Di Rotterdam Ada Toko Buku Khusus Kopi. Jogja Sebenarnya Sudah Punya Budayanya

Contributor Coffee, Toko Buku Khusus Tematik Kopi yang berlokasi di Rotterdam, Belanda. (dok. km12.rotterdam)

Dilansir dari Barista Coffee Magazine, di Rotterdam, Belanda, sebuah toko buku bernama Contributor Coffee mencoba menghidupkan hubungan antara secangkir kopi, halaman buku, dan percakapan mendalam.

Digagas oleh seorang penulis buku kopi, Tigger Chaturabul kedai kopi dan toko buku tersebut mungkin tampak seperti proyek yang sangat spesifik. Tokonya dibuka dengan konsep reservasi, dan hanya menjual buku tentang kopi. Bukan novel populer, bukan buku motivasi, melainkan literatur kopi: mulai dari panduan menyeduh hingga kajian antropologi tentang budaya minum kopi. Menjadi khusus, disitulah yang menjadi daya tariknya. Di tengah dunia yang bergerak cepat lewat Instagram Reels, podcast pendek, atau utas Discord, Contributor Coffee memilih medium yang paling lambat: buku.

Bagi sebagian orang, pilihan ini terdengar romantis. Tetapi sebenarnya ia juga sangat logis. Kopi, terutama kopi spesialti, telah berkembang menjadi bidang pengetahuan yang luas. Kita tidak lagi bicara sekadar minuman pahit yang mengusir kantuk. Kopi kini bersinggungan dengan ilmu pertanian, kimia ekstraksi, sejarah kolonial, bahkan desain dan budaya pop.

Buku seperti The World Atlas of Coffee karya James Hoffmann yang menjelaskan peta global produksi kopi, atau The Physics of Espresso karya Jonathan Gagné yang memecah proses espresso menjadi persoalan sains. Ada pula buku Robusta karya Mikolaj Pociecha yang mencoba merehabilitasi reputasi kopi robusta yang selama ini dianggap kelas dua.

Semua itu menunjukkan satu hal: kopi telah menjadi bidang intelektual tersendiri. Dan di sinilah Contributor Coffee mengambil peran sebagai semacam arsip hidup bagi gagasan-gagasan tentang kopi.

Tiger Chaturabul Pemilik Contributor Coffee Rotterdam. (dok. tiggerpdf)

Dari Kedai Kopi ke Perpustakaan

Jika kita mundur sedikit dalam sejarah, hubungan antara kopi dan buku sebenarnya sudah ada sejak awal. Di abad ke-17, kedai kopi di Eropa sering disebut sebagai “penny universities” universitas murah tempat orang berdiskusi tentang politik, filsafat, dan ilmu pengetahuan.

Tradisi itu juga menemukan bentuknya di Indonesia. Pada masa kolonial, kopi memang lebih dikenal sebagai komoditas perkebunan yang dikirim ke Eropa. Namun di kota-kota besar seperti Batavia dan Surabaya, warung kopi menjadi tempat berkumpulnya pedagang, wartawan, dan kaum pergerakan.

Di Yogyakarta, hubungan antara kopi dan percakapan intelektual terasa bahkan lebih kuat. Kota ini sejak lama dikenal sebagai kota pelajar. Di sepanjang Jalan Kaliurang, Pogung, hingga kawasan Prawirotaman, kedai kopi sering berfungsi sebagai ruang diskusi yang lebih santai dibandingkan kampus.

Pada dekade 2000-an, muncul gelombang baru kedai kopi independen. Salah satu yang sering disebut sebagai pelopor adalah Angkringan Lik Man yang menjadi tempat pertemuan banyak mahasiswa dan seniman. Setelah itu, generasi kedai kopi modern bermunculan menggabungkan konsep roastery, galeri, bahkan toko buku kecil.

Fenomena ini semakin terasa ketika kopi spesialti mulai berkembang di Indonesia sekitar tahun 2010-an. Kedai kopi tidak lagi hanya menjual minuman, tetapi juga pengalaman intelektual: kelas cupping, diskusi buku, hingga pemutaran film dokumenter tentang kopi.

Ruang Literasi Kaliurang, salah satu perpustakaan di Jogja yang cukup lengkap koleksinya. (dok. RLK)

Membaca Kopi

Di sinilah gagasan Contributor Coffee terasa menarik. Tigger Chaturabul tidak melihat kopi sebagai subjek tunggal, melainkan sebagai lensa untuk memahami dunia.

Rak bukunya mencerminkan cara berpikir itu. Sebuah buku anak-anak bisa berdampingan dengan teks teknis tentang ekstraksi espresso. Novel fantasi bertema kafe dapat muncul di samping biografi tokoh industri kopi.

Bahkan cara mereka mengatur buku pun tidak konvensional. Alih-alih menggunakan kategori klasik seperti “sejarah”, “panduan”, atau “bisnis”, Contributor Coffee menggunakan sistem yang disebut “Current Mood”; suasana hati.

Pendekatan ini sebenarnya sangat mirip dengan cara orang memilih kopi di kedai. Kadang kita ingin espresso yang tajam, kadang ingin pour-over yang ringan, kadang cukup kopi tubruk sambil membaca koran.

Membaca, seperti minum kopi, adalah pengalaman yang sangat personal.

Shira Media, Taman Baca dan juga toko buku di bilangan Wedomartani, Sleman. (dok.Instagram)

Mengapa Buku Masih Penting

Di era digital, banyak orang bertanya apakah buku masih relevan. Artikel tentang kopi sekarang bisa ditemukan dalam hitungan detik. Video tutorial menyeduh kopi tersedia di YouTube. Diskusi barista berlangsung di forum online.

Namun buku memiliki sesuatu yang tidak dimiliki media lain: kedalaman waktu.

Sebuah buku merekam pengetahuan pada satu momen sejarah tertentu. Ia menjadi jejak intelektual. Ketika seseorang membaca buku kopi yang terbit sepuluh tahun lalu, ia bisa melihat bagaimana pemahaman tentang ekstraksi atau varietas kopi telah berubah.

Dalam konteks ini, toko seperti Contributor Coffee sebenarnya menjalankan fungsi yang lebih besar dari sekadar bisnis. Ia menjadi semacam arsip budaya.

Solusi Buku, Toko Buku yang ada Kedai Kopinya di Sleman. (dok.solusi buku)

Jogja dan Tradisi Ngopi Sambil Membaca

Jika ide toko buku kopi ini ditempatkan di Indonesia, kota yang paling masuk akal mungkin adalah Yogyakarta. Kota ini memiliki ekosistem yang unik: mahasiswa, seniman, penulis, dan komunitas kopi hidup berdampingan.

Tidak jarang seseorang datang ke kedai kopi bukan hanya untuk minum, tetapi untuk menulis skripsi, membaca novel, atau sekadar berdiskusi sampai larut malam.

Di banyak kedai kopi Jogja, rak buku kecil hampir selalu ada. Kadang berisi buku sastra, kadang buku filsafat, kadang hanya kumpulan zine fotokopian. Rak itu mungkin tidak besar, tetapi ia menciptakan suasana tertentu: bahwa kedai kopi adalah ruang berpikir.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kopi bukan sekadar produk konsumsi. Ia adalah medium sosial. Kopi menciptakan ruang bagi percakapan, ide, bahkan gerakan komunitas.

Interior kedai kopi dengan buku-buku kopi yang menunjukkan budaya ngopi sambil membaca seperti di Jogja.

Melawan Kecepatan

Yang paling menarik dari proyek Contributor Coffee adalah keberaniannya melawan ritme zaman.

Dunia digital mendorong kita untuk membaca cepat, melompat dari satu topik ke topik lain, menggulir layar tanpa henti. Pengetahuan menjadi fragmen-fragmen kecil.

Buku melakukan kebalikannya. Ia meminta waktu. Ia menuntut perhatian.

Membaca buku sambil minum kopi adalah tindakan kecil yang hampir terasa radikal hari ini. Ia memperlambat waktu.

Dan mungkin itulah alasan mengapa toko seperti Contributor Coffee terasa relevan. Ia mengingatkan bahwa di balik industri kopi yang semakin teknis, dengan mesin espresso canggih, grafik ekstraksi, dan kompetisi barista, ada sesuatu yang lebih sederhana: rasa ingin tahu manusia.

Masa Depan Kedai Kopi

Barangkali masa depan kedai kopi bukan hanya tentang menu yang lebih kompleks atau biji kopi yang lebih langka. Bisa jadi masa depan itu justru lebih tenang: sebuah ruang kecil dengan rak buku, aroma kopi, dan percakapan panjang.

Di tempat seperti itu, kopi kembali ke fungsi awalnya sebagai minuman yang menemani pikiran.

Contributor Coffee di Rotterdam mungkin hanyalah toko buku kecil dengan janji temu. Tetapi gagasannya terasa jauh lebih besar. Ia mewakili cara berpikir komunitas kopi yang melihat kopi bukan sekadar minuman, melainkan pintu masuk menuju ilmu pengetahuan, budaya, dan imajinasi.

Dan jika suatu hari Anda duduk di sebuah kedai kopi di Yogyakarta, membuka buku sambil menunggu seduhan pour-over yang perlahan menetes, mungkin Anda sedang melakukan hal yang sama seperti yang dibayangkan Tigger Chaturabul di Rotterdam: merayakan hubungan lama antara kopi, buku, dan waktu yang berjalan lebih pelan. Walaupun di Jogja sudah banyak sekali toko buku indie yang mengawinkan Bersama kedai kopi seperti Dongeng Kopi, Buku Akik, Solusi Buku, Shira Media, Bawa Buku, Warung Sastra, tetapi yang focus hanya menjual buku tentang kopi, sepertinya beluma ada.