
Musim adalah cara alam mengatur jarak. Ia tidak pernah tergesa, tak pula benar-benar berhenti. Ia datang, menata, lalu beringsut pergi, meninggalkan jejak yang pelan-pelan menjelma cerita. Kita menyebutnya pergantian, padahal yang terjadi sesungguhnya adalah perputaran, lingkaran yang sama dengan nuansa yang tak pernah serupa.
Di negeri empat musim, orang belajar membaca waktu lewat perubahan yang tegas. Semi menggerakkan tunas, panas memadatkan gula dalam buah, gugur merontokkan yang telah matang, dingin membaringkan bumi dalam istirahat panjang. Sementara di wilayah tropis seperti Nusantara, penandanya lebih halus. Hujan dan kemarau bergantian seperti dua napas besar: basah yang menghidupkan, kering yang menguatkan akar.
Tak ada salju yang memutih tiba-tiba, tak ada daun yang serempak memerah. Yang ada adalah tanah yang menguarkan aroma berbeda selepas hujan pertama, angin yang berubah arah, serangga yang mendadak lebih ramai, padi yang pelan-pelan menunduk.
Orang Jawa menyusun kepekaan itu dalam Pranata Mangsa, dua belas mangsa yang bukan cuma penanggalan, melainkan pembacaan gejala: Kasa, Karo, Katelu, hingga Sadha. Ini bukan cuman hitungan tanggal, melainkan cara mengakrabi tanda. Dalam pengetahuan itu, manusia tidak berdiri di atas alam. Ia berdampingan, memandang cermat setiap isyarat.
Dari sana kita belajar bahwa tidak semua hal tersedia setiap saat. Durian tidak selalu runtuh dari dahannya. Mangga tak setiap bulan menguning. Rambutan tidak sepanjang tahun memerah. Ketika musimnya tiba, pasar menjadi riuh. Orang membeli lebih banyak dari biasanya. Ada kegembiraan sederhana, seperti perilaku kekanak-kanakan, seolah kita menemukan kembali sesuatu yang lama dirindukan.
Lalu musim lewat. Sunyi kembali. Dan justru karena jarang, ia dikenang panjang.
Masyarakat agraris memahami ini tanpa teori berlapis istilah. Mereka bekerja keras saat waktunya menanam. Mereka bersabar ketika tanaman belum berbuah. Mereka merayakan panen dengan syukur yang tak berlebihan. Menunggu bukan kelemahan, melainkan bagian dari laku kehidupan.
Sekarang kita hidup dalam zaman yang menuntut segala sesuatu tersedia kapan saja. Buah didatangkan dari negeri jauh. Sayur tumbuh di ruang berpendingin. Rak-rak tak boleh kosong; kelangkaan dianggap persoalan, kepayahan di urusan distribusi. Padahal dalam kelangkaan, ada nilai yang tak bisa diproduksi massal iaitu perhatian.
Di situlah kopi musiman menemukan maknanya. Tidak semua biji menetap. Ada yang datang sebentar, lalu habis tanpa jejak dalam daftar tetap. Panennya hanya setahun sekali, produksinya terbatas, terkadang dari kebun kecil yang tak selalu sanggup memenuhi permintaan, kadang dari negeri seberang yang hanya singgah untuk dibagikan dan dirasakan bersama warga kerepdolan.
Kopi semacam ini hadir seperti tamu. Ia tak menjanjikan kepastian. Ia bergantung pada cuaca di tempat asalnya, pada kesabaran petani menunggu ceri matang, pada perjalanan panjang yang tak selalu gampang.
Ya, mungkin ungkapan orang bijak ada benarnya: tidak semua yang baik harus tersedia terus-menerus. Tidak semua yang enak perlu diulang tanpa henti. Ada hal-hal yang cukup datang, memberi kesan, lalu pergi.
Maka setiap kedatangannya dinanti. Orang bertanya, “Kapan ada lagi?” Dan sering kali jawabannya: entah. Bisa tahun depan. Bisa tidak sama sekali.
Ketika secangkir itu akhirnya tersaji, ada kesadaran berbeda saat kita mengangkatnya. Asamnya terasa lebih terang. Manisnya lebih dalam. Kita seperti sedang meminum jarak, tanah yang jauh, hujan yang turun di kebun asing, tangan-tangan yang memetik dengan sabar. Kita tahu, rasa di hadapan kita mungkin tak akan terulang persis. Bahkan jika varietasnya sama, musimnya berbeda. Dan musim selalu membawa cerita baru.
Yang musiman tidak hidup dalam kelimpahan. Ia hidup dalam kesempatan-kesempatan yang penuh ketidakpastian.
Seperti rendheng yang menyuburkan atau kemarau yang menguji daya tahan, kopi musiman mengingatkan bahwa hidup bergerak dalam siklus. Tidak semua yang berharga tinggal lama. Justru karena ia singgah sebentar, ia menempel lebih kuat dalam ingatan.
Barangkali yang paling kita kenang memang selalu yang sempat, bukan yang menetap.
Jadi, silahkan tanya garda jaga Dongeng Kopi hari ini;
“Apa Kopi Musiman yang bisa dicoba kali ini?”.