Ngalap Berkah, Nikmati Kehangatan dari Dalangan

Ramadhan, jika dijalani sungguh-sungguh, adalah latihan menata diri. Tubuh belajar menahan lapar dan dahaga. Dari situ batin ikut terjaga. Dalam laku Jawa, menahan diri bukan sekadar soal kuat atau tidak. Ia adalah jalan untuk lebih awas pada hal-hal yang selama ini luput disadari.

Menjelang magrib, suasana berubah pelan. Azan terdengar. Kurma dan air membasahi tenggorokan yang kering. Rasa kembali hadir di tubuh. Setelah itu, di banyak rumah, kopi diseduh. Bukan untuk pamer selera, bukan sekadar kebiasaan. Ia hadir sebagai jeda kecil setelah seharian sunyi.

Kopi diminum perlahan. Cangkir dipegang hati-hati karena masih panas. Tegukan pertama terasa pahit, lalu hangatnya menyebar. Tidak ada yang ditolak dari rasa itu. Justru di situlah letak nikmatnya. Setelah sehari menahan, tubuh seperti diajak berdamai kembali dengan dunia.

Puasa dan kopi terasa akrab. Keduanya mengajarkan cara menghadapi pahit. Dalam ungkapan Jawa sering terdengar bahwa hidup tidak selalu manis. Dari rasa getir orang belajar menimbang langkah. Kepahitan tidak perlu dimusuhi. Ia dapat menjadi pengingat.

Seusai tarawih, di kampung-kampung, orang duduk di bangku kayu atau di tikar depan rumah. Cangkir mengepul. Percakapan berjalan tanpa tergesa. Ramadhan membuat suasana lebih teduh. Kopi menjaga obrolan tetap hangat. Tidak ada peristiwa besar, hanya kebersamaan yang sederhana.

Bagi yang tekun merenung, momen itu mudah berubah menjadi ruang tafakur. Dari uap tipis yang naik ke udara, orang teringat betapa ringkihnya hidup. Dari pahit yang tertinggal di lidah, orang belajar mensyukuri seteguk air yang tadi terasa begitu berharga. Minum kopi selepas puasa menjadi semacam doa yang tidak diucapkan keras-keras.

Ramadhan mengajarkan kita memberi jarak pada diri sendiri. Kopi mengajak kita hadir kembali dengan lebih sadar. Yang satu melatih menahan, yang lain menghangatkan. Di antara keduanya ada latihan untuk lebih peka pada tubuh, pada sesama, pada waktu yang berjalan pelan.

Barangkali di situlah maknanya. Ramadhan bukan sekadar hitungan hari. Ia adalah rasa yang dirawat sedikit demi sedikit. Seperti kopi yang tak pernah sepenuhnya manis, hidup pun membawa pahitnya sendiri. Ketika pahit itu diterima dengan tenang, tumbuhlah kelapangan di dalam diri. Dari kelapangan itulah syukur menemukan tempatnya.

Ramadhan di Kampung Dalangan, di tempat Dongeng Kopi saat ini berada, tentu juga sama meriahnya. Dongeng Kopi buka lebih siang, tutup lebih malam dari biasanya. Jika biasanya buka pukul 10:00 WIB, mulai hari ini kami buka pukul 12:00 WIB. Jika sebelumnya selepas Isya sudah tutup, kami tutup pukul 23:00 WIB selama puasa. Siap menemani warga kerepdolan bercengkrama bersama kawan dan handai taulan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.