Larka dan Perdebatan Kopi: Dari Barista ke Pendekar Kopi Digital

Akhir September 2025, kami tandang ke Talabumi untuk episode kesembilan Tanya Djawab Tentang. Ruangannya sederhana dan terang. Dinding bercat cerah, rak stoples kopi, cangkir-cangkir bersih berjajar rapi. Aroma kopi mengendap pelan di udara, seperti sisa percakapan yang belum benar-benar selesai.

Di ruang itulah kami bertemu Larka. Namanya belakangan sering melintas di linimasa. Ia dikenal sebagai konten kreator kopi yang lugas, kadang tajam, dan tidak ragu memancing perdebatan.

Meski tak lagi bekerja sebagai barista, ritme hidupnya tak banyak berubah. Ia tetap menyeduh kopi setiap hari. Ia membaca. Ia menulis. Perjalanannya sebagai penulis kopi dimulai pada 2018 lewat Mojok. Tulisan menjadi rumah pertamanya. Di sana ia belajar merapikan pikiran, menyusun argumen, dan menimbang ulang keresahan sebelum melepasnya ke publik.

Video baru ia tekuni pada Agustus 2023 melalui TikTok. Ia merasa diskusi kopi terlalu lama berputar di kalangan yang itu-itu saja: barista berbicara kepada barista, praktisi berdiskusi dengan praktisi. Ia ingin lingkaran itu melebar. Penikmat kopi rumahan pun perlu ruang untuk ikut memahami. Baginya, kopi tidak seharusnya terasa eksklusif.

Nama “Larka” bukan nama lahir. Ia menciptakannya sebagai karakter di media sosial. Awalnya sekadar persona, lama-kelamaan hidup sebagai identitas. Larka tumbuh bukan dari strategi pemasaran, melainkan dari konsistensi suara. Orang mengenalnya karena gagasannya terjaga dan berulang.

Beberapa waktu lalu, kontennya sempat viral karena gaya roasting yang sarkastik. Ia menyentil kebiasaan barista dan praktik yang ia anggap problematik di industri. Respons datang dari berbagai arah. Ada yang tertawa, ada yang tersinggung. Tidak semua orang akrab dengan ironi. Dari situ ia belajar membaca situasi. Kini ia berbicara lebih langsung. Argumennya disusun lebih rapi, nadanya lebih jernih.

Pengalaman menjadi barista sejak 2015 hingga 2021 membentuk cara pandangnya. Ia melihat banyak hal dari balik meja bar. Ia percaya kegelisahan personal sering kali mencerminkan persoalan bersama. Dari sanalah ia merancang konten dengan pola yang ia sebut “per campaign”. Dalam satu fase ia fokus membahas hulu kopi; pada fase lain ia menyorot kopi tradisional. Ia ingin setiap isu mendapat ruang yang cukup, tidak sekadar lewat sebagai tren.

Kontroversi bukan hal baru baginya. Ia tidak mencari sensasi, tetapi juga tidak mundur. Ia ingin arus informasi tentang kopi tidak dikuasai satu suara. Jika kelak ada data yang membantah pendapatnya, ia siap mengoreksi. Pengetahuan, menurutnya, selalu bergerak. Orang yang belajar harus bersedia bergerak bersamanya.

Ia pernah menyentuh isu yang lebih sensitif, termasuk dugaan pencucian uang di industri kedai kopi. Ia menyebutnya sebagai rahasia yang kerap beredar dalam obrolan warung. Sejak dulu, warung kopi menjadi tempat orang bertukar cerita dan kritik. Kini obrolan itu berpindah ke ruang digital. Risikonya lebih besar, jangkauannya lebih luas. Ia memilih tetap berbicara dengan pertimbangan matang.

Yang menarik, fondasi semua itu justru sederhana: membaca dan menulis dengan disiplin. Ia menargetkan dua buku setiap bulan. Prinsipnya mudah diingat: baca buku yang kamu suka. Ia menikmati fiksi dan nonfiksi. Fiksi melatih empati dan membiasakan diri melihat dunia dari sudut pandang lain. Buku yang paling berkesan baginya adalah Cosmos karya Carl Sagan. Dari sana ia belajar memandang dunia sebagai jejaring pengetahuan yang luas. Kopi ia tempatkan sebagai bagian kecil dari jejaring itu, bukan sebagai pusatnya.

Ke depan, ia menyiapkan program beasiswa sekolah kopi untuk barista yang kompeten tetapi terkendala biaya. Ada syarat yang menurutnya penting: penerima beasiswa harus bersedia menjadi “pendekar kopi digital”. Mereka diminta menulis, meriset, dan membagikan pengetahuan secara terbuka. Ia ingin ekosistem kopi diisi oleh orang-orang yang tidak hanya piawai meracik, tetapi juga cakap merawat wacana.

Menjelang akhir percakapan, pesannya terasa sederhana dan jujur: pelihara rasa ingin tahu. Konten yang kuat lahir dari pikiran yang terlatih. Membaca tidak boleh ditinggalkan.

Sore itu saya menyadari sesuatu. Bagi Larka, kopi hanyalah pintu masuk. Yang ia perjuangkan adalah cara berpikir yang terbuka dan kritis. Selama percakapan tetap hidup, secangkir kopi akan selalu memiliki makna lebih dari sekadar minuman hangat di atas meja.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.