Tanggal 15 Juni 2025, siniar TANDANG kembali berjalan sesuai namanya: datang dan menyambangi. Kali ini arahnya menanjak ke Kaliurang, di lereng Gunung Merapi. Di sana berdiri sebuah bangunan yang dari luar tampak seperti vila pegunungan. Hangat, rapi, bersahaja. Siapa sangka, di dalamnya tumbuh sebuah ruang yang sibuk oleh gagasan.
Episode ketiga di kanal Daratama itu mempertemukan penonton dengan Tito Haranto, atau yang akrab disapa Mas Tito. Ia menjadi salah satu penggerak Ruang Literasi Kaliurang, disingkat RLK. Percakapan berlangsung santai, tetapi isinya padat. Dari sana terkuak alasan mengapa ruang ini lahir.
RLK berangkat dari kegelisahan yang sederhana. Banyak orang bisa membaca, tetapi tidak semua terbiasa memaknai. Buku sering selesai di halaman terakhir tanpa sempat diendapkan. Dari kegelisahan itu, RLK dirintis pada akhir Desember 2023 dan dibuka untuk umum pada 1 Februari 2024. Sejak awal, ia tidak ingin sekadar menjadi tempat meminjam buku. Ia ingin menjadi titik temu ide.
Bangunannya memang lengkap. Ada perpustakaan umum, pustaka anak, studio film, pendopo, hingga plaza terbuka. Namun yang membuatnya hidup adalah aktivitasnya. Sameja menjadi forum diskusi kecil yang intim. Mahasiswa mempresentasikan draf skripsi sebelum berhadapan dengan dosen penguji. Ada Kubacak, ruang bedah buku yang lebih terarah. Anak-anak memiliki kelas literasi sendiri. Mereka diajak membaca lewat cara yang menyenangkan. Sesekali digelar kuliah umum dengan tema sains, politik, atau sejarah. Pemikiran Pramoedya Ananta Toer dan Tan Malaka pernah dibedah di sana. Nama besar itu tidak ditempatkan di rak tinggi, melainkan diajak turun ke meja diskusi.
Mas Tito menyebut RLK sebagai ekosistem. Ia tidak ingin ruang ini terasa kaku. RLK buka hingga pukul 21.30 WIB. Waktu yang cukup ramah bagi pekerja dan mahasiswa. Tidak ada biaya keanggotaan. Siapa pun boleh menggunakan ruang selama berkoordinasi lebih dulu. Komitmen dijaga lewat saling percaya.
Koleksinya terbilang besar. Sekitar 10.000 judul dengan total 20.000 buku. Sebagian berasal dari koleksi pribadi Willy Aditya yang kemudian dibuka untuk publik. Rata-rata 75 orang datang setiap hari. Pernah pula mencapai 200 pengunjung. Angka itu memberi pesan sederhana. Minat baca ada. Ruang yang nyaman jauh lebih menentukan.
RLK tidak menutup mata pada persoalan. Ada buku yang hilang. Ada yang dibawa pulang tanpa izin. Pengelola memilih menyikapinya dengan kepala dingin. Mereka percaya, buku yang hilang setidaknya sedang dibaca di tempat lain. Sebuah ironi, memang. Namun lebih baik buku berpindah tangan karena diminati, daripada diam berdebu di rak.
Ke depan, RLK menyiapkan langkah baru. Hasil diskusi akan didokumentasikan dalam bentuk buku cetak dan digital. Studio podcast sedang dirancang. Toko buku dan ruang kopi masuk dalam rencana. Di lereng Merapi, pengetahuan dan kopi terasa seperti pasangan yang wajar. Keduanya mengundang orang untuk tinggal lebih lama.
Melalui TANDANG, kunjungan ke RLK memperlihatkan wajah lain perpustakaan. Ia bukan ruang sunyi yang menuntut bisik-bisik. Ia adalah ruang hidup yang membuka pintu bagi percakapan. Di kaki gunung yang menyimpan potensi letusan, ada sekelompok orang yang memilih menyalakan api yang berbeda. Api itu bernama pengetahuan. Mereka menjaganya dengan cara sederhana. Datang, membaca, berdiskusi, lalu pulang dengan pikiran yang sedikit lebih terang.