
Beberapa Warga Kerepdolan (@kerep.dolan) kerap melayangkan tanya yang berulang: mengapakah semenjak kami menegakkan panji-panji perjumpaan dan membuka ruang dialektika di ceruk Dalangan, setiap hari Jumat Dongeng Kopi menolak beroperasi secara penuh sepanjang lingkaran hari?
Jawabannya sesungguhnya tidaklah terlampau rumit atau sarat akan muslihat korporasi. Ini bukanlah semata perkara carut-marut manajemen waktu, bukan pula lantaran syahwat eksentrik kami yang ingin sekadar terlihat berbeda di mata publik meski dalam maklumat sejarahnya, kami memang mengharamkan diri untuk seragam dengan siapa pun di muka bumi.
Ada selembar riwayat purba yang diam-diam kami pinjam dari bentang tanah yang jauh, menyeberangi samudera menuju peradaban Mesopotamia.
Mitologi Inanna: Belajar Menundukkan Hari dari Bangsa Sumeria
Dalam sistem penanggalan kuno milik bangsa Sumeria, hari kelima ditahbiskan secara sakral sebagai hari milik Inanna sang dewi cinta, simbol kesuburan, sekaligus perlambang kecamuk perang. Ia kerap dilukiskan dalam manuskrip wingit mengenakan jubah bersulam kemilau gemintang, melangkah dengan keanggunan yang bersahaja di antara pembatas langit dan bumi laksana seorang mufasir yang tahu betul kapan musti datang bertamu dan kapan saatnya melangkah pulang.
Konon, pada hari kelima tersebut, para pendeta luhur yang bersila di atas puncak ziggurat kota Ur mengharamkan diri untuk memulai rupa-rupa pekerjaan yang berat. Alasan di balik laku itu tentu saja bukan lantaran watak malas yang berselimut kemanjaan.
Masyarakat kuno itu percaya bahwa hari kelima adalah hari pengembaraan batin yang sunyi; sebuah fragmen waktu tatkala Dewi Inanna memilih turun menembus dunia bawah (underworld) demi bersilaturahmi menemui saudari kandungnya, Ereshkigal, sang penguasa kesunyian yang pekat dan kegelapan yang abadi.
Bangsa Sumeria merawat sebuah ungkapan bersahaja yang diwariskan turun-temurun:
“Tatkala sang dewi turun melangkah ke kegelapan, maka kubah langit ikut menunduk takzim. Namun, tatkala ia kembali naik menjemput cahaya, maka rahim bumi pun serentak bernyanyi merayakan hayat.”
Merawat Jeda yang Jernih di Dongeng Kopi Sleman
Barangkali, dari serpihan mitologi purba itulah kami menimba seberkas ikhtiar dan kearifan hidup. Bahwa sejatinya tidak semua bentang hari harus dihabisi dengan ketergesaan yang memburu, dijalani dengan tabiat ngotot yang meletup-letup tanpa jeda, atau diperas habis-habisan demi syahwat duniawi yang fana. Manusia membutuhkan waktu untuk turun ke dalam palung dirinya sendiri, meraba sunyi sebelum kembali memancar sebagai cahaya.
Lantaran filosofi itulah, setiap kali hari Jumat tiba, kedai Dongeng Kopi Sleman dengan sadar memilih membuka pintu ruangnya lewat langkah yang jauh lebih pelan, ritme yang lebih khusyuk, dan alun yang lebih melandai dari biasanya.
Bagi Anda yang merindukan atmosfer tempat ngopi Jogja yang tenang di Yogyakarta, selasar Dalangan pada hari Jumat adalah altar yang jitu untuk menjeda riuh dunia. Mari merapat selepas paruh hari, mereguk sesesap cangkir biji kopi pilihan yang diracik tanpa ketergesaan, sembari membiarkan jiwa kita mengulang ritus perjalanan pulang ke dalam kedirian yang murni. Pintu kami terbuka liris, menanti ketukan rasa Anda.