Percakapan Setelah Air Keras

Habis Magrib, menjelang Isya, di sudut Dalangan yang tenang seperti biasanya, kabar itu datang seperti batu kecil yang dilempar ke kolam. Riaknya mula-mula kecil, lalu melebar pelan di antara cangkir-cangkir kopi yang masih hangat dan kepulan asap kretek yang malas naik ke langit-langit.

“Seorang aktivis Prodem disiram air keras.”

Kalimat itu meluncur dari bibir seorang pelanggan yang baru saja menyesap kopi. Ia tidak mengatakannya keras, tetapi cukup jelas untuk membuat beberapa kepala terangkat. Di meja kayu yang sudah berkali-kali menampung percakapan panjang itu, tak ada yang langsung menjawab. Hanya denting pelan cangkir yang bersentuhan dengan lapik, dan angin malam yang mengoyang daun Melati Belanda di halaman.

Peristiwa itu terjadi malam sebelumnya, 12 Maret 2026. Berita dari Jakarta akhirnya sampai juga ke meja kopi kecil kami. Katanya terjadi di sekitar Salemba. Dua orang berboncengan motor. Datang sebentar, lalu pergi seperti angin yang tak sempat ditanya arah pulangnya.

Yang mereka tinggalkan bukan sekadar luka.

Dalam sejarah sosial Indonesia, kekerasan terhadap pembela hak asasi manusia bukanlah kisah yang sama sekali baru. Laporan tahunan dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia berkali-kali mencatat bahwa intimidasi terhadap aktivis, mulai dari ancaman, kriminalisasi, hingga serangan fisik masih menjadi bayang-bayang yang mengikuti mereka yang memilih berdiri di sisi korban.

Di meja kopi, kabar seperti ini jarang berhenti sebagai berita. Ia berubah menjadi percakapan. Kadang menjadi kemarahan yang ditahan, kadang menjadi doa yang tidak pernah diucapkan keras-keras.

Seorang pelanggan di dekat jendela menaruh gelasnya pelan.

“Kalau orang mulai menyiram air keras,” katanya, “biasanya itu tanda mereka kehabisan kata-kata.”

Yang duduk di sebelahnya mengangkat alis.

“Bukan cuma kata-kata,” timpalnya. “Kadang juga kehabisan keberanian untuk berdebat.”

“Cara pengecut,” sahut seseorang singkat dari kursi belakang.

Di ujung meja, seorang lelaki menyobek gula sachet. Ia memasukkan gula itu ke cangkirnya dan mengaduk kopi perlahan, seperti sedang menimbang sesuatu di dalam pikirannya.

“Bung Karno pernah bilang,” katanya akhirnya.

Beberapa kepala menoleh.

“Pergerakan akan maju jika tidak ditindas. Pergerakan juga akan maju jika ditindas. Di situlah tragisnya nasib para penindas.”

Ia sedang menyitir kata-kata Sukarno, yang sejak lama menjadi salah satu kalimat favorit di meja-meja percakapan politik. Kalimat itu pernah muncul dalam berbagai pidatonya di masa pergerakan, ketika republik yang masih muda terus-menerus berhadapan dengan kekuasaan yang tidak selalu ramah pada kritik.

Meja itu hening sejenak.

“Jadi air keras itu…?” tanya yang paling muda di antara kami.

“Sungguh keterlaluan,” jawab seorang lelaki yang lebih tua. “Tapi gagasan tidak punya kulit untuk melepuh.”

Kalimat itu menggantung beberapa detik sebelum seseorang mengangguk pelan.

Percakapan seperti ini mungkin terdengar biasa bagi siapa saja yang sering duduk di kedai kopi. Namun jika dilihat dari kacamata antropologi sosial, meja kopi sebenarnya sering berfungsi sebagai ruang publik kecil—semacam forum informal tempat gagasan bergerak bebas.

Pemikir Jerman Jürgen Habermas pernah menyebut ruang semacam ini sebagai bagian dari Public Sphere—ruang di mana warga bisa berbicara tentang urusan bersama tanpa harus menunggu panggung resmi.

Di Eropa abad ke-18, ruang itu sering berupa salon sastra atau rumah kopi. Di Indonesia, bentuknya mungkin lebih sederhana: warung kopi, pos ronda, atau sudut kedai kecil seperti di Dalangan ini.

Kopi membantu percakapan berlangsung lebih lama. Ia membuat orang duduk sedikit lebih tenang, sedikit lebih sabar mendengar.

Karena itu tidak mengherankan jika berita tentang kekerasan, ketidakadilan, atau politik sering menemukan kehidupan keduanya di meja kopi. Berita yang datang dari layar ponsel berubah menjadi dialog. Dari dialog lahir pendapat. Dari pendapat kadang muncul keberanian kecil untuk tetap bersuara.

Seorang pelanggan lain menyalakan kretek. Asapnya melingkar pelan.

“Orang sering lupa,” katanya, “bahwa sejarah selalu bergerak lewat percakapan.”

“Percakapan?” tanya seseorang.

“Iya,” jawabnya. “Dari warung, dari ruang tamu, dari meja kopi seperti ini.”

Ia tidak sepenuhnya salah. Banyak peneliti sejarah sosial mencatat bahwa gerakan politik sering berawal dari ruang-ruang kecil yang tampaknya tidak penting. Di masa pergerakan nasional awal abad ke-20, diskusi-diskusi informal di rumah kos mahasiswa atau warung kopi kerap menjadi tempat lahirnya gagasan yang kemudian membesar.

Nama-nama organisasi seperti Budi Utomo atau Sarekat Islam memang tercatat dalam buku sejarah. Tetapi percakapan-percakapan kecil yang mendahului lahirnya organisasi itu sering terjadi di ruang yang jauh lebih sederhana.

Seperti meja ini.

Lampu kuning di langit-langit bergoyang pelan diterpa angin malam. Kopi di cangkir mulai mendingin, tetapi percakapan tetap hangat.

“Kalau begitu,” kata yang muda tadi, “apakah kekerasan seperti ini akan membuat orang takut?”

Seorang lelaki tua tertawa kecil.

“Takut pasti ada,” katanya. “Tapi sejarah selalu menunjukkan sesuatu yang aneh.”

“Apa?”

“Semakin keras orang mencoba membungkam suara, semakin banyak orang lain yang merasa perlu berbicara.”

Ia menghirup kopinya pelan.

“Mungkin karena manusia tidak diciptakan untuk diam terlalu lama.”

Beberapa orang mengangguk.

Malam semakin larut. Jalan Dalangan mulai lengang. Sesekali hanya suara motor lewat memecah sepi.

Seperti sering terjadi di meja kopi, percakapan akhirnya melambat. Orang-orang mulai pulang satu per satu, meninggalkan kursi yang masih hangat oleh tubuh mereka.

Tidak ada kesimpulan besar malam itu. Tidak ada resolusi heroik.

Hanya keyakinan kecil yang tertinggal di udara bersama aroma kopi yang mulai menipis:

bahwa kekerasan mungkin bisa melukai tubuh, tetapi gagasan jarang mati karena luka.

Dan bahwa keberanian untuk terus berkata-kata di meja kopi sekecil apa pun sering kali lebih tahan lama daripada rasa takut.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.