
Cerita rakyat dari Timur Nusantara jarang hadir untuk menghibur. Ia lebih sering datang sebagai pengingat; tentang hubungan manusia dengan tanahnya, dengan sesamanya, dan dengan dirinya sendiri. Kisah Lona Kaka dan Lona Rara adalah salah satunya: cerita yang tidak menawarkan pahlawan, melainkan pilihan-pilihan hidup beserta konsekuensinya.
Dalam ingatan kolektif masyarakat setempat, Lona Rara dikenang sebagai sosok yang bekerja tanpa banyak suara. Ia menjaga ritme, menuntaskan tugas, dan menerima hidup sebagaimana datangnya. Para tetua kerap menggambarkannya dengan kalimat sederhana: “Ia berjalan pelan, tetapi tidak pernah berhenti.” Sebuah penanda watak tentang ketekunan yang tidak membutuhkan sorak.
Lona Rara tidak dikenang karena keberaniannya melawan, melainkan karena kesediaannya bertahan. Ketika ia disingkirkan oleh tipu daya kecil dan masuk ke hutan, cerita tidak membingkainya sebagai kisah epos. Tidak ada perlawanan, tidak ada kemenangan dramatis. Dalam versi yang beredar, ia hanya berjalan, malam demi malam, dengan keyakinan yang tetap utuh.
Ia tersesat selama tujuh malam. Tubuhnya lelah, pakaiannya koyak, tetapi nuraninya tidak berubah arah. Pada malam terakhir, ia menyanyikan Wamaroto, sebuah nyanyian sunyi yang bukan permohonan, melainkan penegasan diri. “Jika aku hilang, biarlah tanah tahu aku tidak berbohong,” demikian penggalan yang sering dinisbatkan pada nyanyian itu.
Pertemuan Lona Rara dengan penjaga alam, dalam cerita para tetua, tidak dipahami sebagai peristiwa ajaib. Ia lebih dimaknai sebagai tanda bahwa bumi tahu membedakan siapa yang datang dengan niat baik dan siapa yang datang dengan hati kusut. Karena itu pula, perubahan yang terjadi setelahnya tidak disebut sebagai mukjizat. Ia lebih mirip jawaban pelan.
Tanah berubah tanpa gegap gempita. Pohon kesambi berbuah lebih ranum. Jeruk tumbuh dengan rasa yang lebih bersih. Alam tidak berteriak; ia hanya memperbaiki dirinya sendiri.
Sebaliknya, Lona Kaka tidak dihukum dengan cara yang keras. Ia hanya kehilangan arah. Dalam cerita lisan, ia digambarkan berjalan tanpa tujuan—sebuah akhir yang sunyi, tetapi tegas. Kisah ini tidak menggurui, namun memperlihatkan dengan jernih bahwa iri hati jarang menghancurkan orang lain terlebih dahulu; ia lebih dulu menggerogoti pemiliknya.
Hingga kini, kisah Lona Rara tidak hidup di buku pelajaran. Ia bertahan di ladang, di kebun, dan dalam cara orang-orang Nusa Tenggara memperlakukan hasil bumi mereka. Termasuk dalam kopi; minuman yang menuntut kesabaran sejak dari tanah hingga ke cangkir.
Di Dongeng Kopi, ingatan kolektif itu diramu dalam satu sajian multiple origin yang diberi nama Lona Rara. Kopi ini tidak datang dengan satu suara rasa, melainkan beberapa lapis yang muncul bergiliran. Seruput pertama menghadirkan tubuh yang mantap dan kental, pantulan dari tanah keras yang tidak mudah runtuh. Setelahnya, muncul keasaman jeruk yang bersih dan terang, mengingatkan pada sabana yang lapang dan jujur. Di akhir, manis kelapa dan gula aren hadir pelan, nyaris seperti sisa percakapan yang enggan usai.
Rasa-rasa itu tidak saling mendominasi. Mereka berdampingan, seperti cerita rakyat itu sendiri: sederhana, tidak memaksa, tetapi menetap. Barangkali di situlah letak maknanya. Bahwa dari tanah yang kerap dianggap keras dan pinggiran, lahir cerita dan rasa yang justru mengajarkan ketekunan. Dan bahwa dalam secangkir kopi bernama Lona Rara, kita tidak hanya menyesap minuman, melainkan sepotong ingatan tentang Nusantara yang bekerja dalam diam.