Hikayat Persia tentang Suara Raja & Filosofi Hidup di Dongeng Kopi

Konon, pada suatu masa tatkala bentang langit masih berselimut biru murni dan gemintang begitu mudah ditatap dengan netra telanjang, berdirilah sebuah kerajaan agung di tanah Persia. Rajanya masyhur sebagai pribadi yang bijak bestari. Namun, pada suatu fajar yang sunyi, sang penguasa mendadak kehilangan suaranya secara misterius.

Peristiwa itu terjadi bukan lantaran serangan penyakit purba, bukan pula karena gerogotan usia senja. Anehnya, setiap kali Baginda membuka lisan untuk mengurai titah, tiada secuil pun kata yang sanggup melesat keluar. Hanya ada embusan napas pendek yang tertahan—serupa desir angin malam yang tersangkut pasrah di celah-celah batu cadas.

Seketika, seisi istana pun gempar dilanda kecemasan yang pekat.

Ikhtiar Para Tabib Kerajaan Persia

Para tabib tersohor berdatangan memanggul rupa-rupa ramuan pahit yang diracik dari rebusan daun liar dan perasan akar hutan. Di sudut lain, para penyihir meremang takzim, melantunkan mantra-mantra panjang yang berkelindan bersama asap kemenyan yang membubung pekat. Tak ketinggalan, para pendeta memukul genta-genta perunggu kecil, merayu nama-nama dewa yang bersemayam di langit jauh agar sudi menurunkan mukjizat.

Namun, segalanya berujung fana. Suara emas sang raja tetap enggan pulang ke haribaan lisan.

Hingga pada suatu petang yang berbalut keheningan, seorang perempuan sepuh turun dari lereng pegunungan utara yang wingit. Jubahnya teramat bersahaja, tumpuan langkahnya hanyalah sebilah tongkat kayu tua yang rapuh. Kendati demikian, sepasang netranya menyala benderang—serupa bara sekam yang masih bersetia merawat nyala api kearifan.

Perempuan misterius itu tidak datang membawa cawan ramuan herbal. Ia tidak memukul lonceng magis, tidak pula sibuk membaca mantra pembubarkan kutukan.

Ia hanya melangkah mendekat penuh takzim, lalu membisikkan sebait kalimat tepat ke lubang telinga sang raja. Suaranya teramat pelan, laksana sebutir debu yang jatuh ke permukaan air, nyaris tenggelam dalam kesunyian yang mencekam.

“Tuanku yang mulia sesungguhnya tidak pernah kehilangan suara,” bisiknya dingin. “Tuanku hanya terlalu lama memenjarakan kebenaran di dalam dada.”

Merawat Kebenaran di Sudut Dongeng Kopi

Malam itu, atmosfer istana berubah menjadi begitu hening—menyerupai hamparan padang pasir tanpa kibasan angin. Maklumat sunyi itu bekerja merombak taman batin sang penguasa.

Kala fajar berikutnya menyingsing, sang raja mengumpulkan segenap menteri, barisan prajurit, dan kawanan rakyat jelata yang berdiri menyemut di halaman pelataran. Dengan raut wajah yang pucat namun tatapan mata yang tegak penuh marwah, ia memberanikan diri membuka mulutnya lebar-lebar.

Seketika, mukjizat rasa itu kembali bersuara.

Melalui vokal yang bergetar hebat menahan keharuan, sang raja mengakui sebuah dosa dan kesalahan masa lalu yang sekian lama ia sembunyikan rapat-rapat di balik jubah kuasanya. Sejak momentum pengakuan yang luhur itulah, suaranya tak pernah hilang lagi ditelan sepi.

Kisah purba dari Persia ini sejatinya mengajarkan sebuah iktibar yang takkan lekang oleh zaman: bahwa adakalanya keheningan manusia bukanlah disebabkan oleh rupa-rupa penyakit profan, melainkan wujud dari sanubari yang didera ketakutan hebat pada kebenaran yang mutlak.

Sembari merenungi hakikat suara dan kebenaran ini, pintu kedai Dongeng Kopi Sleman selalu terbuka lebar untuk menyambut kehadiran Anda. Di sudut ruang ngopi yang tenang di Yogyakarta ini, mari kita mengobrolkan rupa-rupa cerita kehidupan, membedah khazanah literasi, sembari ditemani sesesap cangkir biji kopi pilihan yang diracik penuh kejujuran. Sampai jumpa di Dalangan, tempat di mana setiap kata dan rasa dirawat agar tak menjelma sia-sia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.