
Tatkala tapak kaki kami musti bersemayam di ceruk pinggiran yang terpencil, pun sunyi dari ingar-bingar jalur strategis, tiada secuil pun rasa keterasingan merayap ke dalam dada. Kami menolak menjadi kerdil oleh kepungan keadaan yang menjepit. Barangkali, ketegaran yang bersahaja ini kami timba dari sebuah hikayat klasik Tiongkok pada masa Dinasti Song, sekitar abad kesebelas, mengenai laku hidup seorang lelaki budiman bernama Su Shi, yang karib disapa khalayak sebagai Su Dongpo.
Su Shi adalah representasi paripurna dari manusia adati: seorang penyair agung yang bait-baitnya menggetarkan cakrawala, pelukis ulung yang goresannya menangkap sukma alam, birokrat istana yang disegani, bahkan maestro kuliner di balik kelezatan legendaris Dongpo Pork. Namun, lembar riwayatnya bukanlah melulu perihal gempita kejayaan. Fragmen hidupnya yang paling berkilau justru terpahat pada rentetan nestapa pengasingan yang berulang kali menghantam garis takdirnya.
Lantaran kritik-kritik sosialnya yang setajam sembilu menyeruak dari rahim puisi yang ia gubah, sang penyair musti menerima hukuman tiga kali dibuang oleh penguasa mutlak. Mula-mula, langkah kakinya digeser tak jauh dari batas kota. Namun lama-kelamaan, ia dihalau kian menjauh dari pusat pusaran kuasa, hingga akhirnya tercerabut total dari ruang dialektika para cendekia. Di masa senja yang ringkih, tatkala usia tak lagi menyisakan kemudaan, ia dideportasi ke Pulau Hainan sebuah wilayah yang pada zaman itu dianggap sebagai tepian dunia yang paling sunyi dan purba. Jauh, teramat jauh.
Di sana, tiada rak-rak perpustakaan yang menyimpan khazanah ilmu. Tiada karib sehobi untuk bertukar argumen. Yang ada hanyalah sengatan surya yang memanggang kulit, serta embusan angin laut yang sarat garam pengetir rasa.
Namun, di tengah kepungan keterbatasan itulah, magis terjadi: bait-bait puisinya justru menjelma kian bening, jernih, dan benderang.
Ia mulai bersetia merajut larik sastra mengenai ubi rebus yang ia santap takzim bersama para nelayan lokal—sosok-sosok bersahaja yang buta akan kebesaran namanya di ibu kota. Ia dengan riang bercakap-cakap perihal arah angin dan pergantian musim. Bagi Su Shi, di titik nadir itulah ia merayakan kekayaan jiwa yang sesungguhnya; sebuah kemewahan batin yang tak pernah ia jumpai tatkala bersila di meja marmer istana.
Pada malam yang lain, sembari menatap keanggunan rembulan yang merona, ia melarungkan rindu mendalam kepada saudara kandungnya tanpa sedikit pun mengutuk jarak atau menyalahkan nasib yang getir. Ia menulis dengan kepasrahan yang megah: “Manusia mengalami perpisahan dan pertemuan, rembulan mengalami kebundaran dan penyusutan; semenjak purbakala, hukumnya telah demikian.”
Su Shi menolak mengutuk pembuangan; ia justru mengolah tanah gersang itu menjadi taman batin yang rindang. Dari ceruk terpencil yang sengaja diciptakan rezim agar dunia melupakan keberadaannya, ia justru menggoreskan tinta emas agar peradaban tak pernah lupa akan hakikat kemanusiaan.
Hari ini, Dongeng Kopi di Dalangan tampaknya sedang melakoni garis nasib yang setali tiga uang dengan sang penyair Dinasti Song. Kala eksistensi kami kian berjarak dari hiruk-pikuk kota, terselip sebuah doa yang khusyuk: semoga rasa dan esensi yang lahir dari sini menjelma kian bening. Sebab adakalanya, mereka yang tersisih justru berhasil menjumpai kediriannya yang paling murni. Dari kejernihan batin itulah kelak meriap pikiran-pikiran yang waras, racikan kopi-kopi yang jujur, serta untaian kata yang takkan lekang oleh bentang jarak maupun gempuran zaman. Itulah setangkup harapan yang kami rawat di Dalangan.