Dalam Episode 19 Tandang, Renggo Darsono berbincang dengan Hana Setyo, agronomis di Ontosoroh Coffee. Percakapan sepanjang hampir satu setengah jam itu seperti membuka pintu belakang industri kopi—wilayah yang jarang disorot, tetapi justru menentukan segalanya: kebun.
Hana tidak datang dari jalur romantik para pecinta kopi yang jatuh hati pada aroma dan suasana kedai. Ia adalah sarjana pertanian yang justru memulai dari hilir. Ia pernah menjadi penyeduh, mengikuti kompetisi barista, menerima kritik juri, dan belajar membaca rasa dengan disiplin. Kompetisi, baginya, adalah sekolah paling cepat: tak ada ruang untuk asumsi, hanya presisi dan evaluasi.
Namun dari sana muncul kegelisahan. Ia mampu menjelaskan rasa di cangkir, tetapi belum sepenuhnya memahami asal-usulnya. Mengapa keasaman muncul berbeda? Mengapa satu lot terasa lebih manis dari yang lain? Pertanyaan-pertanyaan itu membawanya kembali ke hulu—ke tanah, akar, dan proses tumbuh. Ia ingin memahami sebab, bukan sekadar gejala.
Sebagai agronomis, perannya melampaui pemeriksaan daun atau dosis pupuk. Hana mengawal traceability: ketertelusuran kopi sejak koordinat kebun, profil petani, praktik budidaya, hingga perjalanan ekspor. Ia menilai kesuburan tanah, menganalisis kebutuhan nutrisi, dan menyusun rekomendasi yang realistis bagi petani. Pendampingannya menjangkau Flores, Temanggung, hingga Jawa Barat. Di saat yang sama, ia mendorong transparansi harga. Petani, menurutnya, berhak mengetahui nilai kopinya ketika tiba di pasar Eropa—bukan sekadar menerima angka di awal rantai.
Ketika harga kopi melonjak, publik kerap menyederhanakan persoalan: tengkulak, spekulan, atau tren global. Hana memaparkan gambaran yang lebih berlapis. Produktivitas menurun akibat iklim yang tak menentu. Curah hujan ekstrem mempercepat pematangan buah, tetapi menurunkan rendemen—biji menjadi kurang padat, kandungan gula tak berkembang optimal. Biaya produksi ikut naik: upah tenaga kerja, kebutuhan pengeringan lebih lama, hingga risiko gagal panen yang meningkat. Harga, pada akhirnya, adalah akumulasi variabel ekologis dan ekonomi yang saling terkait.
Lalu soal terroir. Mitos populer mengatakan kopi yang ditanam dekat jeruk akan berasa jeruk. Hana menanggapinya dengan tenang. Rasa tidak berpindah secara literal dari satu tanaman ke tanaman lain. Yang terjadi adalah pembentukan mikro-iklim: pohon naungan, komposisi tanah, interaksi akar, mikroorganisme, serta kelembapan menciptakan kondisi tumbuh yang khas. Dari situ berkembang senyawa volatil yang kemudian kita tafsirkan sebagai “citrusy” atau “floral”. Terroir bukan dongeng, tetapi juga bukan sihir; ia adalah hasil interaksi ekologi yang kompleks.
Hana tetap optimistis pada masa depan kopi Indonesia. Varietas seperti Komasti dan Sigararutang menunjukkan daya adaptasi yang menjanjikan terhadap perubahan iklim. Anak muda mulai kembali ke desa dengan pendekatan berbasis data, teknologi, dan strategi pemasaran yang lebih matang. Tantangan konsistensi memang belum selesai, tetapi justru di sanalah peran agronomis menjadi krusial—menjembatani ilmu, praktik, dan keberlanjutan.
Di akhir percakapan, Hana menyederhanakan segalanya dalam satu kata: fokus. Di kebun, di ruang sangrai, maupun di bar, kedalaman lahir dari ketekunan pada satu peran. Kopi bukan sekadar minuman atau komoditas. Ia adalah hasil kerja sunyi yang terjaga—antara tanah, cuaca, dan manusia yang memilih setia pada proses, meski jarang terlihat.