk mengaji ilmu kopi belum semudah dan segaul hari ini. Orang-orang yang menyimpan rindu pada keharuman seduhan kerap kali musti meraba dalam gelap: berapa gram bubuk hitam yang mustahak, seberapa tinggi derajat panas air yang jitu, serta berapa lama tetes demi tetes air jatuh menembus saringan hingga rasa menemukan kediriannya yang paripurna. Keingintahuan meriap di mana-mana, namun ruang dialektika masih tertutup rapat. Jikalau ada kelas edukasi yang digelar, jumlahnya teramat fana dan mahar harganya pun lumayan tinggi mengguncang dompet.

Berangkat dari kegelisahan itulah, kami meretas sebilah jembatan kerdil sekaligus mengasuh bagian dalam tradisi ngopi pagi. Sebuah laku yang teramat langka pada masa-masa itu, masa ketika aktivitas mencecap kopi identik dengan ritus petang hingga begadang suntuk menjemput fajar.

Make Your Own Coffee: Belajar Percaya pada Lidah Sendiri

Dalam lingkaran agenda MYOC ini, siapa pun raga yang bertandang dihalalkan masuk. Mereka berhak meraih rupa-rupa alat seduh dengan berbagai metodologi, menggiling biji-biji kopi pilihan, menakar volume air, lalu menyeduh mandiri demi menjemput selera batin. Tiada rumus mutlak yang memaksa; tiada pula barista yang berdiri pongah laksana pengajar yang kaku. Barisan peracik kami bermutasi menjadi karib yang bersahaja, menemani perjalanan rasa seiring aroma kopi yang perlahan naik mengudara, memaksa orang-orang belajar bersetia pada kesaksian lidah mereka sendiri.

Segenap khazanah ini bermuara dari satu keyakinan suci yang kami rawat: bahwa setiap manusia sejatinya mengemban bakat alamiah untuk melahirkan secangkir kopi yang nikmat.

Satu-satunya perkara yang adakalanya absen dari kantong sebagian orang hanyalah kecukupan sekeping koin demi terus-menerus menebus secangkir kopi yang layak dan bermartabat. Lantaran pertimbangan kemanusiaan itulah, selepas maklumat seduh suka-suka digulirkan, kami menambahkan sebait kelanjutan kalimat yang tak kalah radikal: bayar suka-suka.

Umplung Cemplung: Menjaga Marwah Lewat Bayar Suka-Suka

Sebuah wadah komunal kami sediakan, sebuah bejana bersahaja yang kami baptis dengan lema Umplung Cemplung. Siapa saja yang tergerak nuraninya untuk menunaikan pembayaran, silakan memasukkan nominalnya ke dalam ceruk tersebut. Hanya kediriannya sendiri dan Tuhan Yang Maharahman yang menyaksikan jumlahnya.

Tiada jemari kasir yang menghitung totalan. Tiada keluh bibir yang menagih piutang.

Maka dari itu, kehormatan insani tetap tegak terjaga selamanya. Sebab berapapun nominal materi yang terlempar masuk ke dalam rahim Umplung Cemplung, ia tetap menahbiskan sang peminum untuk keluar meninggalkan kedai dengan dagu tegak penuh marwah.

Program luhur ngopi pagi di Sleman ini masih tetap bersetia berlangsung saban pagi, bergulir semenjak pukul 08:00 hingga 12:00 WIB di kedai Dongeng Kopi Dalangan. Pintu kami terbuka, menanti ketukan tangan Anda.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.