Mustika Rasa: Secangkir Indonesia dari Dongeng Kopi

Membicarakan Mustika Rasa dari sisi kekayaan cita rasanya serupa menelusuri rimba belantara palet indera pengecap. Ia lebat oleh rempah, basah oleh sejarah, dan riuh oleh perjumpaan yang berlapis-lapis. Rasa tak cuma sensasi pada ujung lidah, ia adalah pengetahuan yang tumbuh dari tanah dan waktu. Ia menyimpan jejak pelayaran, pertukaran, juga pertarungan panjang untuk menyebut diri sebagai bangsa.

Lebih dari 1.600 resep yang dihimpun dalam buku legendaris itu memperlihatkan satu kenyataan yang kerap kita lupakan: Indonesia tidak pernah lahir dari satu dapur besar bernama nasional. Ia tumbuh dari ribuan dapur kecil yang setia pada bahan setempat dan kebiasaan turun-temurun. Gulai Minangkabau yang pekat santan dan berani rempah, papeda Maluku yang bening dan liat, lawar Bali yang getir-segar, hingga sayur asem Betawi yang ringan dan riang; semuanya menyuarakan lanskap berbeda. Tanah, air, iklim, serta arus perdagangan membentuk karakter rasa sebagaimana sejarah membentuk watak manusia.

Yang menarik, Nusantara tak pernah mereduksi rasa menjadi lima kategori dasar sebagaimana tata boga langgam Barat: manis, asin, asam, pahit, umami. Di sini, rasa jarang hadir sendirian. Ia datang sebagai peristiwa kolektif. Pedas bukan sekadar panas, melainkan “menggigit”. Pahit bisa menjadi tanda kedewasaan. Kita mengenal sepat, getir, langu, anyep, gurih, sedap ragam kosakata yang memuat nuansa dan konteks. Bahasa kita menyimpan spektrum yang cair, seolah mengakui bahwa rasa tak pernah sepenuhnya objektif. Ia selalu dirundingkan.

Di Jawa, keseimbangan menjadi etika. Manis menenangkan, pedas terukur. Di Minangkabau, keberanian rempah adalah pernyataan terbuka. Di wilayah timur, fermentasi menghadirkan asam tajam yang mencatat tradisi pengawetan panjang. Rasa bertaut dengan kosmologi, dengan cara komunitas memahami harmoni. Yang disebut “enak” lahir dari kesepakatan sosial yang tak tertulis.

Buku Mustika Rasa, yang disusun pada masa awal republik, sesungguhnya merupakan proyek kebudayaan. Ia hendak menghimpun keragaman itu dalam satu jilid, bukan untuk menyeragamkan, melainkan untuk menunjukkan betapa kaya dan majemuknya dapur Nusantara. Di dalamnya, sepiring sayur asem bisa berarti pulang. Ikan bakar dengan sambal dabu-dabu menjadi peristiwa kebersamaan. Rasa menyimpan emosi; ia adalah arsip memori kolektif.

Maka ketika Dongeng Kopi menamai salah satu ragam pilihan kopinya dengan Mustika Rasa, itu bukan sekadar mengambil judul buku lama. Ia adalah sematan yang sadar, sebuah pengakuan bahwa cita rasa Nusantara tak pernah tunggal. Di rak pilihan kami, di antara sembilan multiple origin yang sekarang dikenal filter blend, merangkum babad, mitologi, dan legenda dari berbagai penjuru nusa dwipa tambah empat kategori pelengkap: Korikuga (kopi dari kebun warga) mewakili kebun kebun kecil, Kopi Musiman mewakili permintaan pelanggan akan kopi manca, Musang Gunung untuk kopi luwak, dan Mustika Rasa. Nama terakhir ini seperti simpul yang merangkum perjalanan.

Racikan tersebut merupakan campuran lintas origin, lintas varietas, lintas proses pascapanen, seluruhnya arabika Nusantara yang dikurasi dengan cermat. Manisnya panjang dan bersih, asamnya segar, tubuhnya seimbang. Ada kilau buah tropis yang bersua herba dan jejak rempah samar di akhir tegukan. Kompleksitasnya tidak meledak, melainkan berlapis, seperti membaca halaman demi halaman buku tua yang menyimpan rahasia dapur ibu-ibu dari Sabang sampai Merauke.

Dalam konteks itu, kopi menjadi lebih dari minuman. Ia medium percakapan, ruang bertukar pikiran, bahan bakar gagasan. Bung Karno pernah menyukai pemuda yang berdiskusi tentang bangsanya di meja kopi. Barangkali karena di sana, identitas tidak dibekukan, melainkan dinegosiasikan, layaknya rasa yang selalu bergerak.

Pada akhirnya, Mustika Rasa bukan hanya buku resep, dan bukan pula hanya cumin campur sari kopi. Ia adalah cara kita memahami bangsa lewat lidah. Setiap tegukan mengingatkan bahwa Indonesia tak pernah selesai didefinisikan. Rasa terus berkelindan, berjumpa, dan berubah. Di antara uap yang mengepul dari cangkir, kita belajar bahwa peta bangsa ini sesungguhnya terhampar di indra kita sendiri.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.