Yuliono Singsot, Kopi Keliling dan Tawa yang Menggugat

Di Yogyakarta, kopi tidak selalu lahir dari mesin mengilap dan meja marmer. Kadang ia datang bersama derit rantai sepeda, termos sederhana, dan seorang lelaki yang lebih dulu dikenal sebagai pelawak panggung. Namanya Yuliono Singsot—figur yang menempuh jalan sunyi sekaligus riuh dalam dunia kopi.

Dalam percakapan bersama Renggo Darsono di Episode 23 TANDANG, Yuliono menuturkan hidupnya tanpa pretensi. Tutur katanya mengalir seperti puisi yang tak dipaksa rapi: jenaka, getir, namun jujur. Ia tidak membangun citra; ia membagikan pengalaman.

Perkenalannya dengan kopi terjadi jauh dari laboratorium sensori atau meja cupping. Ia belajar dari dapur Warkop Bardiman—ruang kerja yang panas, penuh uap, dan riuh pelanggan. Awalnya ia peminum teh. Di sana ia mencuci piring, membantu operasional, mengamati bagaimana pelanggan datang dan pergi. Dari balik bak cuci, ia memahami bahwa kopi bukan sekadar minuman, melainkan alasan orang singgah. Perlahan, kopi menjadi jalan pulang—tentang ritme kerja, tentang keberanian membuka usaha sendiri.

Soal selera, Yuliono menolak hierarki. Ia menyukai Arabika Jawa Barat seperti Puntang dan Malabar, tetapi tetap membela Robusta Wonosobo, tanah asalnya. Baginya, selera adalah pengalaman personal, bukan medan superioritas. Pernyataan itu sederhana, tetapi relevan di tengah industri yang kerap terjebak pada dikotomi mutu dan gengsi.

Dari dapur warkop, ia meluncur ke jalanan. Dengan bendera Singsot Sepeda Kope, ia menjadi salah satu pelopor street coffee di Jogja. Berjualan keliling dari Ambarrukmo hingga Demangan, ia mengayuh sepeda sambil membawa termos dan alat seduh. Di jalanan, ia belajar hukum paling dasar perdagangan: konsistensi. “Repeat order adalah kehormatan tertinggi,” katanya. Mesin mahal tanpa relasi hanyalah properti. Pelanggan kembali bukan karena estetika, melainkan karena kepercayaan.

Perjalanannya tidak mulus. Ia beberapa kali membuka dan menutup Warkop Singsot di lokasi strategis. Ada yang bertahan sejenak, ada yang tumbang lebih cepat. Kegagalan tidak ia romantisasi, tetapi juga tidak ia sesali berlebihan. Ia memegang satu keyakinan: hidup tujuannya adalah hidup itu sendiri. Kalimat itu terdengar ringan, namun diucapkan dengan disiplin batin. Optimisme, baginya, bukan slogan motivasi, melainkan keputusan yang diperbarui setiap hari.

Di panggung, Yuliono menjelma penyair jalanan. Lagu satir seperti “Tikus Berdasi” menjadi medium kritik sosial. Ia pernah bersinggungan dengan kelompok teater, membaca puisi, bahkan menghidupkan kembali “Sajak Sebatang Lisong” karya W. S. Rendra dalam orasi yang pedas. Humor bukan pelarian; ia adalah alat gugatan. Tawa, dalam tangannya, berubah menjadi cara menegur kuasa tanpa kehilangan kemanusiaan.

Menariknya, lelaki yang menyebut diri “orang jalanan” ini rajin berburu buku bekas di lapak rongsok. Ia membaca Pramoedya Ananta Toer dan Joko Pinurbo, mempelajari komunikasi, mengunyah puisi. Literasi baginya adalah modal agar tidak mudah dipermainkan. Pengetahuan menjadi tameng, sekaligus jembatan untuk memahami orang lain.

Komunitas pun menjadi ruang belajar: Vespa, teater, pantomim, hingga lingkar spiritual. Dari jejaring itulah ia membangun modal sosial—memperbaiki mesin kopi, merancang kolaborasi, bertukar gagasan. Berkesenian dan berjualan kopi, pada akhirnya, sama-sama kerja relasi.

Di ujung percakapan, pesannya sederhana dan nyaris klise, tetapi terasa tulus: fokus pada diri sendiri, jaga usaha agar mampu menghidupi keluarga, jangan sibuk menghakimi. Di tengah industri kopi yang kian teknis dan kompetitif, Yuliono Singsot mengingatkan bahwa secangkir kopi tetaplah peristiwa manusia—tempat tawa, kritik, dan daya tahan diracik bersama.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.