
Dunia ini, barangkali, memang dibangun di atas lapisan-lapisan rahasia. Jika langit punya tujuh tingkat kemuliaan, maka bumi pun menyimpan tujuh lapis misteri di kedalamannya. Di lapisan paling buncit, Saptapratala, bertahtalah Sang Hyang Antaboga. Ia adalah Dewa Ular yang agung, namun di pagi itu, ia hanyalah seorang ayah yang sedang menyesap kopi bersama putri sulungnya, Nagagini.
Di balairung istana yang hening, aroma kopi menyeruak, berkelindan dengan pengakuan yang malu-malu. Nagagini, yang kecantikannya bahkan membuat para bidadari di langit merasa sanksi, meletakkan cangkirnya.
“Ayah,” suaranya lirih, “Semalam aku bermimpi. Aku bertemu seorang ksatria. Tubuhnya besar, perkasa, namun wajahnya tampan dengan kulit kuning yang bersih.”
Antaboga terdiam, memutar-mutar cangkirnya yang tinggal separuh. Sebagai penguasa bumi, ia tahu mimpi bukan sekadar kembang tidur. Mimpi adalah wisik, sebuah bisikan semesta yang menuntut alamat. “Siapa namanya, Nduk, cah ayu?”
“Namanya Werkudara, Ayah. Aku ingin Ayah mencarinya,” jawab Nagagini pasti.
Sementara di permukaan bumi, di atas lapisan-lapisan tanah yang dipijak manusia, sebuah lakon culas sedang dipentaskan. Kurawa, dengan otak licik Sengkuni, telah membangun Balai Sigala-gala. Sebuah gedung pesta yang megah di mata, namun rapuh di jiwa. Kayu-kayunya dipilih dari jenis yang mudah meranggas, dipoles agar siap melahap api.
Malam itu, tuak dan arak mengalir seperti air di musim penghujan. Deras, memabukkan, dan melenakan. Pandawa lima dan Ibu Kunti dijamu sebagai raja, namun sejatinya sedang dipersiapkan sebagai tumbal. Di tengah keriuhan yang palsu itu, hanya satu sosok yang tetap terjaga: Werkudara.
Ia menolak menyentuh arak. Baginya, kewaspadaan adalah harga mati. Di pojok ruangan, ia memilih menyesap kopi hitam dan pahit, seperti firasat yang menggelayuti dadanya sambil menjaga saudara-saudaranya yang mulai terlelap dalam jebakan rasa kantuk yang tidak wajar.
Saat api mulai menyalak, menjilat dinding-dinding rapuh Sigala-gala, maut seolah sudah mengunci pintu. Esok harinya, Kurawa tersenyum puas melihat enam jasad hangus di balik reruntuhan. Bagi mereka, Amarta sudah di tangan.
Namun, maut seringkali kalah oleh janji seorang ayah kepada anaknya. Antaboga tidak datang sebagai Dewa Ular yang menakutkan. Ia menyaru menjadi seekor musang putih hewan lincah yang mengenal lekuk-lekuk rahasia bumi.
Lewat sebuah terowongan gaib yang digali dengan kecepatan cahaya, musang putih itu menuntun Pandawa dan Dewi Kunti keluar dari kepungan api, masuk ke dalam dekapan bumi yang dingin. Dari sana, pelarian itu berujung di Saptapratala.
Pertemuan itu adalah takdir yang presisi. Werkudara, ksatria yang tidak bisa tidur karena kopi dan waspada, akhirnya bertemu dengan Nagagini, putri yang menunggunya karena mimpi. Kelak, dari pernikahan itu, lahir Antareja ksatria yang mewarisi kesaktian bumi ayahnya dan ketangguhan rasa bapaknya.
Di kolom-kolom sejarah, kita sering membaca tentang kepahlawanan. Namun di balik itu semua, seringkali ada peran seorang “calon besan” yang menyamar menjadi musang, hanya karena seorang anak perempuan berani jujur pada mimpinya di depan secangkir kopi.
Cerita Nagagini menjadi inspirasi kami untuk menyemat nama multiple origin yang kami hadirkan sebagai salah satu pilihan diantara banyak pilihan cerita rakyat, babad, dongeng, epos, mitologi, sage, dan juga fabel sebagai teman merawat ingatan cerita cerita yang sarat pesan moral, sarat akan refleksi sehari hari. Cerita ini banyak berkembang di daerah Jawa Tengah, oleh sebab itu kopi ini merupakan representasi dari kopi kopi dari Jawa Tengah yang kami racik secara khusus dengan karakter buah buahan manis, seperti permen, dengan kekentalan sedang, dan penuh di mulut.