
“Ceritakan padaku tentang Murid yang Ingin Menjadi Guru Sebelum Waktunya,” pinta Alina kepada sang penutur hikayat, sembari menyesap lamat-lamat secangkir kopi hitamnya.
Maka, lelaki perekat kisah itu pun mulai merajut suara. Sebuah nubuat purba tentang seorang cantrik yang teramat cerdas di tanah Hindustan, namun tak sengaja meneguk racun yang amat halus berwujud puja-puji.
Syahdan, di tubir Sungai Gangga, di bawah lambaian beringin tua yang sulur-sulurnya seperti menyekap rahasia berabad-abad, bersemayamlah seorang resi agung bernama Vashishtha. Muridnya berduyun, namun yang paling benderang melampaui sesama adalah Kaushik.
Anak muda itu mereguk ilmu dengan rakus, laksana pengelana dahaga yang mendapati mata air di tengah sahara. Hanya dalam tiga warsa, ia tuntas melumat habis seluruh laku anutan yang lazimnya baru khatam dalam sedasa warsa. Namanya lekas bergaung, menjalar di antara segenap sekoci cantrik, barisan mahaguru, hingga kaum saudagar yang sejenak singgah di tepian dermaga sunyi itu.
Namun, sanjungan adalah madu berbisa yang merayap tanpa suara.
Kaushik mulai lancang memamah takhta. Ia mengajar para pamekar muda tanpa pernah diminta. Dengan jemawa, ia gemar meluruskan kekeliruan nalar kawan-kawannya di hadapan khalayak ramai. Ia melangkah ke ruang telaah bukan lagi untuk menyelami hakikat paham, melainkan demi memamerkan betapa penuh lambung pikirannya oleh hafalan.
Suatu hari, di bawah teduh rindang dedaunan, Vashishtha melontarkan sesuluh tanya, “Apakah yang bobotnya jauh lebih berat ketimbang bumi?”
Seketika sunyi menyergap. Para cantrik terdiam, menimbang-nimbang dalam benak yang dalam. Namun, Kaushik langsung menyambar tanpa ragu, “Ibu. Sebab rahim dan pundaknyalah yang menanggung murka serta mulia isi semesta.”
Sebuah jawaban yang elok, sesungguhnya. Vashishtha mengangguk takzim, lalu menyahut dengan ketenangan yang menggetarkan, “Benar, anakku. Namun kau mengucapkannya sebelum benak yang lain selesai menenun pikir. Kau telah merampas daulat mereka untuk menemukan mutiara rahasianya sendiri.”
Hati Kaushik terbakar api ketersinggungan. Ia angkat kaki dari sana, lalu mendirikan ashramnya sendiri. Murid-murid baru berdatangan, terpikat oleh gaung namanya yang telanjur megah. Namun, satu demi satu dari mereka menyurut langkah dan pergi. Sebab di pertapaan itu, sosok yang paling bebal untuk belajar justru adalah Kaushik sendiri. Ia khotbah, namun telinganya tuli dari keluh-kesah. Ia berucap, namun matanya buta dari melihat tunas-tunas muda yang layu sebelum berkembang.
Dua puluh warsa berselang, dengan rambut yang mulai memutih oleh debu waktu, Kaushik melangkah gontai kembali ke beringin tua itu.
“Aku tak pernah berhasil melahirkan seorang murid pun yang mampu melampaui capaianku,” keluhnya, tertunduk di hadapan sang resi.
Vashishtha mengurai senyum, sebuah senyum yang sarat akan pengampunan sekaligus kebenaran purba.
“Sebab kau mengajar demi menuai takjub, bukan untuk menumbuhkan kehidupan. Pohon yang hanya berambisi tampak paling menjulang, tak akan pernah rela membiarkan cabang-cabang di bawahnya tumbuh merayap lebih tinggi menantang matahari.”