
Di antara sembilan racikan multiple origin yang dirawat Dongeng Kopi sebagai semacam cerita rakyat, ada satu nama yang mungkin, bisa jadi, akan selalu terasa paling dekat ke tanah: Korikuga.
Bagi Renggo Darsono, sang juru cerita Dongeng Kopi, korikuga tidak lahir dari rencana besar atau strategi pemasaran yang rumit. Benar benar tumbuh pelan-pelan, dari obrolan, dari tawaran sederhana para pelanggan yang suatu hari datang membawa kabar, “Saya punya kopi dari kebun sendiri.”
Korikuga adalah singkatan dari Kopi dari Kebun Warga. Namanya sederhana, hampir seperti istilah internal yang tak diniatkan menjadi merek. Tetapi, barangkali justru di situlah bobotnya. Kopi yang berangkat dari kebun-kebun kecil yang sering tak masuk hitungan industri. Dari halaman belakang rumah. Dari lereng yang digarap keluarga. Dari tangan-tangan yang masih menyisakan tanah di sela kuku.
Ada tafsir yang terasa cocok ketika nama itu disandingkan dengan frasa Jepang ko-riku-ga, yang bisa dimaknai sebagai sebidang tanah kecil. Bukan untuk bergaya, melainkan untuk menegaskan sikap. Korikuga memang berdiri di sisi yang kecil dan sering luput dilihat. Di tengah industri kopi yang makin rapi, makin terstandar, makin dikuasai nama besar, ia memilih ruang yang lebih akrab: kebun rakyat dan jaringan pertemanan.
Banyak warga kerepdolan, akronim kerukunan pelanggan Dongeng Kopi lan kekancan, yang memiliki beberapa pohon kopi. Hasilnya tidak banyak. Kadang hanya cukup untuk konsumsi keluarga. Kadang ada lebih sedikit untuk dijual. Masalahnya bukan soal mutu, melainkan akses. Tidak semua orang tahu cara membawa kopi dari kebun kecil ke meja para penikmat kota. Korikuga hadir sebagai jembatan. Ia memberi tempat bagi kopi yang sebelumnya hanya beredar di lingkaran sempit.
Tentu saja kedekatan tidak berarti kompromi. Setiap biji yang hendak dipajang tetap melewati proses yang sama. Dikurasi dua pekan sekali, digelaran Miskaping, Kamis Kita Cupping. Tidak ada suasana resmi yang kaku. Orang-orang duduk melingkar, menyeruput, mencatat, lalu berbicara. Ada yang menemukan jejak cokelat, ada yang merasa asamnya terlalu tajam, ada yang justru menyukai karakter liarnya. Keputusan tidak datang dari satu lidah, melainkan dari percakapan. Di situlah mutu dirundingkan.
Karena bersandar pada panen warga, Korikuga tak pernah benar-benar sama dari waktu ke waktu. Musim berganti, rasa ikut berubah. Hari ini mungkin Arabika dari lereng Merapi yang dipetik seorang Mbah Muji. Bulan depan bisa jadi datang dari kebun kecil di daerah lain dengan watak yang berbeda. Ia tidak mengejar keseragaman seperti produk pabrikan. Yang dijaga adalah kejujuran rasa dan cerita di belakangnya.
Korikuga pada akhirnya bukan cuman kopi pajangan di stoples pilihan meja seduh. Ia adalah cara Dongeng Kopi memaknai hubungan. Dari kebun warga, diseleksi bersama warga, lalu kembali ke warga dalam bentuk secangkir kopi dan percakapan yang menyertainya. Di dalamnya ada peluh yang meruah dari menolah tanah, ada musim yang tak selalu ramah, ada harapan agar hasil kecil tetap dihargai.
Setiap tegukan membawa kita lebih dekat pada sebidang tanah yang mungkin tak pernah kita lihat. Tanah kecil itu tidak meminta banyak. Ia hanya ingin diingat bahwa dari sanalah rasa bermula.
Sebermulanya adalah kopi…