Dari Lini Masa ke Meja Seduh: Kisah Dongeng Kopi, Ikon Kopi Jogja

Dalam episode kedelapan siniar TANDANG yang tayang pada bulan September 2025, Bung Alif berbincang panjang dengan Bung Renggo Darsono, sosok di balik Dongeng Kopi. Percakapan mereka berlangsung hampir dua jam. Tidak terburu buru seperti seduhan yang dibiarkan hangat lebih lama. Yang dibicarakan bukan hanya kopi, melainkan juga ingatan, perpindahan, dan cara menjaga ruang agar tetap bernyawa.

Dongeng Kopi tidak lahir dari bar atau mesin espresso. Ia bermula dari lini masa Twitter pada Oktober 2012. Bung Renggo mengelolanya dengan nama Dongeng Kopi dan menghadirkan alter ego bernama Praba Kejora. Lewat persona itu, ia menulis, menyapa, dan membangun percakapan. Akun tersebut tumbuh karena cerita, bukan promosi. Ketika para pengikutnya ingin bertemu langsung, gagasan membuka kedai fisik pun muncul. Pada 2014, Dongeng Kopi hadir di Yogyakarta. Sejak awal, kata “dongeng” bukan tempelan; ia menjadi sikap. Kedai ini dibangun sebagai ruang berbagi cerita yang setara.

Perjalanannya tidak pernah menetap di satu alamat. Mereka kerap berpindah tempat dan menyebut diri sebagai “kontraktor”, tukang ngontrak kehidupan. Dari Kiai Mojo yang sederhana dan rumahan, lalu ke Wahid Hasyim yang dekat dengan penerbit dan mural jalanan. Setelah itu ke Palagan, dengan joglo dan perkutut yang menghadirkan suasana Jawa yang lebih tenang. Umbulmartani di kaki Merapi menjadi fase terpanjang: tujuh tahun bertahan sebelum akhirnya tutup pada April 2024 karena tekanan ekonomi dan persaingan yang makin ketat. Kini Dongeng Kopi berada di Dalangan, Kalasan, wilayah yang lekat dengan tradisi pedalangan. Nama Sasana Krida Dongeng Kopi Rosteri terasa menemukan tempatnya sendiri di sana.

Inovasi dalam racikan kopi mereka kerap lahir dari keadaan. Ketika stok kopi Temanggung melimpah dan rencana kolaborasi tidak berjalan, Bung Renggo justru meramu gagasan multiple origin. Setiap racikan diberi nama bernuansa Jawa: Asmara Dana, Barung Sinang, Cemporet, Dadung Awuk, Estining Panembah, Golo, Hastadasa, dan Ismaya. Di Umbulmartani, narasi itu meluas ke kisah-kisah Nusantara seperti Timun Mas, Naga Gini, dan Dayang Bulan. Bagi Bung Renggo, kopi adalah cerita yang diminum perlahan.

Di dalam kedai tumbuh TB Alimin, taman baca yang mengambil nama dari Alimin Prawirodirdjo. Raknya diisi buku-buku pribadi dan titipan pelanggan yang tergabung dalam Warga Kerebdolan. Buku di sana bukan sekadar pajangan. Ia berpindah tangan bersama obrolan. Sebagian tak kembali; ada judul penting yang hilang. Namun Bung Renggo memilih memaklumi. Baginya, buku yang dibaca orang lebih berharga daripada buku yang tersimpan rapi tetapi tak tersentuh.

Komunitas Dongeng Kopi tumbuh tanpa struktur kaku. Pelanggan tidak diposisikan sebagai raja, melainkan sebagai kawan. Di tengah situasi ekonomi yang menekan dan daya beli yang menurun, kedai ini menjadi ruang belajar sosial. Orang datang untuk membicarakan kebijakan, pajak, dan masa depan. Percakapan bisa tajam, tetapi tetap dijaga agar tidak kehilangan kewarasan.

Menjelang usia tiga belas tahun pada Oktober 2025, harapan Bung Renggo tidak muluk. Ia ingin Dongeng Kopi tetap berjalan secara wajar. Tidak perlu membesar dengan gegap gempita. Cukup produktif dan berguna.

Percakapan di TANDANG itu berakhir dengan satu tekad: terus bertandang, mengunjungi ruang-ruang literasi lain, dan menjaga jaringan agar tetap hidup. Selama masih ada orang yang mau duduk dan mendengar, Dongeng Kopi akan selalu punya alasan untuk bercerita.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.