Agus Purwanto dan Seni Bangkit: Kamus Hidup Tanpa Kata Menyerah

Di Demangan, sejak 2018, ada sebuah kedai yang tumbuh tanpa banyak gembar-gembor tren. Namanya Alembana Coffee. Di baliknya adalah Agus Purwanto lelaki kelahiran Lampung yang memilih Jogja sebagai ruang jatuh sekaligus ruang bangkit.

Renggo mengenalnya sebagai kawan lama yang akrab dengan fase pahit: ditipu, dikhianati, bangkrut. Namun setiap kali terkilir, ia tidak berhenti berjalan. “Nek wedi ojo wani-wani, nek wani ojo wedi-wedi.” Jika takut, jangan sok berani. Jika sudah berani, jangan setengah hati. Pepatah itu bukan tempelan dinding; ia menjadi pegangan hidup.

Agus bukan lulusan tata boga. Ia belajar Teknik Informatika. Namun hidup, baginya, bukan garis lurus mengikuti ijazah. Ia pernah mengelola studio kreatif, bisnis donat yang sempat ramai, kedai kopi, hingga usaha sate klatak. Ia menyebut pilihannya sebagai “seni membaca peluang” melihat celah yang belum dipadati orang.

Trauma karena pengkhianatan tidak ia sangkal. Namun ia mengubahnya menjadi kehati-hatian. Ia kembali belajar, mengambil Manajemen SDM, dan menyadari bahwa usaha bukan hanya soal produk, melainkan soal memahami manusia. Ia banyak terinspirasi oleh Colonel Sanders kisah tentang sukses yang datang setelah usia matang dan kegagalan berlapis.

Alembana tidak ikut arus perang harga atau hiruk-pikuk “skena”. Strateginya sederhana: konsisten menjaga kenyamanan, merawat kualitas rasa, dan memelihara komunitas. Les bahasa, komunitas digital, mahasiswa yang membutuhkan ruang tenang merekalah denyut tetap yang membuat kedai ini hidup. Nilai merek dibangun bukan dari sensasi, melainkan dari pengalaman yang berulang.

Nasihatnya kepada calon wirausaha terdengar lugas: mulai saja dulu. Jangan terhipnotis janji instan. Dan jika ingin mengenal watak seseorang, ujilah lewat urusan uang di sanalah karakter biasanya terbuka tanpa topeng.

Di ujung percakapan, Agus berbicara tentang kebebasan. Bukan kebebasan dari kegagalan, melainkan kebebasan untuk terus mencoba tanpa memelihara dendam. Kesuksesan, baginya, adalah ketika ia mampu berdiri lagi dan memastikan orang-orang yang bekerja bersamanya ikut bertumbuh.

Alembana kedai di Demangan, bagi Agus adalah satu dari catatan bahwa keberanian bukan ketiadaan takut, melainkan kesediaan untuk tetap melangkah meski pernah runtuh.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.