Surat Untuk Warga Kerepdolan

Amplop berisi surat, secangkir kopi dan sejumlah cerita di Dongeng Kopi

Apa kabar kawan kawan? Sudah lama sekali kami tidak membagikan kabar padamu.

Pada warga kerepdolan – Kerukunan Pelanggan Dongeng Kopi Lan Kekancan – yang terhimpun sejak tahun 2012, tepat tiga belas tahun Oktober nanti.

Kami tulis surat ini sebenarnya memberitahukan – sungguh telah demikian lama kami tak merangkai kabar ke hadapan panjenengan sekalian. Sebuah laku yang barangkali serupa puasa bicara, berdiam mengambil jeda dari keramaian, dari lalu lalang lini masa yang begitu riuh rendah.

Selepas akhir bulan Maret kemarin, serial “Kaki Merapi” telah menepi, tamat. Serupa sebuah babad yang akhirnya menutup lembaran terakhirnya.

Begitu kalender tanggal, memasuki bulan April, tajuk pun berganti, seiring perpindahan Dongeng Kopi ke Tenggara dari tempat semula.

Jika kami sandingkan dengan laku leluhur, peristiwa ini seperti babak Empu Sindok memindah Medang ke jauh sebelah timur lantaran Merapi. Kami sama. Jika muntahan berabad silam adalah lahar panas membara, muntahan tahun ini adalah ledakan kedai-kedai kopi yang membara memenuhi seantero kaki Merapi. Ingatkah, di penghujung tahun dua ribu delapan belas, saat kami pertama kali menjejak Umbulmartani, sebuah desa yang jaraknya tak lebih dari sebatang klobot dihisap hingga habis dari tempat yang sekarang?

Kala itu, rentangan satu tangan jari jemari tak genap.

Sekarang? jumlahnya berlipat-lipat, dua tangan direntangkan atas seluruh jari jemari masih tak sanggup menggenapi bilangan. Kami harus mengakui kekalahan dari muntahan kedai-kedai itu, yang akibatnya sungguh terasa; kunjungan merosot drastis, pendapatan anjlok tak terkira.

Maka, kami pun menyingkir, mendekat ke Candi Sari, tempat para biksu menimba ilmu di dua belas abad silam. Berdempetan dengan Candi Kedulan, bangunan suci yang memadukan laku langit dan bumi, sebuah pertautan antara ruh dan raga, antara yang fana dan yang abadi.

Tidaklah berlebihan kiranya, bila tajuk di tempat yang baru ini adalah #DalanginDalangan. Sebuah laku mendalang, ngudal piwulang dari dusun Dalangan, menyampaikan ilmu, satu laku yang seturut dengan spirit Candi Sari, tetangga kami, sebuah ruang menyesap pengetahuan pada abad kedelapan. Pun sejalan dengan Candi Kedulan yang berdempetan dengan kami, tempat Ganesha perwujudan kebijaksanaan, pengetahuan, perisai dari segala aral melintang menghadap ke barat. Persis Dongeng Kopi kini yang pintu masuknya dari arah barat.

Tempat sekarang kami semat nama Sasana Krida Dongeng Kopi Roastery demikian di mesin pencari jika butuh penjuru untuk mencari tuju. Sebuah ejawantah nyata atas ruang berlatih, tempat menimba ilmu, lapangan menempa diri, sebuah kalangan sunyi untuk mesu raga, mesu jiwa, mesu lahir, mesu batin, mesu jasmani, mesu ruhani. Semuanya demi mencapai keseimbangan diri melalui secangkir kopi, jauh dari riuhnya hiruk pikuk. Itulah Dalangan. Dongeng Kopi yang sekarang.

Warga Kerepdolan sekalian, serat ini tulisan pertama setelah dua purnama lebih kami tidak berkabar. Kalau biasanya kami lakukan rutin setiap hari, kadang satu, kadang tiga kabar kami bagikan. Ini sudah lama tidak membagi aktivitas, memang selama tiga bulan ini, kami coba merancang format paling tepat soal operasional dapat berjalan, lantaran cuman digawangi dua orang: Sang Dalang, Juru Cerita, Renggo Darsono, barengan Sinden sekaligus Pengrawit, Ayuri Murakabi, mulai dari kembang sampai tancep kayon.

Kembang simulai dari waktu “byar”, sebelum “pecat sawed”, hingga “sirep” untuk tancep kayon. Meskipun dalam praktiknya, beberapa warga Kerepdolan kerap betah hingga “lingsir wengi”.

Selama tiga bulan terakhir ini, waktu yang paling banyak disinggahi warga adalah antara “byar padang” ketika terang benderang menyapa, dan “tunggang gunung – tibra layu – surup” ketika matari perlahan menuju peraduan. Demi berebut memandang baskara angslup, pas cahaya berpendar keemas an.

Serat ini kami kirim, mengabarkan bahwasanya kami membuka kedai tidak dengan ‘ngoyo’, tidak dengan nafsu menggebu. Sebab, kami lebih suka begini, tidak terlalu ramai, dan janganlah terlampau ramai. Agar semua warga nyaman kala hendak mesu brata kanthi srana ngopi di Dongeng Kopi. Keheningan dan ketenangan, itulah yang kami harap, agar kopi tiap sesapan kopi selaras perjalanan batin, segar jiwanya segar raganya.