
Di sebuah majelis kecil di tanah Persia, ketika senja jatuh perlahan di antara dinding bata dan pelita minyak berayun redup, seorang murid bertanya kepada gurunya tentang perubahan manusia. Suaranya lirih, tetapi mengandung kegelisahan yang lama dipendam. “Guru,” katanya, “mengapa ada orang yang setelah banyak belajar justru menjadi keras, bahkan angkuh? Bukankah ilmu seharusnya membuat manusia semakin bijaksana?”
Sang guru tidak segera menjawab. Ia hanya tersenyum samar, lalu mengambil sepotong roti pipih hangat dari tanur tanah liat di sudut ruangan. Uap tipis mengepul dari permukaannya. Dengan gerak perlahan, ia mematahkannya menjadi dua, seolah sedang memperlihatkan rahasia kecil yang tersembunyi di balik tepung dan api.
“Jiwa manusia,” katanya tenang, “serupa adonan ini.”
Kemudian ia mengutip kalimat yang kerap diulang para penyair sufi dari masa ke masa: “Raw was I, cooked I became, burnt I was.” Aku pernah mentah, lalu matang, lalu terbakar.
“Ketika masih mentah,” lanjut sang guru, “adonan tak memiliki aroma. Ia belum layak disantap, belum pula memberi makna. Demikian pula manusia yang belum disentuh pengalaman. Ia mungkin lembut, tetapi belum benar-benar mengenal kehidupan.”
Murid itu mendengarkan dengan saksama.
“Api tanur itulah hidup,” ujar sang guru lagi. “Kegagalan yang meremukkan harapan, kerinduan yang membuat dada sesak, cinta yang datang lalu pergi, kehilangan yang diam-diam mengubah seseorang. Semua panas itu membuat manusia mengembang dari dalam dirinya sendiri. Dari situlah harum jiwa lahir.”
Ia terdiam sejenak, memandang bara di mulut tanur yang menyala kemerahan.
“Namun,” katanya perlahan, “api yang sama juga dapat menghanguskan.”
Kening sang murid mengerut.
“Di situlah kebijaksanaan diperlukan,” ucap sang guru sambil menepuk pundaknya. “Pemanggang yang baik mengetahui kapan roti harus diangkat. Jika terlalu cepat, ia tetap mentah. Jika terlalu lama, ia berubah menjadi arang.”
Begitu pula manusia.
Pengalaman memang sanggup mematangkan jiwa, tetapi tanpa kerendahan hati, panas kehidupan yang semestinya melahirkan keharuman justru menjelma abu kesombongan. Banyak orang tumbuh dalam usia, tetapi tidak semuanya tumbuh dalam kebijaksanaan. Sebagian hanya menjadi lebih keras, lebih merasa tahu, lalu lupa bahwa api yang pernah menguatkan mereka juga bisa menjadi sebab kehancuran dirinya sendiri.
Menemukan Makna Sufi dalam Mesin Sangrai Dongeng Kopi
Mungkin karena itulah, setiap kali mesin panggang dinyalakan di Dongeng Kopi, pelajaran lama itu kembali bergaung dalam ingatan kami. Biji kopi pun datang dalam keadaan mentah: hijau, keras, dan nyaris tanpa aroma. Lalu api bekerja perlahan, mengubah warna, membangunkan wangi, menghadirkan karakter yang sebelumnya tersembunyi.
Tugas seorang pemanggang ternyata bukan sekadar memberi panas, melainkan memahami batas. Sebab memanggang, sebagaimana menjalani hidup, selalu membutuhkan kepekaan: kapan menahan, kapan melanjutkan, dan kapan berhenti.
Kalau suatu sore Anda mampir ke roastery Dongeng Kopi, cobalah mendengarkan suara letupan kecil biji kopi yang matang di dalam drum. Ada irama yang sederhana, tetapi barangkali menyimpan pelajaran panjang tentang hidup: bahwa api, jika dijaga dengan bijaksana, tidak hanya memanggang kopi, melainkan juga mematangkan manusia.
Mari Berdiskusi di Roastery Dongeng Kopi Sleman
Besok kami buka pukul pagi. Rak pajang kopi kemasan 100 gram dan 200 gram pun telah kami isi ulang. Barangkali ada yang ingin dibawa pulang, agar kehangatan yang singgah di cangkir dapat tinggal lebih lama di rumah Anda.