Dalam sebuah percakapan santai di program Tandang, Renggo Darsono duduk berhadapan dengan Abdullah Herison—akrab disapa Heri—sosok di balik Suhka Coffee Ground. Percakapan itu mengalir tanpa pretensi. Namun di balik nadanya yang ringan, tersimpan pembacaan yang tajam tentang bagaimana sebuah bisnis kopi dirintis, runtuh, lalu dibangun kembali dengan kepala yang lebih dingin.
Heri memulai langkahnya pada 2014 melalui Miwiti Kopi di Hotel Pop Sangaji, Yogyakarta. Niatnya sederhana: menyediakan ruang bertemu klien ketika ia masih bekerja sebagai tenaga penjualan. Kedai itu bukan mimpi besar yang dirancang bertahun-tahun, melainkan solusi praktis atas kebutuhan sehari-hari. Namun dunia usaha jarang memberi ruang bagi romantisme. Satu setengah tahun pertama menjadi fase paling getir—usaha itu bangkrut.
Pada masa itu, ia dan istrinya menjaga kedai berdua. Tanpa staf, tanpa kemewahan. Mereka belajar meracik kopi sekaligus menata pembukuan, melayani pelanggan sekaligus menahan cemas. Dari fase inilah Heri menyerap pelajaran yang tak diajarkan buku manajemen mana pun: bertahan adalah strategi. Ketahanan mental bukan aksesori, melainkan fondasi.
Untuk menutup kerugian, Heri mengambil keputusan yang bagi sebagian orang terasa mundur: ia masuk ke perusahaan kopi besar, Bon Cafe/Caswell’s, dan bertugas membuka pasar di Yogyakarta serta Jawa Tengah. Di sanalah ia melihat industri dari dalam. Ia belajar tentang distribusi, kontrol kualitas, negosiasi harga, hingga menjaga relasi dengan klien. Pengalaman itu memberinya jarak—dan sekaligus perspektif. Ia tidak lagi sekadar pemilik kedai kecil, melainkan pelaku yang memahami rantai bisnis secara menyeluruh.
Ketika merasa cukup matang, Heri kembali berdiri sendiri. Namun kali ini, ia tidak mengulang pola lama. Ia merancang sesuatu yang lebih sistemik: ekosistem. Mesin Kopi Jogja lahir dari problem sederhana—mesin yang tidak laku terjual. Alih-alih merugi, ia mengubahnya menjadi model sewa. Arus kas pun bergerak. Mels, roastery yang namanya diambil dari sang istri, menjadi dapur produksi sekaligus penjaga konsistensi rasa. Miwiti Hospitality hadir sebagai lini konsultasi pembukaan kedai. Satu unit menopang unit lain. Risiko tersebar, beban tidak bertumpu pada satu pintu.
Di Suhka Coffee Ground, pendekatannya makin terasah. Kedai ini beroperasi 24 jam dan menyasar mahasiswa—segmen yang peka harga sekaligus loyal pada kenyamanan. Media sosialnya dikurasi agar terasa muda dan tidak intimidatif. Ia mengusung tagline “Tim Kopi dan Gula” sebagai pernyataan sikap: tak ada penghakiman atas selera. Bagi Heri, idealisme harus ditopang kapital. Jika modal terbatas, sasar dulu pasar yang besar dan stabil. Setelah napas usaha teratur, barulah idealisme diberi ruang.
Optimismenya terhadap industri kopi bukanlah euforia kosong. Ia melihat kopi telah menjadi kebutuhan keseharian, bukan sekadar tren musiman. Namun ia selalu kembali pada hal-hal mendasar: pencatatan yang rapi, pengelolaan tim, serta mental yang tangguh. “Mental harus sekuat baja,” ujarnya.
Di tengah industri yang kerap terpesona oleh estetika dan jargon specialty, Heri menghadirkan pengingat yang sederhana sekaligus penting: bisnis bukan hanya soal rasa, melainkan daya tahan. Dan daya tahan tidak lahir dari keberuntungan, melainkan dari kegagalan yang dikelola dengan jernih—pelan-pelan, konsisten, dan tanpa kehilangan akal sehat.