
Lewat Bung Koen warga @kerepdolan yang bermukim di Godean, rak kecil Pustaka TB Alimin kembali bertambah satu judul. Taman baca mungil yang menempel di sayap kiri meja seduh @dongengkopi itu memang tidak pernah bercita-cita menjadi perpustakaan besar. Ia lebih mirip persinggahan pengetahuan: tempat buku-buku datang lewat tangan kawan, singgah, lalu pelan-pelan ikut merawat percakapan.
Judul terbaru yang tiba kali ini terasa istimewa: Dari Dapur Desa ke Piring Kita. Buku ini ditulis oleh Vanessa Lina, mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Multimedia Nusantara angkatan 2022. Dari halaman pertama, terlihat jelas bahwa buku ini tidak disusun sebagai laporan mahasiswa biasa. Tata letaknya rapi, komposisi warnanya tenang, dan narasinya berusaha memahami sebuah tempat secara utuh bukan sekadar mencatatnya.
Menurut cerita Bung Koen, buku ini lahir dari pengalaman live in para mahasiswa di wilayah Temanggung. Dalam program itu, para mahasiswa tinggal bersama warga, mengikuti ritme hidup desa, dan mencoba melihat bagaimana sebuah komunitas bekerja dari dalam. Fokus pengamatan mereka akhirnya jatuh pada Pasar Papringan, sebuah pasar desa yang beberapa tahun terakhir kerap menjadi bahan pembicaraan banyak orang dari pegiat ekonomi lokal hingga peneliti pembangunan desa.
Pasar ini memang tidak sepenuhnya biasa. Ia tidak berdiri di bangunan permanen, melainkan di bawah rumpun bambu yang rindang. Nama “papringan” sendiri dalam bahasa Jawa berarti kebun bambu. Di tempat yang tampak sederhana itulah sebuah eksperimen ekonomi desa berlangsung.
Pasar hanya buka pada hari-hari tertentu dalam penanggalan Jawa. Ketika hari itu tiba, warga mulai menata lapak-lapak kecil dari anyaman bambu. Tidak ada plastik mencolok atau spanduk komersial besar. Transaksi pun tidak menggunakan uang rupiah secara langsung. Pengunjung harus menukar uang dengan keping bambu yang disebut pring. Keping itulah yang kemudian dipakai untuk membeli makanan dan produk warga.
Di balik mekanisme sederhana itu sebenarnya tersimpan gagasan yang cukup dalam. Pasar ini lahir dari kerja bersama warga desa dengan dukungan komunitas kreatif lokal, salah satunya yang diprakarsai oleh Singgih Susilo Kartono. Mereka mencoba membayangkan ulang pasar desa—bukan hanya sebagai tempat jual beli, tetapi juga ruang kebudayaan.
Di lapak-lapak kecil itu kita tidak hanya menemukan makanan. Kita menemukan pengetahuan dapur yang diwariskan lintas generasi. Ada olahan singkong yang dimasak dengan cara lama, ada jajanan pasar yang di kota-kota besar sudah hampir tak terdengar namanya.
Dalam banyak diskusi pembangunan, desa sering diposisikan semata sebagai produsen bahan mentah: penghasil beras, sayur, kopi, atau hasil kebun lainnya. Nilai tambahnya justru dinikmati oleh kota—oleh industri, pabrik, atau jaringan distribusi modern.
Namun inisiatif seperti Pasar Papringan memperlihatkan kemungkinan lain. Desa tidak hanya memproduksi bahan mentah. Ia juga memproduksi pengetahuan.

Pengetahuan itu hidup dalam dapur-dapur rumah. Dalam cara warga mengolah daun kelor, memfermentasi singkong, atau membuat jajanan yang resepnya diwariskan secara lisan dari nenek ke ibu, dari ibu ke anak.
Dalam perspektif antropologi pangan, praktik seperti ini sering disebut sebagai food knowledge system: sistem pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman hidup sehari-hari masyarakat. Pengetahuan ini sering kali tidak tercatat dalam buku resep resmi atau kurikulum sekolah kuliner, tetapi justru menjadi fondasi ketahanan pangan lokal.
Data dari Food and Agriculture Organization menunjukkan bahwa sekitar 75% keragaman pangan dunia sebenarnya berasal dari praktik pertanian dan dapur komunitas lokal. Namun ironi modernitas membuat banyak pengetahuan itu perlahan menghilang, terutama ketika pola konsumsi masyarakat semakin seragam oleh industri pangan global.
Di titik inilah Pasar Papringan menjadi menarik. Ia bukan sekadar pasar tematik yang fotogenik bagi wisatawan. Ia adalah upaya warga desa untuk menjaga ekologi pangan sekaligus ekonomi lokal.
Makanan yang dijual di pasar ini sebagian besar dibuat dari bahan yang tumbuh di sekitar desa. Singkong, kelapa, gula aren, pisang, daun-daunan—semua berasal dari kebun warga. Dengan begitu, uang yang berputar di pasar tidak langsung mengalir keluar desa, tetapi tetap beredar di dalam komunitas.
Model ekonomi semacam ini oleh sebagian peneliti disebut sebagai localized circular economy: ekonomi yang berputar di tingkat lokal dengan rantai produksi yang pendek. Dalam praktiknya, konsep ini terbukti mampu memperkuat ketahanan ekonomi komunitas kecil.
Di sisi lain, keberadaan pasar ini juga menghidupkan kembali kebanggaan warga terhadap dapur mereka sendiri. Banyak perempuan desa yang sebelumnya hanya memasak untuk keluarga kini menemukan ruang untuk berbagi resep dan menjual olahannya.
Dalam buku Dari Dapur Desa ke Piring Kita, Vanessa Lina mencoba menangkap dinamika itu. Ia tidak hanya mencatat menu yang dijual atau jumlah pengunjung yang datang. Ia berusaha melihat bagaimana pasar ini memengaruhi cara warga memandang diri mereka sendiri—sebagai pemilik pengetahuan, bukan sekadar pelaku ekonomi kecil.
Pendekatan semacam ini jarang kita temui dalam laporan mahasiswa. Biasanya penelitian lapangan berhenti pada data statistik atau deskripsi program. Namun dalam buku ini, ada usaha untuk membaca suasana: bagaimana warga menyiapkan dagangan sejak subuh, bagaimana pengunjung berjalan di antara rumpun bambu, bagaimana percakapan kecil terjadi di antara transaksi.
Buku ini menjadi menarik justru karena ia memotret hal-hal sederhana.
Dan dalam penelitian sosial, sering kali yang sederhana itulah yang paling penting.
Bagi kami di TB Alimin, buku kecil seperti ini adalah pengingat bahwa cerita tentang desa tidak selalu harus datang dari laporan pembangunan besar atau dokumen kebijakan pemerintah. Kadang ia justru lahir dari catatan mahasiswa, dari pengalaman live in, atau dari percakapan di pasar.
Pustaka TB Alimin sendiri lahir dari semangat yang hampir serupa: keyakinan bahwa pengetahuan bisa tumbuh dari ruang kecil. Dari rak buku di samping meja seduh. Dari obrolan sambil minum kopi. Dari buku-buku yang datang lewat tangan teman.
Kini, dengan hadirnya Dari Dapur Desa ke Piring Kita, rak kecil itu bertambah satu cerita lagi.
Cerita tentang bagaimana desa-desa di Indonesia terus menemukan cara untuk berdiri dengan kekuatannya sendiri.
Bukan lewat proyek besar.
Melainkan lewat hal-hal yang sering kita anggap remeh: dapur, kebun, bambu, dan kepercayaan bahwa masyarakat lokal sebenarnya selalu memiliki pengetahuan untuk merawat hidupnya sendiri