Rencana Manusia, Tafsir Waktu

duduk di beranda dongeng kopi

Tidak ada yang benar-benar pasti di dunia ini. Kepastian, jika pun ada, sering kali hanya sebatas harapan yang kita tata rapi di dalam kepala seperti meja yang telah disusun, cangkir yang telah disiapkan, dan jam yang telah dipandang berulang kali. Tetapi hidup tidak selalu berjalan menurut tata yang kita bayangkan. Ia memiliki iramanya sendiri: kadang selaras dengan rencana, kadang pula melenceng dari garis yang telah kita gambar dengan penuh keyakinan.

Di situlah manusia belajar memahami satu hukum lama yang tak pernah benar-benar usang: kehidupan selalu bergerak dalam dialektika. Hari ini kita menyusun niat dengan kesungguhan, menimbang waktu dengan kehati-hatian, menata langkah dengan ketertiban. Namun esok hari, kenyataan datang membawa tafsirnya sendiri sering kali tak sama dengan rancangan yang kita tulis dalam pikiran.

Manusia boleh merancang, tetapi waktu sering mempunyai kehendaknya sendiri.

Ia bergerak tanpa banyak suara, tetapi dampaknya terasa pada setiap perubahan kecil yang kita alami. Kadang ia berjalan lurus seperti jarum jam yang patuh pada porosnya; kadang pula ia menyimpang sejenak, membuat kita berhenti dan menoleh sebelum kembali melangkah.

Begitulah yang terjadi beberapa hari silam di sebuah pagi.

Semula kami berniat membuka pintu tepat pukul sepuluh. Angka itu bukan sekadar angka. Ia telah disebut sejak semalam sebelumnya, diulang dalam percakapan ringan, dicatat dalam ingatan, bahkan hampir terasa seperti janji yang sudah ditandatangani oleh waktu itu sendiri.

Sepuluh. Sebuah bilangan yang tampak sederhana, tetapi sarat dengan makna keteraturan.

Namun pagi sering datang dengan kisah-kisah kecil yang tak bisa dipercepat. Seperti pagi di suatu hari kemarin. Pagi memiliki cara sendiri untuk menguji kesabaran manusia. Ada urusan yang harus diselesaikan dengan tenang, ada langkah yang perlu dituntaskan satu demi satu. Tidak semuanya dapat dipadatkan seperti baris angka dalam jadwal. Sebab kehidupan, sebagaimana kita tahu, bukan sekadar hitungan waktu ia adalah rangkaian peristiwa yang masing-masing memiliki ruangnya sendiri.

Maka waktu pun sedikit bergeser.

Tidak jauh. Hanya setengah jam. Pintu akhirnya terbuka sekitar pukul sepuluh lewat tiga puluh pada hari itu.

Bagi sebagian orang, barangkali itu hanya perubahan kecil sekadar pergeseran yang nyaris tak berarti. Tetapi bagi mereka yang terbiasa menimbang waktu dengan kesungguhan, perubahan sekecil itu sering menghadirkan pelajaran yang lebih dalam.

Bahwa hidup tidak selalu lurus seperti jarum jam.

Kadang ia berbelok sejenak sebelum kembali ke jalurnya. Kadang ia melambat sebentar agar kita sempat memahami apa yang sedang terjadi. Bahkan kadang ia mengajarkan bahwa keteraturan bukan berarti kaku, dan ketepatan bukan berarti tanpa kelonggaran.

Di sanalah manusia belajar tentang batas dirinya.

Ada perkara-perkara yang memang berada dalam genggaman manusia: niat yang kita susun, langkah yang kita rencanakan, pintu yang kita siapkan untuk dibuka. Tetapi ada pula hal-hal yang berdiri di luar kuasa tangan kita kejadian kecil, urusan mendadak, atau sekadar detik yang berjalan dengan iramanya sendiri.

Hidup, dengan segala kelindan peristiwanya, selalu mengandung ruang bagi kejutan.

Dan pada titik-titik seperti itulah manusia belajar satu kebijaksanaan sederhana: menerima. Bukan menyerah, melainkan memahami bahwa tidak semua hal harus tunduk pada kehendak kita. Ada saat ketika kita perlu mengatur waktu, tetapi ada pula saat ketika kita harus memberi ruang bagi waktu untuk mengatur kita.

Barangkali di situlah letak kedewasaan hidup.

Bukan pada kemampuan mengendalikan segala sesuatu, melainkan pada kesediaan untuk mengakui bahwa dunia ini bergerak dengan hukum yang lebih luas daripada rencana manusia.

Pagi pada suatu hari tersebut hanya memberi contoh kecil.

Sebuah pintu yang terbuka setengah jam lebih lambat, tetapi sekaligus membuka pengertian yang sedikit lebih lapang: bahwa hidup tidak selalu harus tepat seperti rencana, selama ia tetap berjalan dengan makna.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.