
Di selasar Dongeng Kopi, sebuah oase tempat ngopi Jogja yang bersemayam anggun di wilayah pinggiran Kabupaten Sleman sisi timur lanskap kebudayaan dirawat lewat rupa-rupa benda magis. Di antara meja-meja panjang tempat cangkir-cangkir bertukar tutur, bertengger tujuh unit mesin ketik tua yang purba. Lima di antaranya masih bersetia menggembalakan hayat; pitanya hanya butuh diputar barang sedikit manakala ketukan huruf mulai memucat. Lalu, seketika ruang akustik akan dipenuhi bunyi: tak-tak-tak, sebuah ritme magis yang menyerupai derai gerimis tatkala jatuh menghujam permukaan payon seng.
Kendati piranti-piranti ortografis itu telah dimakan usia, fungsi mekanisnya masih berada dalam kondisi yang sangat prima. Ia hanya duduk diam, berselimut hening, menanti sepasang tangan yang cukup bernyali untuk meraba dan menghidupkan kembali jiwanya.
Menguji Nyali Kata di Sleman Timur
Sembari menatap deretan tuts-tuts besi yang membisu itu, mendadak terbit sebuah gagasan liar di dalam benak kami. Bagaimana jikalau pada suatu petang yang lengang, kita meretas sebuah agenda puisi dadakan? Sebuah laku kreatif yang terinspirasi dari ritus jenaka para pedagang tahu bulat yang menjajakan dagangan sambil bernyanyi di atas bak terbuka. Bedanya, di bawah atap Dalangan, yang digoreng mendadak bukan lagi adonan kedelai, melainkan bait-bait kata yang jujur.
Formasi dan ritus pertempuran estetik ini akan digelar secara terstruktur dan sistematis:
- Lima raga manusia bersila khusyuk di depan meja tempat mesin ketik nangkring;
- Lima pasang jemari bersiap di atas altar huruf, meraba dinginnya besi;
- Lima belas menit waktu mutlak dialokasikan tanpa ada toleransi sedetik pun.
Tema puisi akan diumumkan seketika, berdentang laksana bunyi lonceng perunggu di rumah ibadah: dadakan, spontan, sak deg sak nyet tanpa ada jeda untuk bersiasat.
Melahirkan Puisi dari Ketukan Mesin Tik Tua
Seketika waktu bergulir, atmosfer ruangan akan langsung dipenuhi oleh simfoni mekanis yang memburu: tak-tak-tak… ting! tak-tak-tak…
Larik-larik puisi akan lahir dari jemari yang gugup memendam rindu, dari batok kepala yang setengah bingung dirundung asmara, serta dari palung hati yang adakalanya terlampau penuh oleh endapan lara kehidupan. Di ruang dialektika ini, Anda tak perlu menjelma menjadi penyair besar sekelas Chairil Anwar atau Rendra. Seseorang cukup bertekad menjadi manusia adati yang berani merangkai kata secara merdeka di atas selembar kertas buram.
Bagaimana menurut takaran rasa kalian, wahai Warga Kerepdolan (@kerep.dolan)? Jikalau gagasan bersahaja ini dirasa mampu memantik kesenangan batin, silakan ketik lema “mau” di dalam kolom komentar yang tersedia.
Siapa tahu, pada suatu petang yang berbalut senja melandai nanti, di sudut kedai Dongeng Kopi Sleman, bait-bait puisi akan lahir, beranak pinak, lalu berkeliaran dengan bebas menghidupkan sudut-sudut sunyi di Dalangan. Kami menanti nyali aksara Anda.