Di Minomartani, tepatnya di sebuah gang tenang di Ploso Kuning, berdiri ruang kecil bernama Toko Gumi. Ukurannya tidak luas. Rak-raknya tidak menjulang tinggi. Namun arah yang dituju dari ‘tempat ini’ terasa jauh. Episode spesial Tandang mengajak saya berkunjung ke sana, berbincang dengan dua perintisnya, Bob dan Tania. Sejak April 2024, keduanya menata ruang ini pelan-pelan.
Nama “Gumi” berasal dari Guru Bumi. Sebuah gagasan yang terdengar sederhana. Bumi dianggap sebagai pengajar pertama. Ia menyimpan pengetahuan tentang tanaman, hewan, pangan lokal, juga cara hidup yang diwariskan turun-temurun. Dari sanalah lahir keinginan menghadirkan buku-buku yang mengenalkan Indonesia kepada anak-anak. Penulis, ilustrator, dan peneliti lokal diposisikan sebagai guru yang menyampaikan kekayaan itu melalui cerita dan gambar.
Jejak Gumi telah muncul beberapa tahun lalu. Produk Guru Bumi pernah diluncurkan dalam sebuah acara di Dongeng Kopi sekitar 2019 atau 2020. Saat itu, mereka belum memiliki ruang tetap. Kini gagasan itu menemukan rumahnya sendiri.
Bagi Tania, Gumi bukan usaha yang lahir tiba-tiba. Ia berakar pada masa kecilnya. Ibunya rajin mendongeng. Ia akrab dengan perpustakaan. Ketika sempat tinggal di Amerika, ia melihat toko buku anak yang dirancang imajinatif dan ramah bagi pembaca kecil. Pengalaman itu menetap lama. Ia menyadari ruang literasi anak yang interaktif masih jarang ditemui di sini. Dari situ, Gumi dibayangkan sebagai ruang tumbuh, bukan sekadar tempat jual beli.
Perpustakaan kecil di dalam toko menjadi pusat kegiatannya. Kurasi buku bahkan berangkat dari pilihan ibunya dahulu. Karena memiliki keterbatasan pendengaran, Tania dibiasakan membaca buku dengan ilustrasi jelas serta narasi ringkas dan kuat. Ia masih menyimpan koleksi cerita rakyat langka, hadiah dari orang tuanya. Buku-buku itu sarat nilai dan membekas hingga sekarang. Koleksi tersebut kemudian diperkaya dengan buku impor bertema lingkungan, buku berbahasa Jepang, serta buku bekas berkualitas yang mereka cari satu per satu.
Pasar buku anak sering dianggap sempit. Bob dan Tania melihatnya berbeda. Justru karena belum ramai, ruang ini perlu dihidupkan. Mereka tidak ingin Gumi menjadi satu-satunya. Harapannya sederhana: setiap kabupaten memiliki toko buku anak yang hidup. Literasi tumbuh sebagai kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar perayaan sesaat.
Di Gumi, anak-anak boleh membuka buku contoh, menyentuh kertasnya, mencoba halaman lipat, dan duduk membaca tanpa kewajiban membeli. Bob mengatakannya dengan ringan. Transaksi memang penting agar toko bertahan. Namun kecintaan pada buku anak harus didahulukan. Jika ada yang datang hanya untuk membaca di perpustakaan, pintu tetap terbuka.
Ekosistem itu dirawat melalui berbagai kegiatan. Setiap pekan ada Jumaring, Jumat Membaca Nyaring. Orang tua dan anak duduk bersama, membaca keras-keras, berbagi cerita. Sebulan sekali ada Main Bersama Bapak, ruang bagi ayah dan anak untuk bermain dan membaca tanpa canggung. Kelas sensori, sesi mendongeng, dan temu kreator memperkenalkan anak pada profesi penulis dan ilustrator. Board game bertema serangga digunakan untuk mengenal ragam hayati sekaligus belajar menerima menang dan kalah. Dua kali sebulan, anak-anak diajak keluar ruang. Mereka mengunjungi museum, kebun, atau mengamati serangga. Sepulangnya, temuan itu dicocokkan dengan buku yang ada di rak.
Buku yang paling sering dibeli adalah pop-up lokal tentang hewan dan profesi. Ensiklopedia Gumi Nusantara: Piring Kita juga diminati karena mengenalkan kopi, andaliman, hingga jagung bose dengan bahasa yang mudah dipahami. Di perpustakaan, buku interaktif justru paling cepat berpindah tangan. Buku resep dengan halaman yang dapat dibuka-tutup membuat anak pura-pura mengocok telur dan membuat panekuk. Imajinasi bekerja bersamaan dengan gerak tangan.
Tantangan tentu ada. Penerbit khusus anak di Indonesia belum banyak. Meyakinkan orang tua bahwa karya lokal memiliki mutu setara buku luar negeri memerlukan kesabaran. Namun Gumi bertahan pada keyakinan bahwa anak membutuhkan pengalaman langsung. Mereka perlu menyentuh tekstur kertas, merasakan lipatan halaman, dan mencium aroma buku. Pengalaman itu sulit digantikan layar.
Di tengah derasnya gawai, Gumi memilih buku fisik. Di tengah hitung-hitungan pasar, mereka memilih menumbuhkan kebiasaan. Minomartani mungkin hanya satu titik kecil di Sleman. Namun dari ruang sederhana itu, masa depan dibacakan dengan suara lantang.
Barangkali di tempat seperti inilah bumi kembali menjadi guru.