
Lantai pameran kopi modern sering kali menjelma menjadi labirin yang dingin. Di sana, kilau baja tahan karat dari mesin-mesin espresso mutakhir bersaing dengan deretan alat seduh presisi tinggi. Segala tetek bengek turunan industri—mulai dari biji kopi pilihan hingga sirup perisa aneka rasa—ditata sedemikian rupa demi memikat dompet pembeli.
Namun, bagi mereka yang telah menahun malang-melintang dan paham betul patak watak industri ini, pameran sesungguhnya bukan sekadar urusan transaksi dagang. Riuh rendah itu sejatinya adalah sebuah ruang temu raksasa. Sebuah panggung komunal tempat orang-orang yang dulu disatukan oleh secangkir kopi, kembali duduk berhadapan dan saling bertukar kabar.
Aura kehangatan itulah yang terasa kental dalam gelaran Indonesia Coffee Expo (ICX) yang berlangsung di Surabaya, 29–31 Mei 2026. Perhelatan ini bukan sekadar ajang unjuk gigi para jenama besar, melainkan titik kumpul yang merawat kembali jalinan horizontal para pelaku kopi tanah air.
Dari Agenda Kompetisi hingga Ruang Silaturahmi
Bagi Dongeng Kopi, meluncur ke Surabaya akhir pekan lalu adalah sebuah keputusan impulsif yang disengaja. Kedatangan kami ke ICX Expo Surabaya tentu bukan tanpa alasan. Kami datang untuk menakar sejauh mana perkembangan industri hilir bergerak, sekaligus mengintip ketatnya atmosfer di panggung kompetisi barista. Namun, di atas semua agenda teknis itu, misi utama kami tetaplah satu: merawat silaturahmi yang telah memahat sejarah Dongeng Kopi selama bertahun-tahun.
Di tengah lautan pengunjung dan aroma pekat kafein yang mengapung di udara, ruang pameran mendadak mengecil ketika wajah-wajah familier mulai bermunculan. Langkah kami terhenti saat bersitatap dengan kawan lama. Ada sosok di balik akun @brewpour dari @memori_baik yang menyambut kami dengan senyum lebar yang khas. Di sela keriuhan stan, ia sempat membisikkan sebuah kabar baik mengenai rencana ekspansi bisnisnya untuk membuka satu kedai baru lagi di Jember.
Tidak jauh dari sana, kami juga bersua dengan Eko. Kawan lama asal Jogja yang kini memilih menetap di Ponorogo itu ternyata tidak banyak berubah. Gaya cangkeman-nya tetap hangat, ceplas-ceplos, dan selalu berhasil memancing tawa, seolah waktu tidak pernah memisahkan kami.
Perjumpaan Fisik yang Meruntuhkan Jarak Maya
Salah satu momen terbaik di ICX Expo Surabaya kemarin adalah sebuah perjumpaan yang lama tertunda oleh jarak. Setelah bertahun-tahun hanya saling menyapa dan bertukar gagasan lewat sekat layar di dunia maya, kami akhirnya bisa bertatap muka langsung dengan Harry Stiadi. Sosok penting di balik akun komunitas @baristaindonesia itu kini tengah sibuk mengawal jalannya pameran sebagai bagian dari tim event organizer @poroskopi.
Ketika ruang dalam gedung terasa makin sesak oleh kepulan uap susu dan deru mesin penggiling, kami memilih menepi. Di area luar gedung pameran, di bawah langit Surabaya, obrolan mengalir tanpa sekat. Ditemani jepitan asap rokok dan cangkir kopi plastik, percakapan kami melompat dari satu topik ke topik lain—mulai dari urusan teknis barista hingga keluh kesah geliat industri kopi hari ini.
Sebelum melangkah pulang, kami juga beruntung bisa bersalaman kembali dengan Mas Soni Rotaryana dari @kopiteknika. Satu dekade telah berlalu sejak awal pertemuan kami dahulu, namun satu hal yang tidak pernah luntur dari sosoknya: semangatnya yang menyala-nyala setiap kali bicara tentang mekanika mesin espresso dan masa depan kopi Indonesia.
Yang Tertinggal di Kota Pahlawan
Pada akhirnya, ingatan yang kita bawa pulang dari sebuah pameran besar bukanlah lembar brosur spesifikasi mesin atau daftar harga biji kopi terbaru. Yang paling berharga adalah kebersediaan orang-orang untuk datang, duduk sejenak, dan saling mendengarkan di tengah kepungan kesibukan masing-masing. Seperti karakter kopi yang baik, sebuah kekancan yang dirawat bertahun-tahun akan selalu konsisten: kental dan kaya rasa.
Meski demikian, perjalanan dadakan ini menyisakan satu ganjalan kecil. Akibat keberangkatan yang serbacepat alias gas-gasan tanpa kabar, kami gagal menemui salah satu ikon kopi Surabaya yang sangat kami idolakan, Mbak Titik dari @titik_04. Obrolan hangat dengannya terpaksa harus ditunda. Kami harus segera memutar kemudi, menyudahi obrolan fafifu fafifu di Surabaya, dan langsung melesat kembali pulang menuju Jogja.