
Kami tidak pernah secara sengaja memelihara atau menakar rindu pada seekor kucing. Namun, di Dongeng Kopi Dalangan (Kalasan, Sleman), makhluk berkaki empat itu selalu punya cara untuk datang dan bertandang.
Beberapa ekor hilir-mudik dengan langkah takzim, layaknya penghuni lama yang meyakini bahwa beranda kedai kopi ini adalah pula daulat miliknya. Mereka adalah persilangan lintas ras: bertubuh resik, bermanuver tenang, dan lehernya berhias kalung kelenteng kecil yang berdenting lirih setiap kali jemari kaki mereka menyentuh ubin.
Kontras Alamat: Memori Umbulmartani Sebelum Pindah ke Dalangan
Pemandangan perlente di Dalangan ini senyatanya kontras belaka dengan apa yang kerap kami jumpai saat operasional kami masih berada di Umbulmartani dahulu. Di sana, kucing-kucing komunal melintas dengan tubuh yang ringkih, liar, dan sebagian didera kurap yang merana (gudigen). Hidup mereka seolah-olah mengalir sebagai sebuah musafir tanpa akhir, sebuah perjalanan panjang yang kehilangan alamat.
Umbulmartani adalah saksi bisu bagi takdir kedai Dongeng Kopi yang keempat. Kedai kami kala itu tegak di bibir jalan, berdempetan dengan aliran sungai yang arusnya tak pernah surut. Di ruang terbuka semacam itulah, satwa-satwa tak bertuan ini leluasa datang dari segala penjuru mata angin.
Besar kemungkinan, ada tangan manusia yang tega membuang mereka begitu saja ke jalanan. Dan kucing-kucing itu, dengan kompas naluri yang tersisa, menyeret langkah hingga akhirnya berlabuh di pelataran kedai kami, mencari kehangatan di antara aroma seduhan specialty coffee.
Filosofi Kopi dan Kehidupan: Ruang Singgah Jiwa yang Letih
Bagi makhluk yang ringkih, sebuah tempat yang bising oleh manusia selalu menjanjikan dua kemungkinan: telapak tangan yang luhur atau sekadar sudut hangat untuk menekuk umur. Kedai Dongeng Kopi, tanpa pernah merancang cetak birunya, mendadak menjelma menjadi suaka komunal. Menjadi tempat singgah bagi jiwa-jiwa yang letih dan tersisih, baik manusia maupun satwa.
Pelajari lebih dalam tentang bagaimana kami merawat ekosistem ruang ini dalam artikel: [Internal Link: Menilik Konsep Budaya Nongkrong di Dongeng Kopi]
Syahdan, ingatan saya melompat pada masa lampau. Dulu sekali, ada seorang pelanggan yang dengan ketelatenan janggal mengulas tingkah polah kucing-kucing di kedai melalui sebuah akun digital khusus. Ia memotret presensi mereka, mencatat tabiat yang jenaka, seolah-olah setiap jengit ekor dan dengkur halus mereka memiliki narasinya sendiri di sela-sela kepulan cangkir kopi.
Menolak Lupa pada Riwayat Akun Soal Cerita Kucing di Kedai Kopi
Kini, di tengah keheningan Dalangan, memori itu mendadak bangkit dan mengetuk benak saya kembali.
Apa kabar gerangan akun pencatat riwayat itu? Masihkah ia bernyawa di belantara maya, atau sudah karam ditelan algoritma? Apakah ia masih setia menyalin jejak-jejak cakar kecil para kucing yang pernah singgah di tempat nongkrong di Sleman ini, mencari suaka, lalu pergi melesat meninggalkan fana?