Di Antara Arus Mudik dan Secangkir Kopi

Gerbang Tol Purwomartani dibuka di mudik tahun ini. dok. kompas.com

Libur Lebaran selalu datang membawa kabar yang sama: orang-orang pulang. Atau setidaknya, orang-orang bergerak. Tidak betah diam di tempat yang sama seperti hari-hari biasa. Jalanan pun penuh. Kendaraan beriringan seperti barisan semut yang menemukan gula. Tubuh lelah, pikiran melayang, dan ingatan sering kali melaju lebih cepat daripada roda yang berputar di aspal.

Kita menyebutnya mudik. Seolah itu sekadar perjalanan dari kota ke kampung, dari titik A ke titik B. Padahal yang ditempuh bukan hanya jarak. Ada masa lalu yang ikut menumpang di jok belakang. Ada relasi yang tak pernah benar-benar putus. Ada pula keinginan samar, diam-diam, nyaris malu-malu untuk kembali menjadi seseorang yang dulu pernah kita kenal.

Sejak jalan tol menghubungkan Solo dan Jogja, suasana di Dalangan berubah. Jalanan yang biasanya lengang kini mendadak riuh. Dari gerbang tol Prambanan, kendaraan meluber seperti air yang mencari celah. Mereka menyusup ke jalan kecil, jalan alternatif, bahkan jalan tikus yang sebelumnya hanya dikenal oleh warga sekitar.

Gerbang tol Purwomartani memang sudah dibuka, tetapi belum sepenuhnya beroperasi. Ia baru menerima kendaraan yang keluar dari Jogja, belum dari arah Solo. Maka kendaraan pun mencari jalan sendiri melintas gang, memotong kampung, menautkan satu jalan besar dengan jalan besar yang lain.

Di tengah riuh kendaraan itu, kedai-kedai kopi menjalani nasibnya masing-masing. Ada yang memilih tutup, memberi jeda pada mesin dan tubuh. Ada pula yang tetap membuka pintu.

Orang-orang singgah bukan semata untuk minum kopi.

Ada yang menunggu arus kendaraan reda sebelum melanjutkan perjalanan. Ada yang menunda pergi karena tabungan tahun ini tak cukup panjang untuk perjalanan jauh. Ada pula yang datang untuk sebuah janji lama: bertemu kawan masa sekolah yang kebetulan pulang di musim yang sama.

Di meja-meja kecil itu, percakapan sering lahir tanpa rencana. Tawa datang tanpa aba-aba. Rindu yang lama menggantung akhirnya menemukan tempat mendarat.

Kopi, seperti yang kita tahu, punya bakat yang agak aneh. Ia mampu membuat yang asing terasa akrab. Dan yang akrab terasa tidak terlalu menyesakkan.

Ramadan dan Lebaran selalu membawa keriuhan khasnya sendiri: silaturahmi berlapis-lapis, tawa yang renyah, dan pelukan hangat yang terasa tak pernah cukup. Namun setelah semuanya lewat, manusia biasanya membutuhkan jeda. Bukan untuk melupakan, melainkan untuk menata napas.

Kedai kopi, dengan lampu yang tak terlalu terang dan kursi yang tak terlalu nyaman, sering kali menjadi tempat yang pas untuk itu.

Ketika banyak tempat memilih menutup pintu, Dongeng Kopi hampir selalu menemukan alasan kecil untuk tetap membuka. Bukan karena ingin melipatgandakan pendapatan. Bukan pula karena merasa paling rajin.

Alasannya sederhana: pintu kami sering diketuk.

Ada yang bertanya, “Buka, tidak?”

Ada yang datang jauh-jauh hanya untuk memastikan.

Ada pula yang menjadikan tempat ini sebagai jujugan kecil di sela perjalanan panjang.

Maka biasanya, setelah setengah hari Lebaran berlalu, kami membuka pintu. Menjadi teman bagi perjalanan yang belum selesai pada hari pertama. Menjadi tempat singgah bagi mereka yang datang terlambat dalam prosesi mudik. Atau sekadar menemani orang-orang yang baru merasakan lelah setelah seluruh keramaian usai.

Kami membuka pintu pada Lebaran versi pemerintah, dan memilih menutup setengah hari pada Lebaran hari Jumat. Saat buka, ada sedikit tuslah yang mungkin terasa mengganggu. Namun begitulah hidup bahkan untuk secangkir kopi pun, kadang ada biaya tambahan yang tak bisa dihindari.

Dan di antara segala yang belum selesai itu, jika seseorang dapat duduk sejenak, menyeruput kopi, lalu merasa sedikit lebih pulang daripada sebelumnya barangkali itu sudah cukup.

Jam buka kami tidak selalu sama. Biasanya kami kabarkan lewat story di Instagram. Jadi, sebelum berangkat, ada baiknya menengok sebentar.

Siapa tahu pintu sedang terbuka.
Dan secangkir kopi sedang menunggu.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.