Di Balik Cerita Dinding:Daru, Mural, dan Jejak Rempah di Rempah Raminten

Di Ngampilan, Yogyakarta, berdiri sebuah kedai yang tak sekadar menyeduh kopi, tetapi juga meracik ingatan. Namanya Rempah Raminten. Begitu melangkah masuk, perhatian tak hanya tertuju pada aroma cengkeh dan kayu manis yang menguar dari cangkir, melainkan juga pada dinding-dindingnya. Di sana, warna berbicara. Ia berkisah tentang kapulaga, pala, dan lada; tentang laut yang bergelombang; tentang kapal-kapal dagang yang berlayar jauh sebelum kita mengenal kata “globalisasi”.

Di balik mural itu, ada tangan dan gagasan Nugroho Daru.

Lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini telah akrab dengan garis sejak kanak-kanak. Dari coretan di dinding rumah hingga sketsa logo band di buku sekolah, menggambar baginya bukan sekadar kegemaran, melainkan bahasa pertama yang ia kuasai. Kini ia mengelola studio desain Heroglyph, namun mural memberinya medan yang berbeda—lebih terbuka, lebih menantang. Di hadapan tembok, ia tidak hanya bekerja dengan pikiran, tetapi juga dengan tubuh. Ada jarak yang harus dijangkau, permukaan yang tak selalu rata, dan keputusan-keputusan yang tak bisa dihapus dengan satu klik.

Berbeda dengan ilustrasi digital yang presisi dan terkendali, mural menuntut keberanian menerima ketidaksempurnaan. Daru memilih teknik grid manual alih-alih proyektor. Pilihan itu bukan semata teknis, melainkan sikap. Ia ingin menjaga intuisi tetap hidup: mencampur warna yang tak sepenuhnya bisa diprediksi, “mendengar” tekstur dinding sebelum kuas menyentuhnya, dan membiarkan spontanitas mengambil peran. Di situ, seni menjadi peristiwa—sesuatu yang terjadi sekali, dengan risiko dan kejutan yang menyertainya.

Konsep mural di Rempah Raminten tidak berhenti pada keindahan visual. Ia dirancang sebagai narasi yang bekerja dalam diam. Di area bar, ilustrasi penyajian kopi mempertegas identitas kedai sebagai ruang temu dan percakapan. Sementara di sudut rempah, tergambar peta jalur perdagangan lengkap dengan ilustrasi kapal VOC—penanda bahwa rempah bukan sekadar bumbu dapur. Ia pernah menjadi komoditas yang menggerakkan ekspedisi, memicu perebutan, dan membentuk sejarah Nusantara. Dengan demikian, dinding itu tidak hanya menghias ruang, tetapi juga mengundang refleksi.

Daru mengakui, banyak gagasannya tumbuh dari bacaan. Ia menyebut Naga Bumi karya Seno Gumira Ajidarma sebagai buku yang menggeser cara pandangnya tentang proses dan reputasi. Dunia surealis Budi Darma pun memberinya keberanian bermain simbol. Membaca, baginya, adalah latihan memperluas imajinasi; mural adalah cara lain menuliskan imajinasi itu di ruang publik.

Tentang kecerdasan buatan, ia tidak merasa terancam. Manusia, katanya, adalah produsen tanda; mesin hanya mengolah yang sudah ada. Sentuhan manual memiliki “rasa”—seperti batik tulis yang berbeda dari batik cetak. Ada jeda, ada napas, ada jejak tubuh yang tak tergantikan.

Pada akhirnya, mural di Rempah Raminten bukan sekadar latar swafoto. Ia adalah pengingat yang halus namun tegas: bahwa secangkir kopi rempah yang kita nikmati hari ini berdiri di atas sejarah panjang perdagangan, perjumpaan budaya, dan perebutan makna. Dinding itu tidak berteriak. Ia berbisik. Dan bila kita cukup pelan menyesap, mungkin kita akan mendengar bisikan itu—tentang masa lalu yang belum selesai kita pahami, dan tentang seni yang terus mencari cara untuk menghidupkannya kembali.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.