
Syahdan, di tepian Sungai Tami, tempat air berarak pelan membawa bisik zaman dan rahasia yang lebih tua dari nama-nama, matahari lazimnya tenggelam tanpa gelora. Senja turun, lalu larut, sebagaimana hari-hari lain berlalu. Namun pada sebuah sore, menjadi bukan sore biasa bagi Towjatua. Kegelisahan berdenyut di dadanya, mengalahkan deras arus sungai. Di dalam gubuk beratap daun, istrinya terbaring lemah, hamil tua, sementara persalinan tak kunjung menemukan jalan. Waktu seakan enggan bergerak; takdir menggumpal di tenggorokan.
Ketika kata-kata tak lagi sanggup menampung doa, Towjatua melangkah ke tepi Tami. Ia tidak membawa jala, tidak pula tombak. Ia datang dengan tubuh yang terkuras dan harap yang diserahkan sepenuhnya. Tiba-tiba dihadapannya, air sungai berdesis lirih, lalu terbelah, seolah membuka pintu antara dunia manusia dan dunia penjaga. Dari kedalaman air, muncul Watuwe buaya penjaga, penunggu aliran, makhluk yang umurnya melampaui ingatan manusia. Matanya berkilau keemasan, bukan cahaya buas, melainkan sinar kebijaksanaan alam yang tak pernah tergesa dan tak pernah ingkar.
“Apa yang kau ratapi, Anak Manusia?” suara Watuwe berat, menggulung di permukaan air seperti gema masa silam.
Towjatua bersimpuh. Begitulah di tanah Papua, manusia tidak selalu berdiri sebagai penguasa. Ada saatnya mereka sejajar dengan sungai, hutan, dan makhluk yang menjaganya untuk saling mendengar, saling percaya. lantas, dengan kuasa yang tak sampai pada nalar biasa, Watuwe turun tangan. Ia menuntun persalinan itu sebagaimana alam menuntun kelahiran pagi. Maka pecahlah tangis seorang bayi laki-laki, membelah sunyi hutan, menandai datangnya kehidupan baru.
“Ia kelak menjadi pemburu yang tangguh,” ujar Watuwe sambil mengulum senyum, menatap bayi itu lama. “Namanya akan menjangkau sejauh kepak cendrawasih menyibak angin.”
Syukur menuntut ikatan. Di atas lumpur sungai dan aliran air yang menjadi saksi, sebuah sumpah ditanamkan. Towjatua dan seluruh keturunannya berjanji menjaga alam, menghormati sungai, dan memperlakukan buaya sebagai saudara tua. Bukan lantaran gentar, melainkan karena ingatan yang ditancapkan; bahwa hidup pernah diselamatkan oleh tangan alam itu sendiri. Maka lahirlah sebuah perjanjian tak tertulis yang mengikat manusia dan semesta jauh sebelum manusia mengenal kata ekologi.
Ribuan musim berlalu. Nama Towjatua dan Watuwe hidup dalam tutur, berpindah dari mulut ke mulut, dari api unggun ke api unggun. Hari ini, jejak persekutuan itu tidak hanya berdiam dalam cerita. Ia menjelma dalam hasil bumi yang tumbuh di tanah yang sama meresap ke dalam setiap butir kopi yang kami warisi dan beri nama Towjatua.
Menyesap kopi ini bukan cuman meminum seduhan dari Dalangan. Ia adalah cara lain menyentuh mitos. Karakternya pekat dan teguh, seperti hati Towjatua saat berdiri di ambang kehilangan. Namun keteguhan itu hadir dengan tenang. Keasamannya rendah, jinak, serupa permukaan Tami di pagi hari ketika kabut masih enggan beringsut.
Di lidah, rasa kacang dan gurih membuka perjalanan membumi, kukuh. Aksen herbal menyusul, mengingatkan pada hutan hujan setelah badai reda. Sekilas jeruk hadir sebagai penanda hidup, lalu cokelat hangat menutup dengan kelembutan. Di penghujung sesapan, aroma bunga tropis muncul perlahan, samar namun menetap bak wangi bunga liar di tempat Watuwe dahulu menampakkan diri.
Minum kopi ini adalah mengingat sumpah tua. Tentang hubungan yang tak semestinya terputus antara manusia, alam, dan makhluk penjaga yang tak kasatmata. Tentang keselarasan yang akan terus diwariskan sekental, sedalam, dan seharum kopi dari bumi paling timur nusantara.