
Pada zaman Dinasti Celeng Burit, ribuan tahun sebelum ibu kota dipindah demi ambisi menjadi legenda, sebelum undang-undang direvisi, dipelintir, lalu dikangkangi, hidup seorang pria bernama Bardiman. Masa itu adalah masa ketika seseorang yang muncul dari gorong-gorong dapat dipuja jadi nabi, dianggap jelmaan ratu adil oleh mereka yang haus harapan.
Bardiman lahir sebagai buruh kasar dapur. Ibunya juru masak rendahan di istana, sedangkan ayahnya tak dikenal. Sejak kecil ia tumbuh di antara jelaga, asap kayu bakar, dan denting sendok besi pada wajan tua.
Namun, dari sanalah ia belajar membaca nyala api jauh sebelum mengenal huruf. Bagi Bardiman, bara memiliki tabiat, sementara air mendidih menyimpan bahasa. Lambat laun, ia dikenal sebagai lelaki yang mampu melihat tatanan semesta di dasar sebuah periuk.
Ketika Raja Wardoyo, pendiri Dinasti Celeng Burit, mendengar kabar soal buruh dapur yang konon dapat menjelaskan filosofi rasa dan kehidupan lewat masakan, ia segera memanggilnya ke istana. Bardiman datang dengan langkah tenang. Di tangannya, ia membawa sebuah periuk hitam yang legam dimakan api.
“Apa yang hendak kau bicarakan?” tanya Raja Wardoyo.
Bardiman meletakkan periuk itu perlahan. “Jika Paduka ingin mengetahui cara memimpin kerajaan,” katanya lirih, “izinkan hamba berbicara tentang memasak daging.”
Raja mengangguk, dan menyimak dengan saksama.
Menakar Keseimbangan di Antara Dua Batas
“Daging yang terlalu matang akan keras dan kehilangan sari. Sementara itu, daging yang mentah tidak layak santap. Di antara terlalu dan kurang, di sanalah letak kebijaksanaan sang juru masak.”
Ia berhenti sejenak, memandangi hulubalang yang terus aktif ke sana ke mari, memastikan seluruh urusan sang raja tidak ada yang terlewat.
“Rasa yang sempurna tidak lahir dari bumbu yang berlimpah, melainkan dari sebuah keseimbangan. Asam yang cukup. Asin yang cukup. Manis yang cukup. Pahit yang cukup. Pedas yang cukup. Bila ada satu rasa yang hendak menjadi penguasa tunggal, maka rasa lain akan kehilangan suaranya.”
Raja mulai diam mendengarkan, meresapi setiap kalimat.
“Api yang besar menghanguskan. Sebaliknya, api yang terlalu kecil membuat segalanya setengah matang. Maka dari itu, yang dijaga bukan sekadar besarnya panas, yaitu kesabaran dalam menunggunya.”
Membiarkan Proses Bekerja Menurut Hukumnya
Bardiman mengusap bibir periuknya dengan pelan.
“Dan juru masak terbaik tidak merasa perlu mencampuri masakan setiap saat. Ia menyiapkan segalanya dengan saksama, menakar seperlunya, lalu membiarkan proses bekerja menurut hukumnya sendiri.”
Lama Raja Wardoyo terdiam. Aula istana mendadak terasa begitu lengang. Akhirnya ia berkata pelan, “Kau sedang berbicara tentang kerajaan.”
Bardiman mengangkat wajahnya. Tatapannya datar saja.
“Hamba hanya bicara tentang periuk, Paduka,” ujarnya. “Kesimpulan adalah milik mereka yang mendengar.”
Di Dongeng Kopi Institute, kami percaya bahwa seni menakar api dan menjaga keseimbangan rasa seperti yang diucapkan Bardiman bukan hanya berlaku bagi isi periuk atau kerajaan, melainkan juga berlaku mutlak di atas mesin sangrai roastery kami.