Berbincang Agak Mojok Bersama Aditya Purnomo

Kami tiba di Ngebo lewat tengah hari. Sore belum benar-benar turun, tetapi cahaya mulai melunak. Jalanan tidak ramai, juga tidak sepi. Motor melintas sesekali. Anak-anak berjalan pulang mengaji. Seorang bapak keluar dari warung dengan kantong belanja di tangan. Semuanya bergerak dalam ritme yang wajar, tanpa tergesa.

Di samping sebuah joglo besar yang mangkrak, berdiri Mojok Store. Fasadnya tidak mencolok. Namun ada watak yang terasa. Ia seperti orang yang memilih duduk di sudut ruangan: tenang, tidak mencari perhatian. Tetapi ketika diajak berbincang, ceritanya panjang.

Sore itu, siniar Tandang, format tanya jawab yang digagas Dongeng Kopi bersama Daratama pada Agustus 2025, berkesempatan berbincang dengan salah satu penggeraknya, Adit Purnomo. Dari percakapan itulah kami mencoba meraba bagaimana Mojok Store tumbuh.

Kisahnya bermula pada 2014, saat Mojok.co lahir. Media digital itu berkembang cepat dengan pembaca yang terus bertambah. Dari sana muncul gagasan yang terasa masuk akal: mengapa tidak sekalian membangun penerbitan? Setahun kemudian, Buku Mojok resmi berdiri.

Pada masa itu idealisme terasa menyala. Namun idealisme di layar dan halaman saja tidak cukup. Mereka menginginkan pijakan yang lebih nyata. Pada 2016, toko dibuka. Alasannya sederhana: penerbit tidak leluasa menjual langsung ke pembaca. Diperlukan ruang temu. Maka Mojok Store dibentuk.

Awalnya toko menyatu dengan kantor redaksi. Lalu pindah ke Kapten Haryadi. Hingga akhirnya mereka membangun tempat ini dan menamainya Akademi Bahagia. Nama itu terdengar ringan, tetapi sekaligus seperti pernyataan sikap.

Akademi Bahagia bukan sekadar toko. Di dalamnya ada Mojok.co, Buku Mojok, Mojok Store, serta percetakan Mata Warna. Semua berada dalam satu atap. Perpustakaan dan toko dipisahkan dari kantor agar memiliki ruang sendiri. Toko di lantai bawah. Kantor di atasnya. Perpustakaan menempati lantai dua. Tata letaknya terasa matang dan terencana. Setelah beberapa kali berpindah, mereka seperti menemukan bentuk yang pas.

Kami bertanya mengapa masih bersusah payah membangun ruang fisik di tengah dunia yang serba digital.

Adit menjawab dengan santai. Sejak awal mereka memang memiliki toko luring, hanya saja belum ditata sungguh-sungguh. Kini ruang itu dipisahkan agar menjadi tempat yang layak—bukan sekadar etalase yang menempel pada kantor.

Di lantai atas, perpustakaan hidup menjelang sore. Adit menyebut para pengunjung tetapnya sebagai “anak-anak senja”. Mereka datang untuk membaca. Bisa duduk lama tanpa merasa diawasi. Bisa turun ke toko, lalu naik lagi. Tidak ada aturan yang membuat orang sungkan berlama-lama.

Di sudut ruangan, kami melihat perosotan kecil. Anak-anak rupanya dipikirkan sejak awal. Mojok Store diniatkan sebagai ruang keluarga. “Keluarga Bahagia,” kata Adit sambil tersenyum. Sebagian mainan berasal dari sumbangan. Dulu bahkan tersedia kanvas bekas dan cat air agar anak-anak bisa mewarnai.

Sore adalah waktu paling ramai. Anak-anak bermain. Orang tua membuka buku. Mahasiswa—banyak dari UIN—naik ke balkon. Mereka berdiskusi, kadang berdebat soal filsafat sambil merokok. Asap tipis mengambang. Buku-buku di rak tetap diam, seperti saksi yang setia.

Soal kurasi, Adit tidak membuatnya rumit. Buku Mojok tentu mendapat tempat. Namun terbitan penerbit lain juga hadir. Buku-buku Marjin Kiri, karya Gus Muh seperti Kronik Penculikan, hingga buku anak dari Guru Bumi pernah mengisi rak. Prinsipnya jelas: jika bukunya bagus dan mereka menyukainya, buku itu layak hadir. Tidak ada pagar yang dibuat terlalu tinggi.

Perpustakaan tumbuh dari sumbangan dan koleksi pribadi. Jika Adit sedang tenggelam dalam karya Pramoedya Ananta Toer, setelah selesai membaca, ia akan meletakkan bukunya di rak. Maka tak heran jika rak Pramoedya kerap kosong—bukan karena tidak ada, melainkan karena sedang berpindah tangan.

Belakangan, penjualan buku sosial-politik meningkat. Adit menyebutnya sambil tersenyum, menyinggung situasi yang membuat orang ingin memahami keadaan lebih jauh. Sastra fiksi tetap dicari. Buku Brian Khrisna, Sehimpun Puisi Mie Ayam, termasuk yang laris.

Sebagai ruang komunitas, Mojok Store tidak memaksakan agenda rutin. Banyak kegiatan justru datang dari luar. Komunitas filsafat pernah menggelar malam puisi. Karang Taruna rapat dan menyiapkan lomba tujuh belasan. Ada kelas penyuntingan. Ada playdate dari Pasar Bahagia. Mereka tidak ingin mempersulit orang yang mencari tempat berkumpul—barangkali karena mereka sendiri pernah merasakan sulitnya menemukan ruang semacam itu.

Jam bukanya cukup panjang: Senin–Jumat pukul 09.00–20.00. Akhir pekan mulai siang. Kedai kopi di dalamnya dikelola komunitas, bukan perusahaan. Jika pengelolanya lelah, kedai bisa tutup. Tidak ada target yang menekan.

Pembicaraan kami sampai pada isu lama: minat baca Indonesia rendah. Adit tidak menolaknya begitu saja. Dari ratusan juta penduduk, tentu tidak semuanya gemar membaca. Namun ia mengingatkan tentang Jogja Book Fair yang mampu menarik ribuan pengunjung setiap hari. Festival sastra pun ramai. Mungkin yang bermasalah bukan minat, melainkan akses. Banyak perpustakaan hanya buka pada jam kerja. Orang yang bekerja tidak punya kesempatan datang.

Soal buku bajakan turut dibahas. Saat pandemi, kertas sempat langka. Beberapa penerbit terpaksa memakai kertas yang lebih buram agar produksi tetap berjalan. Itu bukan pembajakan, melainkan pilihan sulit pada masa sulit. Bagi toko buku independen, menjual buku bajakan sama saja melukai ekosistem sendiri. Mereka bahkan tengah mengupayakan asosiasi baru di luar IKAPI untuk mendorong regulasi yang lebih tegas.

Lalu apa yang membedakan Mojok Store dari toko buku besar yang kini menyediakan ruang kumpul?

Adit kembali pada hal mendasar. Mereka menyediakan ruang belajar gratis. Perangkat tata suara dan proyektor dapat dipakai komunitas. Pengguna cukup memberi uang kebersihan seikhlasnya. Tujuannya sederhana: menghidupkan manusianya.

Bagi mereka, toko buku bukan tempat singgah sebentar untuk membeli lalu pergi. Ia adalah ruang tinggal.

Di akhir percakapan, Adit menyebut dua buku yang membentuknya sejak muda: Robohnya Surau Kami karya A. A. Navis dan Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie. Dari sana ia belajar mencintai bacaan. Untuk yang ingin mulai membaca, ia merekomendasikan karya Rusdi Mathari, Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya—ringan, tajam, dan dekat dengan keseharian.

Pesannya sederhana: bacalah dua puluh halaman sehari. Lima belas sampai tiga puluh menit. Waktu yang setara dengan menggulir ponsel tanpa sadar. Jika konsisten, tiga buku bisa selesai dalam sebulan. Sering kali, yang menghalangi hanyalah alasan.

Percakapan berakhir ketika senja benar-benar turun di Ngebo. Tawa anak-anak masih terdengar. Di balkon, mungkin ada mahasiswa yang belum selesai berdebat.

Mojok Store tidak tampak seperti proyek ambisius. Ia lebih menyerupai rumah yang kebetulan menjual buku.

Di zaman yang serba cepat, rumah semacam itu terasa cukup.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.