
Lantai atas Sasana Krida Dongeng Kopi Roastery adalah tempat utama bagi para pengunjung untuk memesan kopi. Namun, kalau Anda sedang malas naik dan memilih untuk bersantai di lantai bawah, hal itu sama sekali bukan masalah.
Untuk menuju ke lantai atas, pengunjung memang harus meniti anak tangga. Kadang-kadang, pada saat kedai baru saja buka atau sedang istirahat siang, kami sering berpikir bagaimana caranya agar para pelanggan tidak perlu repot-repot naik-turun tangga hanya untuk mengecek situasi. Akhirnya, kami memasang sebuah papan penanda. Tulisan “buka” atau “istirahat” di papan itu sengaja dibuat cukup besar agar bisa langsung terbaca dari lantai bawah.
Dulu, papan penanda itu tidak digantung di dinding, melainkan dikalungkan pada sebuah kendi tua. Kendi itu adalah warisan dari Eyang Subur yang terus kami rawat dengan baik, bahkan di saat anak-cucunya zaman sekarang sudah beralih menggunakan galon dan dispenser.
https://dongengkopi.com/kategori/menu-hari-ini/
Tempat Mesin Ketik yang Tergeser oleh Printer
Seiring berjalannya waktu, teknologi modern mulai masuk ke kedai kami. Semenjak ada salah seorang pelanggan setia, @kerep.dolan, yang membawakan sebuah printer, posisi barang-barang di kedai pun ikut berubah. Mesin ketik kuno yang tadinya dipajang rapi di sela-sela rak buku [Internal Link: Taman Baca Alimin], kini harus rela digeser ke area puncak tangga.
Tempat lama mesin ketik itu sekarang digantikan oleh printer baru. Setiap hari, printer ini kami gunakan untuk berbagai keperluan para pengunjung. Mulai dari mencetak hasil diskusi komunitas, hingga mencetak gambar-gambar lucu untuk mewarnai. Fasilitas mewarnai ini sengaja kami sediakan agar anak-anak bisa tenang bermain, sementara orang tua mereka bisa fokus membaca buku atau asyik mengobrol dengan teman-temannya.
Hadiah dari Warkop Tetangga di Malam yang Basah
Mesin ketik yang sekarang menjagak puncak tangga itu bermerek Facit, sebuah mesin kokoh buatan Swedia. Barang antik ini sampai ke tangan kami berkat kebaikan @_makmur, pemilik @warkopungguldjaya yang merupakan warung kopi tetangga kampung kami.
Kami masih ingat betul momen malam itu. Cuaca sedang dingin-dinginnya dan hujan turun cukup awet—lebih lebat dari sekadar gerimis, tapi belum sampai badai. Malam yang basah itu membuat jalanan aspal kampung terlihat mengilat karena pantulan cahaya lampu teras warga.
“Mas, ini dirawat saja,” kata Makmur pelan sambil menepuk bodi mesin ketik yang terasa berat itu. “Biar bisa memperkuat suasana di sini. Biar ruang ini lengkap: ada kopi, buku, dan komunitas.”
Jadi Mesin Ketik Ketujuh di Dalangan
Sejak malam yang syahdu itu, Facit yang besar dan kuat tersebut resmi menjadi bagian dari keluarga @dongengkopi. Kehadirannya sekaligus menggenapi koleksi kami, menjadikannya sebagai mesin ketik ketujuh yang menghuni kedai di Dalangan ini.
“Sayangnya memang sudah tidak berfungsi lagi, Mas,” ucap Makmur waktu itu. “Nanti kalau kapan-kapan ketemu montir yang pintar servis barang antik, siapa tahu bisa diperbaiki dan dipakai mengetik lagi. Ini barang peninggalan dari Simbah, Mas.”
Meski sekarang Facit itu hanya diam membisu di puncak tangga dan tidak bisa lagi mengeluarkan bunyi dentingan, kehadirannya justru sukses bercerita banyak hal kepada setiap pengunjung: tentang sebuah warisan, arti persahabatan antar-kedai, dan kehangatan secangkir kopi.