
Siasat para pekerja remote dan eksodus mahasiswa pemburu keheningan yang menepi hingga bilangan Tirtomartani.
Gelombang warga yang duduk membuka komputer jinjing di Dongeng Kopi Dalangan terbagi menjadi dua angkatan. Pagi hingga siang adalah waktu bagi angkatan mereka yang bekerja dengan layar-layar menyala.
Para pekerja remote yang tinggal tak jauh dari kedai ini sibuk maraton dari satu rapat daring ke rapat berikutnya. Mereka menuntaskan daftar kerja yang panjang dengan wajah serius dan jemari yang nyaris tak pernah benar-benar berhenti.
Melalui ritme harian inilah, kami menyadari bahwa ruang komunal ini telah bertransformasi menjadi salah satu tempat nugas tenang di Sleman pilihan para pengelana digital.

Eksodus Mahasiswa Menjelang Petang
Sementara itu, menjelang petang hingga malam hari, gelombang lain datang mengambil tempat. Mereka adalah anak-anak muda dengan tas punggung berat dan mata yang separuh lelah.
Para mahasiswa ini sebagian besar justru bukan warga sekitar sini. Mereka rela datang dari kejauhan, memilih menepi ke bilangan Tirtomartani yang tidak ramai, lapang, serta bebas dari bisingnya ambisi kota.
Pernah suatu kali kami bertanya kepada mereka, mengapa mereka rela menempuh jarak sejauh itu hanya untuk duduk berjam-jam di sebuah kedai kecil. Jawabannya ternyata sangat sederhana, yaitu karena tenang.
Sebab di kedai kami, orang-orang tahu cara menjaga volume suara dan menghormati ruang pribadi orang lain. Tidak ada tawa yang meledak terlalu keras, tidak ada pula langkah tergesa yang mengusik konsentrasi.
Merawat Fokus di Antara Jajaran Buku
Di Dongeng Kopi, tumpukan pekerjaan terasa jauh lebih mudah untuk diselesaikan. Suasana yang kondusif ini membuat fokus mengalir secara natural dari secangkir ke secangkir menu seduhan manual kami.
Bahkan, ketika pikiran mulai buntu, koleksi buku-buku yang berjajar rapi di rak-rak panjang milik Pustaka TB Alimin segera menjadi jalan keluar yang menyelamatkan bagi ide-ide yang sempat mampat.
Di sini, di antara kepulan asap tipis dan pendar layar gawai, pekerjaan bukan lagi beban yang mengintimidasi, melainkan proses kreatif yang dirayakan dengan tenang.