
Senja memang mempunyai banyak nama, seakan-akan bahasa kita menyediakan beragam panggilan mesra untuk satu waktu yang sama. Ada yang menyebutnya swastamita, kata tua yang berbau kitab dan mantra; ada pula jingga, petang, surup, atau lembayung semuanya seperti sebutan sayang bagi detik ketika hari perlahan menutup pintunya. Pada saat itulah cahaya menjadi lembut, bayang-bayang memanjang, dan dunia seperti menurunkan suaranya beberapa nada lebih pelan.
Di jam-jam semacam itu, kopi menemukan alasan paling wajar untuk diseduh.
Dulu, di linimasa orang-orang, senja hampir selalu datang bersama cangkir. Banyak yang memamerkan foto kopi dengan takarir pendek: ngopi senja. Dua kata sederhana, mungkin klise, tetapi tetap saja hangat sehangat uap kopi yang mengepul pelan dari bibir cangkir.
Barangkali orang tidak sedang mencari keindahan yang luar biasa. Mereka hanya ingin mengatakan satu hal kecil: bahwa hari ini, pada petang yang sederhana, ada secangkir kopi yang menemani.
Namun seperti semua hal di dunia maya, kelakar sering datang lebih cepat daripada ketulusan.
Entah dari mana mulanya, muncul seloroh anak kopi yang nakal itu: “senja taik kucing.” Sebuah kalimat yang barangkali lahir dari iseng, tetapi kemudian beredar seperti gurauan yang menular. Sejak saat itu, unggahan tentang ngopi senja perlahan seperti surut dari permukaan linimasa.
Orang menjadi sedikit rikuh.
Takut dianggap berlebihan.
Takut dijadikan bahan olok-olok.
Padahal, jika dipikir-pikir dengan hati yang lebih tenang, apa sebenarnya yang salah dengan senja?
Bukankah pada saat itulah langit justru membuka pertunjukan warna yang paling halus? Ketika matahari mulai angslup, cahaya tidak lagi menyilaukan seperti siang. Ia berubah menjadi lembut, lirih, dan keemasan. Warna-warna lembayung jatuh perlahan di pematang sawah, di atap rumah, di daun-daun pohon, bahkan sampai ke bibir cangkir kopi yang kita pegang.
Senja tidak pernah tergesa-gesa.
Ia datang dengan langkah yang lambat tetapi pasti, seperti seorang tamu lama yang tahu benar cara mengetuk pintu waktu.
Pada saat-saat semacam itu, saya sering teringat pada kisah dalam Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma. Dalam cerita itu, ada seseorang yang begitu mencintai senja hingga nekat melakukan sesuatu yang mustahil: ia memotongnya.
Bukan memotong dengan pisau, tentu saja, melainkan dengan imajinasi yang penuh kesungguhan.
Ia berkata dengan sederhana:
“Aku ingin memotong sepotong senja untukmu.”
Kalimat itu terdengar seperti gurauan, tetapi di dalamnya tersembunyi kerinduan manusia yang paling tua: keinginan untuk menyimpan sesuatu yang indah agar tidak segera hilang.
Barangkali begitulah tabiat manusia terhadap senja. Kita ingin menyimpannya, ingin membawanya pulang, ingin menjadikannya kenang. Sebab pada jam-jam lembut itulah hari terasa paling jujur. Ia tidak lagi tergesa seperti pagi yang penuh janji, belum pula tenggelam seperti malam yang sarat rahasia.
Senja adalah peralihan yang tenang.
Sebuah jeda kecil di antara dua kesibukan besar kehidupan.
Di waktu seperti itu, kopi tidak lagi sekadar minuman. Ia menjadi teman diam, saksi percakapan, kadang juga pengantar kenang. Dari uapnya yang tipis kita belajar sesuatu yang sederhana: bahwa kehangatan sering datang dari hal-hal kecil yang tidak dibuat-buat.
Maka gambar dari Dalangan ini kami bagikan saja kepada kawan-kawan sekalian. Bukan untuk ikut-ikutan merayakan tren, apalagi untuk menantang olok-olok.
Tidak juga untuk membuktikan bahwa senja harus selalu romantis.
Kami hanya ingin mengingatkan sesuatu yang kecil, tetapi mungkin penting: bahwa dunia ini masih menyediakan waktu-waktu yang lembut, selama kita mau berhenti sejenak untuk menikmatinya.
Kalau ada yang ingin memotong senja, biarlah.
Itu urusan para pemimpi dan para penyair.
Kami di Dalangan cukup melakukan satu hal yang lebih sederhana: menyeduh kopi, menunggu uapnya naik perlahan, lalu membiarkan senja jatuh pelan-pelan ke dalam cangkir.