
Sejarah hampir selalu berpihak pada mereka yang menang. Nama-nama pemenang diukir, dirapikan, lalu diwariskan dari generasi ke generasi. Sementara yang kalah, sering hanya tinggal bayang, dikenang lewat bisikan yang kian sayup, nyaris redup, lewat cerita yang bertahan karena diulang dari mulut ke mulut.
Syahdan, pada suatu Ketika, bawah bayang-bayang kebesaran Majapahit, ada satu nama yang tak pernah sepenuhnya hilang dari ingatan: Kebo Iwa.
Bagi orang Bali, Kebo Iwa dikenang lebih dari panglima perang. Ia adalah bagian dari tanah itu sendiri. Tubuhnya besar, kekuatannya masyhur, tetapi yang paling ditakuti justru pikirannya. Ia memahami medan, membaca manusia, dan tahu kapan harus bertahan. Tentang kesaktiannya, cerita tumbuh subur di bale-bale dangin, dituturkan sebagai pengantar tidur cerita epos pengorbanan untuk persatuan.
Orang-orang bilang, konon ia mampu menghadirkan mata air hanya dengan menghujamkan jari ke tanah. Entah benar atau tidak, yang jelas air-air itu ada dan menghidupi banyak orang. Ironisnya, hidupnya sendiri kemudian berakhir terkubur di bumi yang sama, begitu ia diminta menghadirkan air membikin sumur.
Majapahit pernah membentur tembok tebal di Blambangan. Pasukan Bhayangkara yang misuwur tangguh itu, tak mampu menembus pertahanan di bawah komando Kebo Iwa. Di titik itulah Gajah Mada menyadari realitas pahit. Ia memahami sesuatu yang jarang diakui oleh para penakluk: tidak semua perlawanan bisa ditekuk dengan adu pedang. Ada lawan yang harus dihadapi dengan cara lain.
Maka dirangkailah tipu muslihat. Atas nama perdamaian, Kebo Iwa diundang ke Jawa. Dijanjikan persahabatan, seserahan, bahkan seorang putri sebagai pengikat. Ia datang tanpa curiga. Ketika diminta menggali sumur pekerjaan yang sejatinya merendahkan martabat seorang ksatria,namun ia tetap melakukannya. Tidak ada amarah, tidak ada prasangka. Hingga tanah runtuh menutup tubuhnya. Batu dan kapur ditimbunkan. Kebo Iwa dikubur hidup-hidup.
Namun kisah itu tidak berhenti di sana. Dalam cerita yang bertahan hingga kini, ia bangkit dari timbunan murka dan terluka. Pertemuan terakhirnya dengan Gajah Mada bukan sekadar adu tenaga, melainkan benturan dua kehendak besar. Maka di sanalah tragedi itu mencapai puncaknya. Ketika Gajah Mada menyampaikan obsesinya tentang Nusantara yang satu, Kebo Iwa memilih berhenti melawan.
Kebo Wandira, nama lainnya itu melihat sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Ia memahami harga yang harus dibayar oleh sejarah. Maka ia memilih muksa. Bukan karena kalah, melainkan karena sadar: persatuan selalu membutuhkan korban, dan sering kali korban itu adalah mereka yang paling kuat.
Kebo Iwa tak mati sebagai pecundang. Ia gugur sebagai tumbal. Namanya tidak diukir sebagai pemenang, tetapi tanpa dirinya, kisah tentang persatuan itu tak pernah benar-benar utuh.
Hari ini, ingatan tentang keteguhan itu kami rawat dengan cara yang sederhana: lewat secangkir kopi. Kebo Iwa Multiple Origin tidak dimaksudkan sebagai simbol yang berisik, melainkan sebagai pengingat yang tenang.
Seruput pertamanya menghadirkan asam jeruk yang segar, sedikit mengejutkan layaknya langkah-langkah Kebo Iwa yang kerap tak terduga. Tubuhnya berada di tengah, tidak berat, tidak ringan, dengan akhir yang bersih dan jujur. Aromanya manis dan kuat, mengingatkan pada mata air yang konon pernah ia pancarkan dari berbagai titik di tanah Bali.
Menyesap kopi ini tidak untuk mengajak romantisasi masa lalu. Ini hanya cara kecil untuk mengingat bahwa sejarah tidak pernah berdiri sendirian. Ada jiwa-jiwa besar yang memilih larut, agar yang lain bisa menyebut dirinya utuh.