
- Secangkir Kopi untuk Trump. (dok.https://id.pinterest.com/ricardofonteneelee/)
Kadang yang hilang dari kita hari ini adalah solidaritas. Seolah-olah setiap orang ingin berjalan sendiri. Maju sendiri. Berhasil sendiri.
Akibatnya, memijak kepala orang lain, mencederai liyan, atau meninggalkan seseorang di belakang menjadi sesuatu yang dianggap lumrah, bahkan seperti watak baru yang lahir atas nama modernitas.
Ada semacam kredo yang diam-diam kita yakini: bahwa kemajuan tak akan tercapai jika harus bergandengan tangan. Bahwa membantu orang lain hanya akan membuang waktu. Bahwa terlalu baik kepada orang yang membutuhkan bantuan justru akan merugikan diri sendiri.
Kalimat-kalimat semacam itu terus bergaung tanpa henti. Apalagi ketika ada pengalaman pahit: kebaikan dibalas pengkhianatan. Orang yang pernah ditolong justru mencederai kepercayaan. Dari situlah muncul nasihat sinis yang makin sering kita dengar: jangan terlalu baik pada orang.
Lalu kita mulai bertanya atau mungkin sebenarnya takut bertanya:
apakah manusia perlahan kehilangan sisi kemanusiaannya?
Sampai-sampai orang tega menyikut sesamanya demi kilau keberhasilan pribadi. Solidaritas diganti dengan kompetisi tanpa batas. Empati diganti dengan kalkulasi untung-rugi.
Padahal, jika kita menengok sejarah, bahkan sejarah yang sederhana seperti sejarah kopi dan segala hal yang melingkupinya kita akan menemukan cerita yang berbeda.
Cangkir-cangkir kopi yang bergulir di meja-meja kedai legendaris hampir selalu menyimpan kisah solidaritas. Di sanalah orang-orang berkumpul, berbagi gagasan, menyusun harapan, bahkan merancang perubahan. Kedai kopi sejak lama menjadi ruang tempat orang belajar bergandengan tangan, bukan berjalan sendiri.
Banyak gerakan sosial, kebudayaan, bahkan politik lahir dari meja-meja sederhana tempat kopi diseruput perlahan. Dari percakapan panjang, dari solidaritas yang tumbuh di antara sesama manusia yang sama-sama percaya bahwa masa depan tidak dibangun sendirian.
Karena itu, solidaritas bukan sekadar perasaan. Ia adalah sikap.
Sikap untuk berdiri bersama melawan ketidakadilan.
Sikap untuk tidak diam ketika pengkhianatan terhadap kemanusiaan terjadi.
Hari ini, dunia menyaksikan berbagai tragedi yang menuntut keberanian moral itu. Pembiaran terhadap penderitaan rakyat Palestina yang terus berlangsung menjadi salah satu luka kemanusiaan yang disaksikan dunia. Banyak pihak menyebut tindakan militer Israel di Gaza sebagai bentuk genosida terhadap warga Palestina.
Di saat yang sama, ketegangan geopolitik juga meningkat di kawasan Timur Tengah. Kesewenang wenangan ‘polisi dunia terhadap Venezuela, juga konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran beberapa waktu terakhir dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, setelah serangan militer gabungan di Teheran.
Peristiwa-peristiwa itu mengingatkan kita bahwa dunia tidak kekurangan kekuasaan, senjata, atau kekuatan politik. Yang sering kali justru langka adalah keberanian untuk berdiri bersama membela kemanusiaan.
Di titik inilah solidaritas menemukan maknanya.
Solidaritas adalah keberanian untuk tidak tunduk pada ketidakadilan.
Solidaritas adalah kesediaan untuk berdiri bersama, bahkan ketika itu tidak menguntungkan.
Sejarah selalu mencatat bahwa perubahan lahir dari orang-orang yang memilih untuk tidak diam.
Maka, jika negara-negara besar saja sering gagap menyatakan sikap, barangkali kita perlu kembali ke ruang yang paling sederhana: meja-meja kedai kopi.
Di sana, dari percakapan kecil dan secangkir kopi, keberanian untuk bersolidaritas selalu menemukan jalannya.
Dan jika suatu hari negara tidak mampu bersuara, biarlah warung kopi yang menyatakan sikap:
bahwa kemanusiaan tidak boleh dikalahkan oleh keserakahan.
Solidaritas bukan sekadar empati yang manis di permukaan. Ia adalah keberanian untuk berpihak. Keberanian untuk mengatakan tidak pada ketidakadilan, dan keberanian untuk menuntut tanggung jawab dari mereka yang berkuasa.
Di titik inilah solidaritas menjadi tindakan politik sekaligus moral. Ia bukan hanya soal membantu sesama, tetapi juga tentang menjaga martabat bersama.
Sebab sejarah selalu menunjukkan satu hal: rakyat yang terdidik tidak lahir dari kenyamanan semata. Mereka lahir dari pergerakan. Dari keberanian untuk saling menopang dan memperjuangkan nasib bersama.
Dan penguasa pun tidak pernah benar-benar belajar hanya dari pujian. Mereka belajar dari kritik, dari tekanan, dari perlawanan yang terus mengingatkan bahwa kekuasaan tidak boleh berjalan tanpa batas.
Karena itu, barangkali kita perlu kembali mengingat satu prinsip lama yang sederhana tetapi tegas:
mendidik rakyat dengan pergerakan, dan mendidik penguasa dengan perlawanan.